Seniman ala Kampung Seni Nitiprayan

 

Kampung Seni Nitiprayan tumbuh subur di tengah-tengah tradisi berkesenian yang sangat kental di Yogyakarta. Kampung ini bisa dikatakan sebagai kampungnya para seniman. Anggapan ini tak berlebihan mengingat ada anekdot yang berlaku di Yogyakarta bahwa seseorang belum dikatakan seniman jika belum pernah tinggal di Kampung Nitiprayan.

Menurut seorang pengamat budaya Jawa, Raden Pangeran Adipati (RPA) Suryanto Sastroatmojo, asal-usul kampung Nitiprayan diduga berasal dari nama Ngabehi Nitipraya, seorang abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan sekaligus pimpinan sebuah pasukan kecil yang kemudian dipercaya sebagai “lurah” di daerah yang kini dikenal dengan Nitiprayan. Jabatan ini disandang oleh Ngabehi Nitipraya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang memerintah pada tahun 1877 – 1921.

Pada awalnya, kampung Nitiprayan tak ubahnya seperti kampung-kampung di wilayah Bantul, Yogyakarta. Hanya satu pembeda yang dimiliki oleh kampung Nitiprayan, yaitu banyaknya seniman yang tinggal di kampung ini. Perubahan itu terjadi ketika seorang perupa bernama Ong Hari Wahyu, yang telah tinggal di kampung Nitiprayan sejak tahun 1979, mempunyai gagasan untuk membuat kampung Nitiprayan sebagai panggung seni. Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang akrab disapa Ong ini, mencoba membuat sebuah terobosan baru dengan mempolarisasikan sebuah kampung yang sarat nuansa seni, mulai dari penduduk, lingkungan sekitar, sampai kegiatan keseharian.

Ong menilai bahwa kampung Nitiprayan memang cocok dijadikan sebagai panggung seni karena sejak zaman dulu kampung ini memang telah dikenal sebagai permukiman para seniman di Yogyakarta, baik yang indekost, mencari rumah, bahkan memperistri penduduk setempat. Beberapa seniman yang pernah bermukim di kampung ini antara lain seniman kethoprak seperti Karto Togen, Ngadimin Hadi Prabowo alias Darso, juga Atmo Sanyoto atau yang lebih dikenal sebagai Atmo Sipun (semua telah almarhum), almarhum pelawak Pak Bendhot Srimulat, beberapa perupa seperti Dadang Christanto, Entang Wiharso, Made Sukadana, Faisal, Budi Ubrux, Djoko Pekik, Made Sukadana, Kuss Indarto, Putu Sutawijaya, Ong Hari Wahyu, Hedi Hariyanto, Teguh Wiyatno, Gusti Ngurah Udiantara, Yogie Setyawan, praktisi multimedia Bambang J.P., teaterawan Heru Kesawamurti, Whani Darmawan, koreografer Lies Apriani, komunitas Rumah Panggung, aktivis LSM Toto Rahardjo, dan sederet nama lainnya.

Nuansa seni yang telah terlanjur melekat di kampung Nitiprayan coba diangkat oleh Ong dan kawan-kawan untuk membuat semacam panggung seni. Langkah awal yang dilakukan Ong dan beberapa seniman lainnya adalah mengajak para penduduk asli dan pendatang untuk membuat beberapa wadah kesenian, di antaranya Terbangklung (Terbang dan Angklung) dan karawitan.

Berkat kerja keras inilah, gagasan Ong untuk membuat panggung seni dengan media kampung akhirnya terealisasi. Kampung yang semula biasa saja kemudian disulap menjadi museum seni dengan dukungan para penduduk sekitarnya. Meminjam bahasa Kuss Indarto, seorang kurator seni rupa dan pemerhati sosial budaya, Ong dan kawan-kawan mencoba mengubah kampung Nitriprayan menjadi panggung, galeri sekaligus laboratorium kreatif. Jadilah nama Kampung Seni Nitriprayan sebagai sebuah panggung seni yang khas di Kabupaten Bantul.

Semangat kemandirian dalam mendirikan sebuah kampung seni terlihat sangat menonjol di Nitiprayan. Para seniman ini senantiasa mengajarkan kepada para penduduk sekitar untuk memanfaatkan barang-barang yang ada sebagai medium seni. Barang-barang tersebut misalnya daun atau barang bekas. Hal ini membentuk jiwa kemandirian dalam berkesenian yang mengikis sifat konsumtif.

Lewat kemandirian inilah Kampung Seni Nitiprayan justru mempunyai nilai khas tersendiri. Hal ini terbukti ketika menggelar acara Bambu Art tahun 2000-an yang dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Duta Besar Kanada. Para tamu penting ini tak disambut dengan karpet merah, kursi yang berukir ataupun minuman dalam botol. Mereka disambut dengan pakaian seadanya, makanan kampung seperti umbi-umbian atau kacang. Minuman pun hanya disajikan dalam bungkus plastik. Bahkan Dubes Kanada ini mengaku kaget, lantas melepas baju dan hanya memakai kaos dan ikut terjun ke sawah.

Pertahankan Tradisi

Meskipun berada tak jauh dari jantung Kota Yogyakarta (hanya berjarak sekitar 3 km arah barat daya Keraton Yogyakarta), Kampung Seni Nitripayan masih mempertahankan nilai-nilai tradisional meskipun semakin dihimpit oleh suasana modernitas dan nuansa kota besar. Nilai-nilai tradisional yang masih kental adalah rumah-rumah tradisional Jawa, terutama berjenis limasan yang bersahaja dengan berbagai variasinya, gotong-royong, dan unggah-ungguh/ tepo seliro (sopan-santun atau budaya saling menghormati), dan etika bertetangga.

Lewat semangat unggah-ungguh/ tepo seliro inilah beberapa kebiasaan yang dekat dengannya juga turut serta terbawa. Sebut saja budaya gotong-royong yang tetap bisa eksis dan dipertahankan oleh para penduduk di kampung ini.

Anggapan kampung seni bukan semata sebagai suatu jargon tetapi merupakan bukti nyata yang absah. Selain karena Nitriprayan terkenal dengan permukiman para seniman, julukan tersebut juga datang karena penduduk kampung Nitiprayan yang semula adalah penduduk biasa, diubah 180 derajat menjadi sebuah komunitas seniman. Segala lapisan masyarakat, baik penduduk asli maupun pendatang yang semula buta akan seni kini menjadi pelaku dan penggiat seni di Bantul, Yogyakarta. Beragam acara seperti festival seni dan gelaran kebudayaan kerapkali diadakan di kampung ini.

Kampung seni Nitiprayan tidak hanya menyuguhkan para seniman yang memang benar-benar mengabdikan diri di jalur seni, melainkan juga menampilkan kreatifitas berkesenian dari para penduduk biasa yang sebelumnya sangat buta akan seni. Mereka inilah yang kemudian diarahkan dan dibimbing oleh para seniman untuk masuk menjadi bagian dari sebuah masyarakat seni. Hal inilah yang menjadi nilai khas tersendiri di kampung Seni Nitiprayan, yaitu para penduduk yang ikut terlibat dalam dunia seni, meskipun mereka pada dasarnya bukan seniman.

Hasilnya adalah sebuah suguhan berkesenian secara jujur dari penduduk. Dengan memanfaatkan peralatan di sekitar permukiman, mereka ini mengekspresikan jiwa seni yang mereka punya.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s