Gelap Pasti Sirna

 

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang).

Demikian cungkilan buku karangan Armin Pane yang terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku yang begitu penuh dengan pemikiran Kartini tentang berbagai persoalan sosial budaya Indonesia pada zamannya. Kartini membuka cakrawala melalui kunci yang sederhana yakni kemampuan baca tulis. Lewat kemampuannya itu, ia bisa berbagi pemikiran dengan Rosa Abendanon, sahabat penanya, dimana mereka saling bertukar pikiran lewat surat-suratnya. Surat-surat yang sarat pemikiran itulah hasil refleksi dan diskusi Kartini, yang sampai saat ini masih dibaca dan terus menanamkan kesadaran pembacanya.

Sayangnya saat ini belum semua penduduk memiliki kesadaran seperti Kartini. Bahkan setelah puluhan tahun Kartini tiada, masih ada juga anggota masyarakat Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis. Padahal kemampuan membaca dan menulis merupakan prasyarat untuk bisa bertahan hidup dalam era modern.

Sekedar informasi, tahun 2011 ini,  8,5 juta penduduk Indonesia masih terjebak dalam kebutaaksaraan. Yang memprihatinkan 60 persen dari jumlah tersebut didominasi kelompok perempuan.

Masalahnya adalah kebutaaksaraan lekat dengan kemiskinan. Bayangkan saja, semua sistem sosial, ekonomi dan kebudayaan berangkat dari huruf dan angka. Untuk mendapatkan kartu penduduk, seseorang harus mengisi formulir di Kelurahan. Tanpa mendapatkan bantuan, pastilah sulit mereka tercatat secara administrasi negara. Buta huruf dan angka adalah salah satu persoalan kemiskinan dan kesejahteraan.

Boleh jadi ilustrasi paling menarik adalah apa yang dialami oleh Adang, pria berusia 68 tahun asal Tasikmalaya yang hidup bersama keluarganya. Adang hidup bersama istrinya Anah (70) dan anaknya Icah (30) beserta suami Dede Zahidi (35). Adang telah memiliki dua cucu. Mereka tinggal terpencil ditengah kebun jauh dari pemukiman penduduk. Dirumahnya gelap karena tidak ada aliran listrik.

Yang memprihatinkan adalah Adang sekeluarga tidak mampu membaca huruf. Mereka memang tidak bersekolah karena keterbatasan biaya. Cucunya, Rendi (8) tidak bersekolah meski sudah seharusnya masuk sekolah dasar. Orang tuanya tidak mendorong Rendi bersekolah, toh mereka juga tidak bersekolah sebelumnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Adang mencari kayu bakar di hutan. Ia menjual kepada warga dengan harga  Rp 10 ribu per ikatnya, uang tersebut hanya mampu membeli beras 1 kilogram  di warung, dengan harga Rp 7 ribu per kilogramnya. Bila tidak mampu membeli beras ia menggantinya dengan singkong. Adang mengaku hanya sanggip membeli beras seminggu tiga kali.

Tetapi bukankah ada raskin dan berbagai tunjangan untuk orang miskin? Adang tidak mendapat beras raskin. Mungkin persoalan kebutaan huruf secara tidak langsung menjadi penyebabnya. Ia tidak memiliki informasi bahwa pemerintah memberikan bantuan untuk masyarakat miskin. Bukan hanya beras, namun juga untuk jaminan kesehatan, pendidikan dan pinjaman lunak.

 

HDI

Sejak Amartya Send an Mahbub Ul Haq secara bersama-sama mendorong penghitungan nilai-nilai pembangunan yang berkeadilan, dunia semakin dituntut untuk lebih semakin memperhatikan aspek pembangunan dibanding sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi belaka. Semua aspek yang mendorong tumbuhnya kemanusiaan dimasukkan dalam satu indeks yang kemudian biasa kita kenal dengan sebutan Human Development Report (HDR).

Tahun 2007, posisi Indonesia dalam HDR tidaklah bagus.  Sebagai negara demokrasi besar yang terus mengejar cita-cita reformasi, Indonesia hanya berada pada peringkat 107 dari 177 negara. Posisi Indonesia itu tidak bisa dibilang prestasi yang baik karena masih ada pekerjaan rumah yang besar yakni tingginya angka buta aksara. Ketika itu baru 90 % penduduk Indonesia berusia 15 tahun keatas yang terbebas dari masalah buta aksara. Sisanya, tentu masih terjebak pada kebingungan akan huruf dan angka. Yang lebih parah, mereka terjebak dalam kemiskinan, seperti  kasus Adang.

Tiga tahun selanjutnya, meski peringkat HDI Indonesia masihlah sama tetapi adult literacy rate sudah naik menjadi 92%. Memang berkesan terlalu sedikit yakni dalam tiga tahun mampu menaikkan masyarakat yang melek huruf sebesar dua persen, tetapi bila ditinjau dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa, tentu jumlahnya menjadi sangat besar. 8,5 juta penduduk diperkirakan masing termasuk dalam kelompok buta aksara dan 5,1 juta jiwa diantaranya adalah perempuan. Bila menilik dari sisi sebarannya, maka daerah-daerah yang tergolong jauh dari pusat dan memiliki pembangunan terbelakang memiliki tingkat buta huruf yang tinggi. Provinsi Papua, NTT, NTB dan Sulawesi Selatan adalah contohnya. Pengecualian adalah daerah Jawa Barat yang terhitung cukup tinggi juga.

Pentingnya kemampuan membaca dan menulis dalam masyarakat modern tidak terelakkan lagi. Semua simbol-simbol kebudayaan masyarakat saat ini dikembangkan dalam bentuk tulisan dan aksara. Kemampuan membaca simbol-simbol masyarakat itulah yang membawa masyarakat terbebas dari jebakan kemiskinan. Yakni lingkaran kemiskinan ala F.Nuscheler. Sekedar mengingatkan, berbeda dengan lingkaran setan kemiskinan ala Nurske, Nuscheler membangun tesis kemiskinan dalam tiga sumbu yakni kesehatan, pendidikan dan modal.

Lingkaran pertama berpangkal dari gejala kurangnya konsumsi yang menyebabkan sakit kurang gizi, yang selanjutnya menimbulkan penyakit, dampak dari sakit adalah menurunnya dan terbatasnya kapasitas manusia. Lingkaran kedua bertolak dari tingkat pendapatan yang rendah dan menimbulkan tabungan rendah, dan berdampak pada investasi yang rendah. Artinya lingkaran kedua mirip dengan lingkaran kemiskinan ala Nurske. Lingkaran ketiga dimulai dari tingkat pendapatan yang rendah. Namun pendapatan yang rendah berdampak pada tingkat pendidikan yang rendah, efeknya adalah produktivitas rendah dan berlanjut pada produksi serta pendapatan yang rendah.

Menurut Hans H Munker, seorang ahli pembangunan internasional dari Universitas Marburg Jerman, setiap anggota masyarakat perlu mengetahui informasi lingkaran kemiskinan tersebut. Dengan menyadari adanya lingkaran kemiskinan yang ada dalam masyarakat maka mereka akan mencari cara untuk untuk memutus mata rantai lingkaran kemiskinan.

Sayangnya, tidak semua orang mengenal dan sadar realitas masyarakat yang menjebak tersebut. Beberapa fakta yang terungkap media massa cukup menyentak kesadaran kita. Seperti yang terungkap Kompas, beberapa siswa yang mengikuti ujian kelas VI sekolah dasar tidak bisa baca tulis. Tentunya kondisi ini patut menjadi perhatian serius pengambil kebijakan. Terungkap, kejadian di SDN 026 Kamande, Desa Pullewani, Kecamatan Tutar, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Orang tua siswa mengklaim sebagian siswa belum melek huruf karena persoalan sarana pendidikan, selain factor lainnya yakni guru yang tidak rajin mengajar. Kerap kali para siswa datang ke sekolah, tetapi tak ada guru yang mengajar.

Menurut sejumlah orangtua siswa, setiap hari para siswa terlambat masuk sekolah, tetapi mereka pulang lebih awal. Bahkan, banyak yang mengganti nama sekolah itu dengan istilah “SD Sembilan Sepuluh”, yang artinya masuk pukul 09.00 wita dan pulang pukul 10.00 wita.

Beberapa guru dari sekolah ini bahkan berani mengakui bahwa dari 18 murid  SDN 026 Kamande yang akan mengikuti ujian nasional besok, dua orang di antaranya belum mampu baca tulis. Sementara di kelas V terdapat empat murid yang mengalami hal serupa. Di kelas III dan IV juga terdapat belasan siswa belum bisa membaca. Salah seorang guru, Molli, mengakui hal tersebut, Senin (9/5/2011). Molli mengatakan, untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, pihaknya sudah mencoba menggalakkan belajar malam dan membentuk kelompok belajar. Metode tersebut telah diterapkan sejak beberapa bulan lalu terkait kinerja beberapa guru PNS yang malas masuk sekolah. Guru-guru tersebut kadang masuk mengajar sepekan dan libur sepekan.

Bila fakta itu benar, tentu perlu ditelaah lebih lanjut mengapa ada guru yang jarang mengajar. Apalagi guru PNS yang jarang mengajar.  Selama ini pemerintah sudah menganggarkan dana yang begitu besar untuk kesejahteraan guru. Pengeluaran pemerintah untuk belanja sektor pendidikan mencapai 20 % dari APBN. Tahun 2011, persentasenya naik sebesar 0,2 %. Kenaikan itu diprioritaskan untuk anggaran pendidikan di daerah.  Menurut data APBN tahun 2010, anggaran pendidikan di daerah hanya sebesar Rp 127,749 Miliar. Sementara berdasarkan UU APBN 2011, anggaran pendidikan daerah bertambah menjadi Rp 158.234 Miliar. Bila penambahan 30 miliar untuk anggaran pendidikan daerah masih menghasilkan siswa yang tidak bisa baca dan tulis, maka perlu dievaluasi apakah pemerintah sudah mengambil kebijakan dengan tepat.

 

Tekan Buta Huruf

Sekedar informasi, tahun 2008 Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan UNESCO melakukan sebuah tes dan survey dari siswa yang melakukan program penuntasan buta aksara. Kesimpulan yang diperoleh adalahhanya 2 orang dari 7 orang saja yang mampu membaca dan menulis. Sementara 5 lainnya tidak mampu baca tulis, padahal mereka telah mengikuti program penuntasan buta aksara sebelumnya.

Dari sisi pemerintah, menurut Fasli Jalal selaku Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), sesuai Instruksi Presiden (Inpres) nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara menunjukkan bahwa gerakan nasional pemberantasan buta aksara merupakan bagian yang sangat penting dan strategis dalam kerangka pembangunan pendidikan nasional.

“Hal ini karena buta aksara berkaitan dengan penduduk dewasa terutama yang tinggal di desa, miskin dan tidak berdaya. Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya melaksanakan program peningkatan keaksaraan bagi semua penduduk dewasa sebagai bentuk komitmen dalam memajukan dan memberdayakan masyarakat,” kata Fasli dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (8/9/2011). Tanggal 8 September merupakan Hari Literacy Internasional. Penetapan tanggal 8 September sebagai hari literasi internasional merupakan sebuah cara untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya baca tulis bagi penduduk dunia.

Menurut Fasli Jalal, ada tiga cara untuk membebaskan masyarakat dari buta aksara. Pertama adalah pendekatan regional yakni berfokus pada daerah yang memiliki kepadatan jumlah buta aksara yang tinggi. Setiap provinsi, kabupaten, dan kota perlu memiliki data penduduk buta aksara sesuai nama dan alamat peserta didik agar bisa segera diselesaikan. Yang kedua dengan cara mengintegrasikan program pemberantasan buta aksara dengan pendidikan kecakapan hidup atau life skill, sehingga seseorang tidak hanya diajari dapat membaca, tetapi juga keterampilan yang dapat meningkatkan taraf hidupnya.

“Dan terakhir adalah keberaksaraan perempuan harus lebih ditingkatkan, khususnya dalam hal inklusi, partisipasi dan pemberdayaan mereka agar dapat berperan dalam pembangunan dan mendukung keberlanjutan dari keaksaraan itu sendiri,” imbuhnya.

Setali tiga uang dengan Fasli,   Kepala Sub Direktorat Pendidikan Keaksaraan Kementerian Pendidikan Nasional, Hurip Danu Ismadi menyatakan Kementerian Pendidikan nasional bertekad akan menekan angka buta huruf di Indonesia. Sampai dengan tahun 2015, diharapkan pihaknya kata Danu dapat menekan buta huruf sebanyak satu sampai dua persen. Menurutnya upaya menuntaskan buta huruf merupakan investasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Danu mengatakan, dalam proses belajar, para tutor menggunakan berbagai tema yang disukai para penyandang buta aksara.  “Jadi prinsipnya harus menggunakan pendekatan pembelajaran tematik sesuai dengan tema-tema pembelajaran apa yang digemari oleh para penyandang buta huruf. Contohnya kalau dia di lingkungan keagamaan kita mengembangkan tema-tema agama tapi kalau basisnya di lingkungan pertanian kita mengembangkan materi pembelajaran dengan pertanian,” ujar Danu.

Sebetulnya pemerintah sudah melaksanakan berbagai upaya untuk mengentaskan penduduk yang masih mengalami buta aksara. Seperti dengan menjalankan kegiatan belajar secara berkelompok. Disana bukan hanya diajarkan bagaimana cara membaca, menulis dan berhitung, namun juga dipelajari berbagai skill yang berguna dalam kehidupan.

Ada yang menarik dalam fakta tentang kebutaaksaraan nasional. Menurut penelitian dari       Institut Pertanian Bogor (IPB) di Pusat Studi Pendidikan di Jawa Barat (PSP) terdapat 30 persen masyarakat yang sudah terbebas buta aksara tetapi kembali menjadi buta aksara karena kurangnya pembinaan. Untuk itu pemerintah perlu memikirkan bagaimana cara merawat kelompok yang sudah terbebas dari buta aksara namun rentan terjebak dalam kebutaan kembali. Bisa membaca dan menulis, tetapi tidak dimanfaatkan sehari-hari tentu menjadi persoalan tersendiri.

Pemerintah berencana memberikan bantuan sebanyak  Rp 460 ribu per orang untuk pembinaan penguatan seperti baca, tulis dan kegiatan membaca, serta wirausaha lainnya. Bantuan itu diberikan dalam bentuk block grant yang dilaksanakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dan organisasi masyarakat lainnya.

Bantuan itu bisa dimanfaatkan untuk membangun taman bacaan masyarakat (TBM). Memang, kemampuan pemerintah untuk membangun TBM masih terbatas. Akibatnya pemerintah harus menerapkan skala prioritas untuk daerah tertentu yang dinilai dari tingkat kebutaaksaraannya. Bila masih dinilai tinggi pembentukan TBM menjadi prioritas.  Setiap tahun hanya 500 TBM yang dibentuk di daerah-daerah. Jumlah anggaran yang tersedia untuk TBM mandiri Rp 15 juta dan untuk pembinaan Rp 25 juta. Bukan hanya untuk buku, tetapi sarana penunjang lainnya, seperti dana operasional dan penyediaan bahan ajar.

Direktur Pembinaan Kursus dan Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional (Ditjen PAUDNI Kemdiknas), Wartanto, mengatakan, mereka yang sudah bebas buta aksara tetapi kemudian kembali menjadi buta aksara karena kurangnya tindak lanjut pembinaan. Ia menjelaskan, misalnya mereka yang baru kenal aksara dasar tetapi karena di lingkungannya tidak dibimbing dengan baik, maka penggunaan bahasa Indonesianya menjadi menurun.

“Kembali menjadi buta aksara karena mereka lebih suka menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerahnya. Sama seperti kita yang mahir bahasa Inggris, jika tidak sering digunakan maka akan kembali lupa,” kata Wartanto.  elain itu, sambungnya, penyebab kembalinya menjadi buta aksara adalah karena terbatasnya sarana dan prasarana pembinaan. Karena pada umumnya mereka yang baru terbebas dari buta aksara sangat ingin melakukan kegiatan membaca dan menulis, tapi karena terbatasnya anggaran untuk memobilisasi itu semua pada akhirnya pembinaan jadi terbengkalai.

Untuk itu, lanjut Wartanto, pihaknya telah membuat berbagai program untuk menyiasati hal tersebut, seperti membuat buku atau buletin supaya masyarakat mempunyai bahan bacaan untuk meningkatkan dan mengenal aksara. Memberikan bantuan untuk membuat taman bacaan masyarakat (TBM) yang diharapkan agar masyarakat bisa meningkatkan kemampuan dasarnya. “Orang yang baru bisa membaca biasanya ingin membaca terus, tapi menjadi masalah karena sarananya terbatas, terlebih di daerah-daerah yang tergolong sulit. Itulah kenapa kami perlu dukungan masyarakat dan pemerintah daerah. Ini penting karena bebas dari buta aksara dapat berpengaruh untuk membangun lingkungan dan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Membangun masyarakat agar terbebas dari butaaksara tentu butuh perhatian khusus. Indonesia dengan negara kepulauan yang minim sarana pendidikan formal, tentu menjadi persoalan tersendiri. Pemerintah memang perlu, membebaskan masyarakat dari buta baca tulis, namun tidak lepas dari interfensi pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan serta memperluas kesejahteraan. Lewat berbagai kebijakan itu, diharapkan pemerintah menabur harapan bahwa Habis Gelap, (Pasti) Terbitlah Terang.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Fokus Utama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s