Bangkit, Bersatu, dan Berhasil A la Kabupaten Donggala

 

Dengan kondisi geografis yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir, Kabupaten Donggala terus berbenah menuju pusat perniagaan yang maju.

Medio Agustus lalu, Kabupaten Donggala merayakan hari jadinya yang ke-59. Harapan dan do’a untuk kebaikan serta kemajuan kabupaten yang amat dicintai masyarakatnya ini pun bergulir. Begitu juga dengan serangkaian prestasi yang berhasil diraih kembali diingat-ingat.

Salah satunya adalah penghargaan Piala Adipura yang telah dua tahun berturut-turut diberikan pemerintah kepada Kabupaten yang dalam lambangnya bermotto: Roso, Risi, Rasa ini. Keberhasilan ini juga mencatatkan Donggala sebagai satu-satunya daerah di Provinsi Sulawesi Tengah yang sukses menggondol Adipura ke daerahnya sekaligus jadi kebanggaan semua masyarakatnya.

Torehan keberhasilan ini tentu tidak lepas dari peran serta masyarakat seperti yang diakui oleh orang nomor satu di Kabupaten Donggala yaitu Habir Ponulele. “Piala Adipura kami raih semua karena bantuan masyarakat juga. Kesadaran mereka akan budaya bersih sangat luar biasa,” demikian penuturan Habir kepada Komite di ruang kerjanya baru-baru ini.

Tumbuh suburnya budaya bersih dan kesadaran menjaga lingkungan nyatanya dimulai dari sekelompok masyarakat yang terhimpun dalam Pelopor Pemerhati Lingkungan Hidup (PPLH) “Nagaya.” Anggota kelompok ini—yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan pelopor—menyatukan visi dan misinya untuk mewujudkan Donggala sebagai daerah bersih dan hijau.

Semangat  kelompok “Pelopor” itu lalu menular hingga ke tingkatan rumah tangga. Para ibu yang sudah terbangun kesadaran akan kebersihan ini juga mencatat prestasi tersendiri. Program ‘komposting’ yang berasal dari sampah rumah tangga kemudian turut andil yang akhirnya meraih Adipura untuk kedua kalinya tahun 2010 lalu.

 

Pekerjaan Besar

 

Bupati Habir Ponulele dalam wawancaranya dengan Komite menyatakan, masih banyak prioritas pembangunan yang harus tercapai selama masa kepemimpinannya. Tekad menjadikan Donggala sebagai Kota Niaga diakuinya tidak hanya menjadi simbol tetapi juga wujud nyata untuk menarik para investor.

“Kami juga terus berusaha memberdayakan masyarakat di wilayah kami yang ada di kawasan pesisir. Angka kemiskinan yang ada di Donggala berhasil kami turunkan dari 30 persen kini hanya tinggal 17 persen saja,” kata Habir.

Dalam dua periode kepemimpinannya, Habir kerap meminta jajarannya untuk sadar berbagi dengan mereka yang tidak mampu lewat program zakat yang disisihkan dari gaji para PNS Kabupaten Donggala yang jumlahnya mencapai lima ribu orang itu.

Lebih jauh, prioritas pembangunan Kabupaten Donggala masih terus gencar diupayakan. Menurut Asisten II bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Donggala, Ma’mun Ledo, secara infrastruktur, pembangunan sudah berjalan dengan baik.

“Hanya memang listrik untuk masyarakat yang kami akui masih sangat kurang terutama mereka yang ada di kawasan pesisir,” kata Ma’mun. “Ke depan kami sudah berencana untuk memanfaatkan energi matahari sebagai tenaga listrik,” kata Ma’mun lagi.

Mengenai potensi sumber daya alam yang dimiliki Donggala, Ma’mun Ledo mengungkapkan bahwa daerahnya banyak menyimpan bahan galian jenis C. Kekayaan alam ini menjadikan Kabupaten Donggala sebagai pemasok utama bijih besi dan bebatuan lainnya ke pasaran di Pulau Kalimantan.

“Masyarakat daerah lain hanya tahu kalau batu atau bijih besi dijual di Kalimantan tentu digali di Kalimantan juga, padahal sebenarnya, bahan-bahan itu digali di Donggala ini,” kata Ma’mun lagi.

Selain itu, pembangunan bidang kesehatan juga dilaksanakan tidak kalah gencarnya. Prestasi bidang kesehatan yang paling menonjol adalah pelayanan Puskesmas Kabupaten Donggala meraih ISO 9001 mulai tahun 2008 dan sukses dipertahankan hingga kini.

“Tujuan ISO itu untuk melakukan pengembangan profesional yang up to date sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat pelayanan kesehatan yang lebih bermutu,” demikian penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Anita B Nurdin.

Pembinaan Total Quality Management (TQM), kata Anita, dijalankan menggunakan prinsip Gugus Kendali Mutu di beberapa Puskesmas yang ada. “Namun belum ada satupun Puskesmas yang dijadikan percontohan sehingga saat ini kami membangun Puskesmas Donggala untuk dijadikan percontohan Puskesmas yang melaksanakan pelayanan bermutu,”  kata Anita dalam siaran pers-nya.

Kesuksesan mempertahankan ISO 9001 itu akhirnya berujung pada penilaian dengan hasil ‘Amat Sangat Memuaskan’ untuk Puskesmas Donggala. Dengan penilaian ini Kabupaten Donggala berhak menerima Piala Citra Pelayanan Prima tahun 2010 lalu dari Presiden RI.

Kalau bidang kesehatan terus berbenah diri memperbaiki mutu layanannya, begitu juga dengan dinas pendidikan Kabupaten Donggala. Saat berbicara dengan Komite, Kadis Pendidikan Kabupaten Donggala, Taufik mengemukakan, layanan pendidikan dasar sembilan tahun akan dilaksanakan dalam ‘satu atap.’

“Kami akan membangun Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang berlokasi dalam satu kompleks. Jadi, kalau seorang siswa telah lulus SD, dia tidak perlu lagi mendaftar di sekolah lain karena memang SMP-nya sudah ada,” kata Taufik.

Taufik juga mengungkapkan kalau selama ini penyerapan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sudah diserap dengan baik di Kabupaten Donggala. Namun, Taufik mengakui juga kalau salah satu persoalan besar sekolah-sekolah di Kabupaten Donggala adalah masih kurangnya tenaga guru.

“Dinas pendidikan sejauh ini berupaya menarik minat para putra daerah terutama yang ada di kawasan terpencil atau pedalaman untuk direkrut menjadi guru. Kami juga memberikan beasiswa kepada para guru untuk belajar lagi demi meningkatkan mutu pendidikannya,” kata Taufik lagi.

Ada satu hal yang menjadi permintaan dinas pendidikan Kabupaten Donggala kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Nasional yaitu agar pusat tidak memukul rata batas belanja anggaran pendidikan antara daerah yang satu dengan yang lain. “Karena memang kondisi antara daerah yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Kalau sudah ada ketetapan baku dari pusat, kami yang di daerah tentu kesulitan membagi-bagi anggarannya,” kata Taufik.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Advertorial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s