Budaya Erau Kaya Warisan Budaya

 

Pesta adat Erau Kabupaten Kutai Kartanegara  sebagai momentum bagi kebangkitan dan kemajuan pariwisata, serta untuk kejayaan masyarakat Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.

“Festival Adat Erau memiliki makna yang sangat penting, tidak saja bagi masyarakat Kutai Kartanegara, tetapi Kalimantan Timur bahkan  Indonesia. Karena Erau berdimensi sangat luas, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan kebudayaan, adat istiadat, dan pariwisata di Kaltim,” kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, pada Pembukaan Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai 2011 di Stadion Madya Aji Imbut Tenggarong Seberang.

Oleh karenanya, pesta adat Erau Tepong Tawar sebagai suatu acara tradisi di Tanah Kutai harus dilestarikan dan  tetap menjadi adat yang  dipelihara  Keraton dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura serta dijalankan mayarakakat  dan  generasi sekarang hingga di masa yang akan datang.

Di era globalisasi ini, telah terjadi perubahan yang sangat berarti dalam kehidupan dalam bermasyarakat. Salah satunya, terganggunya tatanan adat dan budaya, terkikisnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang dapat menimbulkan ancaman desintegrasi bermasyarakat.

Maka, pesta adat  Erau ini memiliki arti yang penting  yang dapat merajut kepincangan menjadi keseimbangan, keterasingan menjadi kebersamaan, keretakan menjadi persatuan dan kesatuan, pergesekan dan pertikaian menjadi kerharmonisan dan kedamaian.

Selain itu, upacara Tepong Tawar dalam adat Kutai mengadung makna tolak bala, menghindarkan dari gangguan dengan doa-doa dan pengaharapan penuh kepada Tuhan, sehingga  menjauhkan dari segala yang merusak, menawar segala yang berbisa, menolak segala yang menganiaya, menepis segala yang berbahaya, menciptakan keteduhan, kedamaian dan kesejahteraan.

“Dengan Tepong Tawar terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpatri segala harap dan teruang segala kasih sayang. Semoga dengan Tepong Tawar ini, Tanah Kutai, Kaltim bahkan Indonesia  akan tertolak dari bala bencana, sehingga marwah atau kehormatan, jatidiri dan keagungan senantiasa kekal terjaga,” harap Awang Faroek.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur bersama Poetra Mahkota Kesultanan Kutai Ing Martadipura serta Bupati Rita Widyasari, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kaltim H Mukmin Faisal, Staf Ahli Presiden Felix V Wanggai dan Ketua Umum Panitia Erau Tepong Tawar Tanah Kutai 2011 untuk menyalakan Brong (obor terbuat dari batang pohon kelapa sebanyak tujuh batang).

Sebelumnya, Gubernur bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Aji Mohammad Salehuddin II mendirikan Ayu di Museum Kutai sebagai tanda di mulainya pesta adat Erau, disaksikan Poetra Mahkota dan para Raja-raja dan Sultan di Kaltim serta Nusantara.

Pembukaan Pesta Adat Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai 2011 dihadiri Staf Ahli Presiden Felix V Wanggai, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Pangeran Soeryo Adipati Adiningrat, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari dan jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kaltim, Raja-raja dan Sultan Bulungan, Paser dan Berau serta Raja Banjar Kalimantan Selatan dan Wakil Walikota Surabaya.

Erau tahun ini dirangkai dengan upacara Beluluh, Bepelas, Pertunjukan Seni Budaya, Ekspo dan Pasar Rakyat, Pameran Benda Pusaka, lomba Olahraga Tradisional, gelar Saprah, Fastival Kuliner 18 Kecamatan, upacara adat berbagai Etnis, Seminar Budaya hingga Upacara Mengulur Naga dan Belimbur.

Saat penutupan, Wakil Gubernur Kaltim H Farid Wadjdy mengatakan   Erau hendaknya dimaknai sebagai dimensi positif terkait pelestarian dan pengembangan kebudayaan, adat istiadat dan pariwisata.

“Erau harus dipandang sebagai dimensi yang luas terkait pelestarian dan pengembangan kebudayaan, adat istiadat dan pariwisata. Erau merupakan bagian khasanah kebudayaan Kaltim yang memberi andil sangat besar terhadap keragaman budaya nasional,” kata Farid Wadjdy.

Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai tidak saja menyajikan berbagai atraksi kesenian keratin, kesenian tradisional dan pertunjukan rakyat, tetapi hendaknya juga bisa dipakai sebagai media pengerat kebersamaan diantara keberagaman adat istiadat dan kebudayaan di sekitarnya.

Wagub berharap agar Erau bisa menjadi peredam dampak negatif globalisasi yang potensial menganggu tatanan adat dan budaya, yang juga mungkin akan berakibat pada pengikisan nilai persatuan dan kesatuan sehingga memunculkan ancaman disintegrasi bangsa.

“Erau harus mampu merajut kepincangan menjadi keseimbangan, keterasingan menjadi kebersamaan, keretakan menjadi persatuan dan kesatuan, pergesekan dan pertikaian menjadi keharmonisan dan kedamaian,” harap Farid Wadjdy yang dari kesultanan ini dianugerahi Gelar Raden Surya Natapraja.

Terkait pelaksanaan Erau dan dalam tujuan mendukung Tahun Kunjungan Wisata Kaltim, Farid Wadjdy mengatakan Pemprov meminta agar  evaluasi perlu dilakukan untuk mengkaji kendala selama pelaksanaan dan sejauh mana target yang diinginkan, sukses dicapai. Pemprov juga meminta agar Pemkab Kutai Kartanegara memberi perhatian serius bagi pengembangan sektor kepariwisataan di kabupaten ini.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s