Lawang Sewu, Ikon Jateng

 

Setelah lama ditutup untuk umum, Gedung Lawang Sewu yang berlokasi di bunderan Tugu Muda Semarang diresmikan sebagai ikon baru Jawa Tengah. Salah satu cagar budaya yang dibangun pada 1 Juni 1907 itu akan menjadi daerah tujuan wisata di jantung ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Gedung Lawang Sewu yang diresmikan Ibu Negara, Ani Bambang Yudhoyono, Selasa (5/7) lalu, menjadi pusat kerajinan Indonesia di Jateng. Bangunan yang sudah berusia satu abad ini, ke depannya juga akan menjadi obyek wisata.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, mengatakan usai dipugar cagar budaya ini harus mempunyai manfaat bagi kesejahteraan rakyat.

“Bangunan ini harus bermanfaat, selain manfaat kebangaan atas nilai sejarah yang tinggi,” ujarnya kepada wartawan.

Ia melanjutkan, selama ini sudah banyak turis yang datang ke Jateng dan masuk ke Semarang dengan menggunakan kapal pesiar. “Kami akan promosikan ke dunia Lawang Sewu sebagai destinasi baru,” jelasnya.

 

Di tempat serupa, Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api (Persero) Ella Ubaidi,  mengatakan pemilihan gedung Lawang Sewu sebagai pusat kriya (kerajinan) di Indonesia dan terutama di Jateng sangat tepat.

 

“Bangunan ini, pada saat pembangunannya sangat memperhatikan unsur kriya yang berdasarkan budaya Jawa dan perpaduan barat,” katanya.

 

Menurutnya, tiap sudut dan bagian Lawang Sewu merupakan hasil karya seni yang luar biasa indah. “Arsitek gedung ini mampu mengalturasikan budaya Jawa dan Barat, seperti bentuk atap kubah yang diadopsi dari barat dikombinasikan dengan limasan khas Jawa,” jelasnya sembari menunjukkan atap gedung.

 

“Selain kubah masih banyak lagi, ornamen-ornamen di gedung ini yang memadukan kedua budaya. Kaca patri yang di pasang di atas tangga lobi, di mana terdapat gambar dewi Fortuna dan Venus yang menggambarkan cinta dan keberuntungan ditambah dengan lukisan yang menggambarkan kemakmuran tanah Jawa dengan segala tanaman dan hewan, dipadukan dengan motif batik,” paparnya.

 

“Kegiatan peresmian berbarengan dengan pameran budaya dan pekan kuliner yang dilaksanakan tanggal 5-10 Juli 2011 yang dibuka Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono selaku Pembina Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas),” kata Ketua Panitia Penyelenggara, Okke Hatta Rajasa, dalam rilis yang diterima.

 

Menurut Okke, benda cagar budaya dilindungi Undang-Undang no 5 tahun 1992 direvisi UU no 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam undang-undang disebut, gedung yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini dapat dimanfaatkan selama tidak mengubah keasliannya dan sesuai fungsi awalnya.

Tujuan kegiatan ini adalah menjadikan Lawang Sewu sebagai ikon untuk mendukung pengembangan citra kota Semarang dan Indonesia. Diharapkan, gedung ini mampu membawa positif terhadap investasi, perdagangan dan pariwisata, mengoptimalkan Lawang Sewu untuk berbagai kegiatan kreatif yang bermanfaat dan sebagai daerah tujuan wisata.

 

Okke menegaskan, Lawang Sewu sebagai benda cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang ini perlu difungsikan. Maka gedung ini akan segera diresmikan agar dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat.

 

Menurutnya, gedung tua peninggalan Belanda ini bergaya art deco, penampilannya kokoh, eksotis, dan mencolok—dengan dua menara kembar menjulang, jendela tinggi dan besar yang berjajar, serta barisan pintu-pintu. Orang menyebutnya lawang sewu yang berarti seribu pintu meski nyatanya pintu yang ada tak sampai seribu.

 

Dibangun 1904 sampai 1907, awalnya gedung ini dipakai sebagai kantor jawatan kereta api Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Kemudian Jepang mengambil alih. Kemudian ruang bawah tanah gedung yang difungsikan sebagai saluran pembuangan air, sebagian diubah jadi penjara bawah tanah yang sarat cerita penyiksaan tahanan. Lawang Sewu juga jadi saksi sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang menewaskan ribuan jiwa di sekitar bangunan itu.

 

Setelah kemerdekaan ia berganti fungsi menjadi kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah militer (Kodam IV/Diponegoro) dan kantor wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah hingga tahun 1994. Setelah itu sempat beredar isu akan diubah menjadi hotel, Lawang Sewu malah kemudian dibiarkan kosong tak terurus.

 

Kemudian bukan cerita soal keindahan bangunan dan sejarahnya yang menonjol. Tapi justru keangkerannya. Kondisi gedung yang gelap, bocor di sana-sini, dan tak berpenghuni memancarkan aroma mistis.

 

Sekarang Lawang Sewu telah dibenahi, dipugar dan tak lagi dibiarkan kosong. Bahkan dijadikan pusat kerajinan Indonesia di Jawa Tengah.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Lawang Sewu, Ikon Jateng

  1. Parjoko M berkata:

    Semoga para ciblek yang ada di simpang lima nggak pada pindah promosi ke sini.

  2. mukha berkata:

    ea,,,,,,,pemanfaatan lawang sewu sbg tempat pameran memang sgt tepat sekali ditambah lg yg letak’y di pusat kota sangat disayangkan apabila bangunan bersejarah ni terbengkalai begitu saja_salut bwt PemKot semarang & Bp. Jero Wacik ( Menteri Kebudayaan dan Pariwisata)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s