Kebutaan Tinggi, Spesialis Mata Kurang

 

Angka kebutaan di Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia. Katarak menjadi penyebab terbesar kebutaan di Indonesia. Disaat yang sama, negeri ini masih kekurangan spesialis mata.

 

Indonesia merupakan negara tropis yang selalu disinari cahaya. Karena itu penyakit mata kerap terjadi pada masyarakatnya. Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih dalam kuliah innaugurasi anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di RSCM Jakarta, akhir Juni lalu, beban penyakit mata di negeri ini termasuk tinggi. “Kebetulan kita di negara tropis yang banyak cahaya, tidak menguntungkan bagi mata,” ujarnya. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tahun 1996, angka kebutaan di Indonesia mencapai 1,5 persen atau lebih dari dua juta orang buta atau tunanetra di Indonesia. Angka itu cukup tinggi di Asia. Sebagai perbandingan di Bangladesh angka kebutaan 1 persen, di India 0,7 persen, dan Thailand 0,3 persen. ”Tahun 2008, Riset Kesehatan Dasar menyatakan, angka kebutaan di Indonesia hanya 0,9 persen. Namun, metodologi survei itu tidak bisa dibandingkan dengan survei tahun 1993-1996 sehingga tidak menggambarkan kondisi sesungguhnya,” terang Dokter spesialis mata yang juga mantan Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Tjahjono Darminto Gondhowiardjo

Penyebab utama kebutaan di Indonesia adalah penyakit katarak disusul penyakit glaukoma, kelainan refraksi dan penyakit lain terkait usia lanjut. Tjahjono menambahkan Paparan cahaya matahari yang mengandung sinar ultraviolet serta kurangnya nutrisi menjadi pemicu katarak. Kebutaan jenis ini bisa direhabilitasi lewat operasi. Artinya, angka kebutaan di Indonesia bisa ditekan jika para penderita katarak bisa dioperasi. Sementara besarnya jumlah penderita katarak di Indonesia berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 yang diperkirakan sebesar 15,3 juta (7,4 persen dari total penduduk). Masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan mengalami katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah tropis lainnya dimana sekitar 16 sampai 22 persen penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 56 tahun. Diperkirakan oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) setiap tahun muncul kasus baru katarak sebanyak 210.000 orang, tetapi yang dapat direhabilitasi lewat operasi katarak hanya sekitar 120.000 orang.

Sayangnya, ditengah banyaknya katarak, penderita tidak mempunyai biaya untuk operasi. Padahal, biaya untuk mengoperasi penderita katarak tidak semahal penyakit lain, seperti jantung atau kanker. ”Untuk satu pasien, biayanya hanya Rp 600.000-Rp 1 juta,” ungkap Tjahjono. Disatu sisi, kesehatan mata berpengaruh pada tingkat produktivitas seseorang dan pada akhirnya memengaruhi produktivitas bangsa. Karena itu, pemerintah dan swasta perlu bekerja sama untuk menurunkan angka kebutaan. Sementara, Menkes sendiri menyatakan, kendala biaya untuk operasi katarak bisa diatasi dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Tetapi, Jamkesmas tidak dapat langsung dipakai sebab jumlah dokter spesialis mata di Indonesia minim. Menkes menyebut pihaknya akan mendorong lebih banyaknya spesialis mata untuk mengatasi berbagai penyakit seperti katarak yang merupakan penyakit mata paling banyak di Indonesia. “Memang sudah mulai banyak yang mendidik dokter mata, tapi untuk sekarang kita akan optimalkan dulu yang di 13 Fakultas Kedokteran negeri. Ke depan, jumlah dokter perlu ditambah bekerja sama dengan perguruan tinggi yang membuka spesialisasi mata,” urainya.

Disamping masalah kurangnya spesialis mata, masalah lain yang menghambat pemberantasan kebutaan adalah masih adanya keengganan orang Indonesia untuk menjadi donor mata walaupun setelah meninggal. Tjahjono yang juga baru diangkat menjadi anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyayangkan kondisi tersebut. Pasalnya masih banyak pasien yang membutuhkan cangkok mata. Ia mensinyalir, sedikitnya donor mata itu ialah karena kekurangpedulian serta masih adanya pandangan tabu untuk mendonorkan anggota tubuh walaupun setelah meninggal. “Jumlah orang yang mau jadi pendonor mata setelah meninggal sangatlah sedikit. Padahal mata tersebut menjadi besar manfaatnya bagi orang hidup yang membutuhkannya,” imbuhnya. * dbs

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s