Kelincahan Si Tangan Seribu


Tarian yang biasa ditarikan oleh para penari laki-laki ini telah didaftarkan dan segera diakui oleh UNESCO. Setelah melalui berbagai proses, Tari Saman segera ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda pada akhir tahun ini.

“Tari tangan seribu,” begitulah Ibu Tien Soharto menyebut tari saman yang menjadi tarian favorit dalam Festival Pekan Kebudayaan Aceh di Banda Aceh tahun 1972. Sejak saat itu, tari saman mulai dikenal luas dan banyak diundang dalam berbagai pementasan.

Awalnya, tari saman berasal dari Gayo Lues, Aceh. Bernama saman, konon tarian ini diciptakan seorang ulama besar bernama Syekh Saman, sekira abad 14 Masehi. Mulanya, tari saman hanya ditampilkan dalam acara-acara keagamaan di Aceh, seperti saat memperingati Maulid Nabi Muhammad, sekaligus bagian dari media dakwah yang berbalut seni.

Saman dulu sering ditampilkan di kolong-kolong meunasah atau surau jika di Jawa. Seiring zaman, tarian ini terus berkembang luas. Kini tari saman kerap tampil di sejumlah kegiatan, baik tingkat nasional maupun international. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda dengan mengenakan pakaian adat. Tari saman biasanya tidak memakai iringan alat musik, melainkan menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang dikombinasikan dengan memukul dada, pangkal paha sebagai sinkronisasi, dan menghempaskan badan ke berbagai arah.

Keseragaman formasi dan ketepatan waktu merupakan satu keharusan dalam menampilkan tarian ini. Oleh karena itu, para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi tinggi dan latihan serius agar dapat tampil dengan sempurna.  Karena kedinamisan geraknya, tarian ini banyak dibawakan oleh kaum pria.

Perkembangan sekarang sudah banyak dibawakan oleh penari wanita maupun campuran antara penari pria dan penari wanita. Saman ditarikan kurang lebih 10 orang, dengan rincian delapan penari dan dua orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Sekarang, tari saman tengah naik daun dan memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Buktinya, pertunjukan tari saman banyak dijumpai. Sering tampil di layar kaca, dari pesta-pesta hingga acara kenegaraan di dalam maupun luar negeri.

Banyak Disukai

Ternyata, bukan hanya warga Indonesia yang menyukai kebudayaan asli Aceh ini. Pasalnya, sebuah kelompok dansa kontemporer dari Amerika yang bergabung di ODC/Dance datang jauh-jauh ke Indonesia untuk mempelajari tari saman. Melalui program DanceMotion USA di Indonesia, rombongan ODC/Dance antusias mempelajari gerakan dari tari saman yang diajarkan oleh Marzuki Hasan, maestro tari saman, dalam workshop tari tradisional Indonesia di Institut Kesenian Jakarta, tahun lalu.

“Ini sangat indah. Benar-benar penuh semangat, dan banyak irama di dalam tarian ini. Sangat kultural,” ujar salah satu penari ODC/Dance Dennis Adams. Tak hanya Dennis yang merasa tertantang mengikuti tiap gerakan lincah dalam tari Saman. Yayoi Kambara, penari asal Jepang yang hadir di kesempatan ini juga turut berbagi pengalaman.

“Ini sangat menganggumkan. Posisi menari dalam tarian ini sangat susah, terutama pada bagian engkel kaki dan tangan. Ini sesuatu yang kita tidak ketahui di keseharian. Benar-benar sisi yang cantik!,” kata wanita yang besar di Bay Area dan Surrey, Inggris.

Dengan keunikan dan pesona yang sarat nilai-nilai kultural Indonesia, tari saman memang layak menyandang predikat sebagai warisan budaya dunia. Kabar baiknya, organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), akan mengukuhkan tari saman sebagai warisan budaya dunia tidak benda pada 19 November 2011.

Kepala Badan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam jumpa pers di Jakarta, menyebutkan tari saman akan diumumkan sebagai warisan budaya dunia tidak benda oleh UNESCO pada 19 November 2011 di Bali.  Pengakuan terhadap tari saman kian menambah karya budaya bangsa Indonesia yang diakui UNESCO termasuk sebelumnya wayang, keris, batik, dan angklung.

Tari saman hanyalah satu dari beragam kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Tari saman tidak hanya populer di Nusantara tapi sudah melesak ke mancanegara. Kental dengan konten keindonesiaan inilah yang menjadi kunci tari saman bisa diterima masyarakat luas. Bahkan panyak penikmat seni dari negara luar yang tertarik mendalami lebih dalam tarian tersebut. Bangsa Indonesia boleh berbangga karena sebentar lagi tari saman menjadi bagian warisan budaya dunia. Berbangga saja tidak cukup, namun melindungi dan melestarikan maha karya budaya Nusantara adalah pekerjaan yang tak mudah, karena butuh kemaun dan komitmen kuat.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s