Perayaan Hari Jadi Kota Tidore ke 903

Suasana Kota Tidore Kepulauan di Senin (11/4) malam hingga Selasa (12/4) dini hari tidak seperti biasanya. Sejak Senin pukul 19.00, suasana kota gelap gulita, padahal pihak PT. PLN tidak melakukan pemadaman penerangan lampu listrik. Yang terlihat hanyalah nyala dama atau obor di depan-depan rumah warga, di tepi jalan bahkan di tengah-tengah jalan.

Alunan syahdu takbiran, tadarusan Qur’an, dzikir dan do’a, terdengar merdu dari menara-menara masjid, mushallah, surau, fola-fola sou bahkan dari balik sejumlah rumah-rumah penduduk yang gelap-gulita sejak pukul 20.00 WIT hingga pukul 02.00 dinihari. Hingga Selasa pagi pukul 06.00, suasana kota masih tetap gelap. Ribuan anak-anak dan orang dewasa lainnya memadati jalan-jalan utama, jalan desa dan lorong-lorong membawakan obor baik secara perorangan maupun secara berombongan. Ribuan warga lainnya mengenakan pakaian serba putih, ada lagi yang menggunakan pakaian adat dengan ikat kepala sambil membawa obor, bendera merah putih dan lambang-lambang Paji Kesultanan Tidore.
Suasana malam yang tenang, syahdu dan meriah tersebut merupakan sebagian dari prosesi ritual adat Malam Setanggi Timur dan Paji Dama Nyili yang digelar Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan, Kesultanan Tidore dan Panitia Pelaksana menjelang Hari Kota Tidore yang jatuh pada Selasa (12/4).
Usai menggelar upacara penyambutan tamu dan undangan dari luar kota yang akan menghadiri upacara Adat Hari Jadi Kota Tidore ke 903, di kediaman walikota Senin malam, Walikota H. Achmad Mahifa, Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad, unsur Muspida dan undangan lainya sekitar pukul 20.30 menuju ke Kedaton Kesultanan Tidore. Di sana sudah menunggu para bobato adat, imam dan syara yang siap menggelar tahlilan atau doa bersama di lantai dua kedaton.
Sekitar 40 menit berjalan, Sadaha Kesultanan Tidore, H. Laiman Saleh mewakili sultan dan Walikota H. Achmad Mahifa, turun ke lantai satu kedaton dan menyerahkan secara simbolis puluhan paji atau bendera kebesaran Kesultanan Tidore kepada para perwakilan adat untuk dibawah ke Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara dan ke Cobo, Kecamatan Tidore Timur. Setelah dilakukan prosesi adat di dua tempat tersebut, paji dama nyli-nyili atau obor negeri-negeri diarak dari kelurahan ke kelurahan.
Hal serupa juga dilakukan oleh masyarakat adat Soa Romtoha Tomayou, Kelurahan Gurabunga hingga Selasa dinihari. Di lokasi yang berbeda, sekitar  pukul 06.00, masyarakat adat Gamrange, sebutan untuk Weda, Patani, Maba, bersama pasukan adat dari wilayah Oba Selatan, Oba, Oba Tengah dan Oba Utara, dan Mare, bergerak dari Pulau Mare melewati lautan. Empat titik perjalanan Paji Dama Nyili-nyili tersebut bertemu secara serentak diantara Kedaton dan Dermaga Kesultanan Tidore dan diterima melalui prosesi adat oleh Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, H. Ridwan Do Taher dan Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad sebelum diarak masuk ke tempat berlangsungnya upacara adat di halaman Kedaton Kesultanan Tidore.
Antusias masyarakat selama berlangsungnya Malam Setanggi Timur dan Paji Dama Nyili-nyili sangat tinggi. Meskipun berlangsung hingga dini hari tetapi ribuan orang terlihat menyambut arak-arakan obor dan paji penuh semangat.
Upacara Adat
Pagi harinya berlangsung upacara adat Hari Jadi Kota Tidore ke 903 di halaman Kedaton Kesultanan. Upacara itu berlangsung penuh hikmad. Bertindak sebagai inspektur upacara yaitu Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, H. Ridwan Do Taher, mewakili Sultan, perwira upacara dijabat Mulyadi Wowor dan komandan upacara, Bakri Do Ali Upacara diawali dengan pembacaan Sejarah Singkat Hari Jadi Tidore oleh Ngofa Sedano Soa Romtoha Tomayou, Abbas Mahmud, yang juga Kabag Organisasi.

Gerimis sempat datang ketika upacara Inspektur Upacara, Jojau, H. Ridwan Do. Taher, menyampaikan Borero Gosimo atau Amanat Datuk Moyang. Namun itu tidak menghalangi jalannya upacara.  ”Ketika pesan (Borero Gosimo) dibacakan, tiba-tiba mendung dan kembali terang setelah selesai. Ini menunjukan bahwa alam juga turut menyambut dan merestui upacara adat Hari Jadi Kota Tidore Ke 903 pada hari ini,” terang Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba, ketika menyampaikan pesan-pesan Hari Jadi Kota Tidore dari atas mimbar upacara.
Orang nomor dua di Propinsi Maluku Utara ini juga mengaku terharu dan meneteskan air mata ketika mendengar dan menyimak secara seksama amanat datuk moyang yang syarat makna tersebut. Para pejabat dan peserta upacara lainnya juga larut dalam keharuan.
Setali tiga uang dengan Wagub Maluku Utara,  Puteri Raja Fak-Fak, Papua Barat, Hj. Rustuti Rumagesam, yang ikut dalam upacara adat tersebut juga tidak bisa menyimpan haru bercampur kagum. “Saya terharu mengikuti upacara adat ini. Kami selaku orang Papua bangga melihat dari dekat napak tilas Kesultanan dan kedatangan Soekarno  di Tidore di masa silam,” akui Hj. Rustuti.
Memang, acara Hari Jadi Kota Todore itu dihadiri oleh berbagai kalangan. Hadir saat itu  Kepala Arsip Nasional RI, Muhammad Asikin bersama delapan orang deputi, kasubdit dan staf, Kasubdit Wilayah V Maluku, Maluku Utara dan Papua, Direktorat Promosi Dalam Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ny. Dia Wiadiati Kusmawardani, Bupati Raja Ampat yang diwakili salah sati staf ahli bupati, Puteri Raja Fak-Fak, Hj. Rustuti Rumagesam, Walikota Ternate Burhan Abdurahman, Wakil Bupati Halbar Husen Fatah dan lainnya.
Dalam pesannya kepada masyarakat  Walikota Drs. H. Achmad Mahifa meminta kepada warga Kota Tidore Kepulauan untuk selalu menjaga dan memelihara adat dan budaya daerah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

”Jangan dipertentangkan, sebab masing-masing wilayah memiliki adat, budaya dan kebiasaan sendiri. Oleh karena itu sesama warga masyarakat harus saling menghargai. Di kota ini juga banyak warga dari luar yang datang dan menetap di sini, kita juga menghargai mereka karena mereka juga warga negara Indonesia,” terangnya.
Menurut orang nomor satu di Kota Tidore Kepulauan ini, keberagaman dan agama, adat, budaya dan kebiasaan itu sesuatu yang lazim dan menjadi rahmat. Dari keberagaman dan perbedaan itu menjadi sebuah kekuatan untuk mewujudkan Visi Kota Tidore Kepulauan yang Religius, Maju, Adil dan Sejahtera. Warga juga dimbau hidup berdampingan secara damai antara sesama ummat beragama.
Nilai-nilai seni-budaya peninggalan para kolano dan sultan di negeri ini, harus digali dan dihidupkan kembali. Disadari bahwa kekuatan kearifan lokal telah terbukti membawa nama harum Tidore sekaligus menorehkan sejarah emas di masa silam. Sudah saatnya kita tidak hanya bangga dengan kejayaan yang pernah kita raih dengan sekadar bernostalgia atau beromantisme dengan sejarah lalu, tetapi butuh langkah nyata dari pemerintah daerah melalui instansi terkait bersama komponen yang peduli, untuk segera melakukan perubahan.
Momentum Hari Jadi Kota Tidore Ke 903 menjadi media bersama bagi Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan bersama stakeholders terkait, terutama Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan sebagai salah satu mitra pemerintah Daerah, untuk terus mendorong dan memfasilitasi masyarakat guna menghidupkan kembali kearifan lokal di masing-masing kampung, desa dan kelurahan.
Jangan biarkan Generasi kita kehilangan jati diri, menjadi tidak bangga dengan keaslian seni dan budaya sendiri. Jangan sampai mereka justru lebih bangga dengan seni dan budaya dari luar yang belum tentu cocok dan dapat diterima oleh masyarakat kita. “Ingat pesan leluhur kita, Guraci no ige ua, karabanga no gonofo, maliku ge banga ua, gumale gam malele (Artinya : emas permata milik kita, tidak pernah kita hiraukan, milik orang lain yang belum tentu sebagus milik kita, kita pelihara dan dijadikan pegangan),” ungkap Walikota H. Achmad Mahifa.
Hal senada dikemukakan Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad. Menurut orang nomor dua di Kota Tidore Kepulauan ini, adat dan budaya menjadi cikal bakal dan dasar dalam pembangunan sebuah daerah. Dengan demikian diharapkan setiap proses dan pelaksanaan pembangunan benar-benar mengakar pada kebutuhan dasar masyarakat setempat. “Sebagai warga kota, terutama generasi muda, kita harus bangga dengan identitas dan kearifan lokal, karena itu menjadi kekuatan dan modal dasar dalam pembangunan daerah,” terang Hamid.
Menurut Hamid Muhammad, nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan para leluhur haru terus dipertahankan dan dikembangkan ke depan karena telah terbukti menjadi media pemersatu yang efektif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, pelaksanaan roda pemerintahan serta kelancaran pembangunan. Dikatakan selain Hari Jadi Kota Tidore Ke 903, masih ada satu lagi momentum penting pada tahun 2012 yang harus direbut, sekaligus sebagai ajang mempromosikan potensi budaya dan pariwisata di Kota Tidore Kepulauan, yaitu agenda Nasional Sail Indonesia di Morotai 2012. Momentum ini harus menjadi pintu masuk pertumbuhan titik-titik promosi pariwisata sejarah dan budaya di Kota Tidore Kepulauan. Sebut saja prosesi adat Ritual TOBO Safar yang dikemas dalam Pelangi Budaya Negeri Tidore di Kelurahan Mafututu, Upacara Adat Legu Dou di Lingkungan Afa-Afa Tomayou, Upacara Adat Joko Uku di Kalaodi, Maitara Fest antara Rum dan Maitara serta di sejumlah tempat lainnya.

Sejarah Panjang
Upacara adat pada Hari Jadi Kota Tidore sebetulnya merefleksikan kisah sejarah yang panjang. Misalnya, 12 April terpilih menjadi hari jadi Kota Tidore karena fakta sejarah yakni 12 April 1797 Tidore dapat direbut kembali dari penjajahan asing tanpa pertumpahan  darah. Peristiwa itu terkenal dengan sebutan Revolusi Tidore. Selain itu tanggal 12 merupakan titik awal suasana munculnya kesadaran bagi seluruh masyarakat Kesultanan Tidore pada masa itu.

Bulan April dipilih karena fakta lain menunjukan pada bulan ini terjadi peristiwa yang bermakna simbolik, kebersamaan dan persatuan telah terjadi di wilayah ini. Seluruh masyarakat Tidore baik yang sebelumnya mendukung perjuangan Nuku maupun yang berada dalam lingkungan kekuasaan Sultan Kamaluddin bentukan kompeni, secara bersama-sama menghilangkan perbedaan dan bahu-membahu mengusir kekuasaan asing di Tidore.
Revolusi April mengambarkan semangat nasionalisme perdamaian, persatuan di barengi semangat kemanusiaan seluruh rakyat Tidore bangkit melakukan perjuangan suci mengusir kekuasaan asing. Sikap Nuku memimpin sendiri penyerangan adalah contoh dan suri teladan bagi seorang pimpinan yang senantiasa tetap berada di garis depan memperjuangkan kepentingan bangsanya.
Sehari sebelum Revolusi Tidore, tepatnya pada 11 April 1797  Nuku mengeluarkan perintah kepada seluruh panglima perang yaitu Pertama,  angkatan perang Nuku hanya memerangi kompeni Belanda dan sekutunya. Kedua, masing-masing pasukan melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri dan melaporkan pada hari yang telah ditentukan. Ketiga, jangan membunuh orang yang telah menyerah, jangan membakar rumah dengan sia-sia. Ketiga, barang rampasan berupa senjata dan amunisi dan mesiu harus dibawa ke markas besar. Keempat, orang-orang Belanda yang tertahan jangan dibunuh melainkan dihadapkan kepada Nuku. Kelima, penyerbuan ke Tidore ditetapkan pada tanggal 12 April 1797.
Pada hari Rabu tanggal 12 April 1797 saat fajar menyingsing satu pasukan induk dengan kekuatan 70 buah kora-kora dibawah komando Nuku dan Panglima Muda Abdul Gafar. Pasukan sayap kiri dengan 20 buah kora – kora dibawah komando Zainal Abidin Pasukan sayap kanan dengan 20 kora-kora dibawah pimpinan Raja Maba dan pengawal belakang dengan 40 buah kora-kora dibawah komando Raja Salawati mulai bergerak.
Pasukan induk langsung menyerbu Tidore, pasukan sayap kiri mengamati gerakan hongi Ternate dan kapal – kapal Belanda dengan mengelilingi pulau Tidore dan Maitara, sedangkan pasukan sayap kanan menuju Oba sebagai pasukan cadangan dan pasukan pengawal bertugas menangkis serangan-serangan dari belakang.
Lima belas jam sebelum Nuku menyerbu Tidore, Abdul Jalal telah tiba di Soasio Tidore, menemui Sultan Kamaluddin menyampaikan ultimatum Nuku. Sultan Kamaluddin dikelilingi pembesar-pembesar Belanda dengan tegas menolak ultimatum Nuku. Pada malam yang gelap gulita itu Kamaluddin melarikan diri ke Ternate dikawal oleh serdadu – serdadu Belanda.
Pendaratan pasukan induk Nuku di Tidore pada tanggal 12 April 1797 tidak ada perlawanan apa-apa, tidak ada setetes darahpun yang tumpah. Revolusi Tidore telah dilakukan oleh Nuku dengan aman dan damai, bahkan Nuku dan pasukannya disambut seluruh rakyat Tidore dengan sorak sorai dengan suka cita oleh para Bobato, gimalaha-gimalaha dan sangaji-sangaji.
Nuku  kemudian dinobatkan sebagai Sultan atas seluruh kerajaan Tidore dengan gelar Sri Paduka Tuan Sultan Saidul Jehad Muhammad El Mabus Amiruddin Syah Kaicili Paparangan Jou Barakati, Sultan Tidore, Papua, Seram dan daerah-daerah taklukannya. Dalam pidato pengukuhan sebagai Sultan, Nuku mengajak rakyat Moloku Kie Raha untuk bangkit mengusir kompeni Belanda dari wilayahnya.
Tahun 1108 ditetapkan sebagai tahun lahirnya Kota Tidore, sebab tahun itulah Adkur Madero diangkat sebagai Kolano Tidore yang pertama sekaligus sebagai cikal bakal berdirinya pemerintahan di Tidore. Sejak itu Tidore mulai berlaku sistem pemerintahan, wilayah dan aturan hukum. Patut diakui realitas politik Kota Tidore pada saat ini diperoleh dari  legitimasi realitas kultural Tidore pada masa lalu
Peristiwa penting ini bila disemangati dalam konteks kekinian maka dapat memberi landasan moral kepada seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat, bahwa proses pembangunan dapat berhasil dengan baik jika ada semangat pengabdian yang tulus dari segenap aparatur pemerintahan serta dukungan dan partisipasi optimal dari masyarakat
Sumber : Humas Tidore

—————————————————————————————-

Tidore Terima Manggala Karya Kencana

Walikota Tidore Kepulauan, Drs. H. Achmad Mahifa, mendapat penghargaan Manggala Karya Kencana dari Pemerintah RI karena dinilai berhasil dalam melaksanakan program keluarga berencana (KB).
Manggala Karya Kencana tersebut, penyerahannya diwakili Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba, Lc, di sela-sela Upacara Adat Hari Jadi Kota Tidore Ke 903 di halaman Kadato Kie (Kedaton Kesultanan Tidore), Selasa (12/4) pagi.
Pemerintah RI juga menilai adanya komitmen kuat dari Walikota H. Achmad Mahifa dalam pelaksanaan program KB dengan mengalokasikan dana dalam APBD yang terus mengalami peningkatan dari tahun 2009 dan 2010. Selain itu pencapaian target ber-KB pada 2009 dan 2010 di atas 90 persen, peningkatan status kelembagaan dari kantor menjadi Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB sebagai bukti kuat dukungan Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan melaksanakan program KB.
“Salah satu kriteria lainnya yaitu kualitas pelayanan peserta KB mendapat dukungan dari pemerintah kota dengan adanya sarana klinik KB, kendaraan operasional untuk PKLB yaitu mobil unit penerangan dan mobil unit pelayanan. Semoga prestasi yang diraih ini dapat dipertahankan,” jelas Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kota Tidore Kepulauan , Ny . Sunarya Saripan.
Di tempat yang sama, Walikota H. Achmad Mahifa juga menerima penyerahan Buku Citra Daerah Tidore dari Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Muhammad Asikin. Buku ini memuat momentum penting sejarah Tidore dalam bentuk gambar. Sehari sebelumnya, Deputi Kearsipan ANRI, Mustari Irawan, menjelaskan sejumlah arsip tentang sejarah Kota Tidore Kepulauan di masa lalu yang diserahkan ke Pemerintah Kota tersebut bermaksud untuk memberikan gambaran kepada seluruh Bangsa Indonesia umumnya dan Kota Tidore Kepulauan khususnya, bahwa kontribusi Kota Tidore dalam mempersatukan NKRI sangat besar. “Kami mencoba membuat informasi mengenai keberadaan Kota Tidore dimulai dari masa Hindia Belanda sampai pemerintahan Walikota H. Achmad Mahifa. Arsip sesungguhnya sangat netral, kami memberikan gambaran apa adanya dalam membangun karakter bangsa, tinggal bagaimana kita memberikan penafsiran, baik dari sisi sejarah dan sebagainya,” terang Mustari.
Kepala Deputi Kearsipan ANRI ini juga memuji keindahan Kota Tidore Kepulauan melalui persembahan pantun “Burung Gelatik, Burung Menarik, Terbang Tinggi di Hari Sore, Kota Pulau yang Cantik adalah Kota Tidore”.
Masi di sela-sela Upacara Hari Jadi Kota Tidore Ke 903, Walikota H. Achmad Mahifa juga menerima cenderamata buku sejarah yang mengulas hubungan Sejarah Raja Fak-fak dengan Tidore dari Raja Fak-fak, Papua Barat, Al Alam Ugar Pik-pik Segar yang diserahkan oleh puteri Raja Fak-Fak, Hj. Rustuti Rumagesam. Puteri Raja fak-fak ini mengaku bangga dan terharu karena bisa hadir mengikuti upacara adat dan melihat dari dekat suasana Kota Tidore yang masih memegang teguh dan memelihara adat dan budaya.
Hj. Rustuti Rumagesam meminta Walikota dan Sultan Tidore ikut mendorong pembentukan kembali tujuh kerajaan di Fak-Fak yang nyaris hilang karena memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Tidore. “Kami minta Sultan Tidore dan Walikota bias berkunjung ke Fak-fak untuk melihat dari dekat serta mendorong pembentukan kembali kerjaan Fak-fak,” harap Rustuti.(***).
Sumber : Humas Tidore

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Advertorial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s