Ekonomi ASEAN Naik 4 Kali Lipat

Wakil Presiden (Wapres) Boediono memuji capaian negara-negara ASEAN dalam 8 tahun terakhir mencapai 4 kali lipat. Jika 2003, ukuran perekonomian ASEAN Rp 700 miliar, maka kini naik menjadi Rp 2,9 triliun.

“Kami berada pada titik penting dalam perjalanan kita untuk mencapai komunitas ekonomi ASEAN pada tahun 2015. Ketika para pemimpin ASEAN bertemu pada tahun 2003, ukuran perekonomian ASEAN hanya Rp 700 miliar, Sekarang, telah mencapai Rp 2,9 triliun,” kata Boediono, di Hotel Nikko Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (8/5/2011) lalu.

Tetapi, jika ingin termasuk ASEAN dan 6 negara tetangga yang memiliki perjanjian perdagangan, maka ukuran ekonomi harus dinaikan menjadi Rp 15 triliun. “Jika kita ingin termasuk ASEAN dan enam mitra dengan yang sudah memiliki perjanjian perdagangan seperti Cina, Jepang, Korea, India, Australia dan Selandia Baru, maka ukuran ekonomi menjadi Rp 15 triliun. Angka-angka ini diterjemahkan menjadi kekuatan dan peluang,” ucap Boediono.

Untuk mencapai angka di atas, Indonesia mengidentifikasi 3 prioritas utama untuk memajukan hubungan ASEAN dan peran di dunia internasional. Diharapkan komunitas ASEAN pada tahun 2015 siap untuk maju memasuki tantangan global.

“Indonesia mengidentifikasi tiga prioritas utama. Pertama-tama kita harus memastikan pencapaian kemajuan konkrit dalam mewujudkan Komunitas ASEAN. Kedua, kita harus menjamin pemeliharaan ketertiban dan kondisi di wilayah yang menguntungkan. Ketiga, kita harus memastikan diskusi sukses di kebutuhan mendesak, yaitu peran Komunitas ASEAN dalam komunitas global bangsa-bangsa,” terang Boediono.

Selain itu, Boediono pun menyampaikan bahwa ia telah memutuskan untuk bekerja sama dengan anggota Asean lainnya untuk memajukan 3 prioritas tersebut. “Kami memutuskan untuk bekerja keras bersama dengan anggota ASEAN lainnya untuk memastikan kemajuan sepanjang tiga prioritas,” katanya.

Ia juga mengatakan negara anggota ASEAN dalam menghadapi tantangan yang dihadapi antarsesama anggota hendaknya memecahkan masalah dengan cara ASEAN.

“Ada peluang kaya mengintai di sudut jalan, tetapi pada saat yang sama kita juga menghadapi tantangan yang sulit. Di antara yang paling terlihat dari tantangan ini adalah isu-isu bilateral tersisa dan perselisihan antara negara anggota ASEAN,” kata Wapres Boediono saat berbicara dalam Forum Kepemimpinan ASEAN ke-8, di Jakarta, Ahad lalu.

Hadir dalam forum itu PM Malaysia Dato Sri Mohamad Nadjib, Senior Menteri Kamboja Cham Prasidh, Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, serta Ketua Forum Kepemimpinan ASEAN ke-8 Aburizal Bakrie.

Dalam pandangan Wapres, sangat penting bahwa dalam semangat ASEAN, setiap negara anggota harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan masalah ASEAN dengan cara ASEAN.

Dikatakan Boediono, masalah umum baru akan muncul sehingga kerja sama yang lebih efektif dan mekanisme untuk menangani isu-isu seperti kejahatan lintas batas dan terorisme harus dikembangkan.

“Tujuannya, untuk memastikan bahwa penciptaan Komunitas ASEAN memberikan kontribusi bagi kesejahteraan semua,bukan hanya kepada sektor swasta baik terhubung atau pemerintah elit,” katanya.

Terkait dengan forum, Wapres mengharapkan diskusi dan pertukaran yang akan berlangsung akan memperkaya pemahaman tentang pentingnya Komunitas ASEAN 2015. Keterlibatan pemain kunci utama di wilayah ini, kata Boediono, mulai dari akademisi, pembuat kebijakan, sektor publik dan swasta dalam forum ini merupakan langkah penting menuju yang lebih inklusif yang berpusat pada rakyat ASEAN.

Konektivitas

Wakil Presiden Boediono juga mengingatkan konektivitas ASEAN harus berdampak kepada masyarakat terutama bagi mereka yang masih kurang mampu sehingga memerlukan kerjasama domestik dan internal yang handal.

“Melalui konektivitas ditingkatkan, yang ‘pinggiran’, daerah terisolasi akan dihubungkan ke pusat-pusat ekonomi. ASEAN Konektivitas harus berdampak masyarakat kita, terutama mereka yang masih kurang mampu,” kata Wapres.

Wapres mengatakan, Indonesia kini juga bekerja keras untuk meningkatkan konektivitas domestik kami di kepulauan yang sangat luas melalui pengembangan enam koridor ekonomi.

Dikatakan Boediono, ASEAN juga akan terus memperkuat kerjasama dan mekanisme regional, untuk menjawab tantangan yang muncul dan diantara tantangan ini berhubungan dengan ketahanan pangan dan energi.

Boediono mengingatkan untuk mengingatkan Anda, populasi dunia akan mencapai sembilan miliar pada tahun 2045 sesuai dengan proyeksi PBB baru-baru ini.

“Sementara itu, menurut sensus nasional terakhir penduduk Indonesia sendiri saat ini mencapai 237 juta dengan peningkatan tahunan sebesar 1,49 persen. ASEAN saat ini memiliki jumlah penduduk 590 juta,” kata Wapres.

Menanggapi situasi ini, kata Wapres, ASEAN sepakat pada sejumlah kerja sama bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat telah mengamankan akses terhadap pangan dan energi.

Ditambahkan Wapres, pada 2009 ASEAN mengadopsi “ASEAN Integrated Food Security Framework”, dan Rencana Strategis Aksi Ketahanan Pangan di Wilayah ASEAN sebagai rencana kerja rinci.

“Diingatkan komitmen ini penting, para pemimpin ASEAN dalam KTT mereka hanya menyimpulkan telah sepakat antara lain memprioritaskan penelitian dan pengembangan, dan juga memperbarui panggilan mereka pada meningkatkan investasi di sektor makanan,” kata Boediono.

Ditambahkan Boediono, ASEAN cukup menonjol dalam penelitian pertanian dan memiliki Institut Penelitian Beras Internasional di Filipina, disamping lembaga penelitian makanan yang bisa ditemukan di setiap negara anggota ASEAN.

“Dengan jaringan lembaga penelitian yang handal saya melihat alasan mengapa ASEAN tidak harus merasa percaya diri dalam usahanya untuk menjamin keamanan pangan untuk wilayah mereka sendiri, dan bahkan untuk membuat kontribusi yang signifikan terhadap keamanan pangan global,” kata Wapres.

Sektor energi, kata Wapres, juga menjadi perhatian penting dan pemimpin kami telah membuat janji untuk meningkatkan akses listrik untuk semua bangsa ASEAN sementara pada saat yang sama mengurangi ketergantungan wilayah kami pada minyak dan bahan bakar fosil lainnya.

Dalam kerangka ini, kata Wapres, satu-satunya pilihan untuk ASEAN adalah untuk meningkatkan upaya dalam menemukan sumber baru dan energi terbarukan.

ASEAN telah mengintegrasikan upaya untuk menjaga keamanan energi melalui penerapan Rencana Aksi ASEAN pada Kerja Sama Energi. “Indonesia juga bergerak maju dengan komitmen untuk menghasilkan minimal 17 persen kebutuhan energi dari bahan bakar non-fosil pada tahun 2025,” kata Wapres.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Editorial. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ekonomi ASEAN Naik 4 Kali Lipat

  1. Parjoko M berkata:

    Senang sekali mengetahui perkembangan ASEAN, tetapi bagaimana posisi Indonesia di dalamnya? Kalau melihat HDI dan GDI yang ada, kayaknya Indonesia masih tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s