Visi Ekonomi Indonesia 2025 Terus Digenjot


Dalam Visi Ekonomi Indonesia 2025 yang dikeluarkan Kementerian Koordinator Perekonomian mengembangkan delapan program pokok.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa, delapan program atau sektor yang perlu dikembangkan dalam Visi Ekonomi Indonesia 2025 tersebut adalah industri, pertambangan, pertanian, maritim, pariwisata, telekomunikasi, energi dan pembangunan regional lainnya.

Selain itu, ada beberapa sektor yang harus disorot seperti layanan finansial, kesehatan dan pendidikan. Pembangunan aktivitas perekonomian untuk program-program utama tersebut, harus difokuskan pada enam koridor ekonomi yang telah ditentukan.

“Yakni Koridor Ekonomi Sumatra, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi-Maluku Utara, Koridor Ekonomi Bali- Nusa Tenggara dan Koridor Ekonomi Papua Maluku,” ujarnya.

Ada beberapa komoditas yang bisa digenjot dalam sektor industri. Misalnya baja, makanan dan minuman, tekstil, mesin dan peralatan transportasi, shipping serta Kawasan Pangan (Food Estate). Beberapa kebutuhan infrastruktur pun harus dipenuhi, seperti pelabuhan, jalanan, listrik, irigasi dan gudang.

Di sektor pertambangan, komoditas nikel-besi, tembaga dan aluminium bisa menjadi bagian dari visi tersebut. Minyak kelapa sawit dan karet bisa menjadi andalan sektor pertanian, terutama di koridor Sumatra dan Kalimantan. Demikian pula perikanan, andalan sektor maritim dan koridor Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara dan Maluku.

Koridor Bali juga akan diperkuat dengan sektor pariwisata. Sedangkan batubara, minyak dan gas, merupakan visi sektor energi. Untuk pembangunan regional, jembatan Selat Sunda dan kawasan Jabodetabek akan menjadi andalan utamanya.

Pembangunan infrastruktur merupakan persyaratan kritis untuk menunjang kesuksesan setiap program pada setiap sektor, di setiap koridor perekonomian. Kebutuhan infratruktur yang spesifik bergantung pada kebutuhan fokus masing-masing sektor tersebut, di setiap koridor perekonomian.

Transformasi Ekonomi

Dalam Visi Ekonomi Indonesia 2025 yang diusung Kementerian Koordinator Perekonomian, tercantum cara mentransformasi perekonomian RI diantaranya indsutrialisasi yang menjadi mesin utama untuk transformasi perekonomian. Ini yang menjadi motor penggerak untuk negara-negara yang melesat seperti Korea, China, Brasil dan India.

Dari sisi permintaan, harus ada investasi pemerintah dan swasta di sektor industri dan infrastruktur. Pemerintah daerah dan pusat akan bergerak sebagai koordinator, katalis dan fasilitator. Investasi industri manufaktur, ada baiknya digenjot dari swasta.

Dari sisi suplai, faktor pertumbuhan produktivitas harus ditingkatkan melalui berbagai cara. Misalnya meningkatkan skala ekonomi sebagai bagian dari konsentrasi lokalisasi industri. Contohnya, lihat saja Osakan di Jepang, Guang Zhou di China atau Mumbai di India.

Kapasitas sosial harus dikuasai dan dikembangkan teknologinya. Di level rumah tangga, bisa memulai dari berinvestasi di pendidikan anak. Level perusahaan, mencipatakan atmoster yang kondusif untuk meningkatkan kapasitas produktivitas dan pekerja inovatif.

Di level pemerintah, penerapan kebijakan industri akan mengurangi biaya perusahaan untuk memperoleh dan mengembangkan kapabiltas dan inovasi teknologi. Selain itu, juga penting untuk mengalihkan aktivitas dari sektor produktivitas rendah ke yang tinggi.

Hatta mengatakan pemerintah memiliki tiga strategi utama dalam mempercepat dan mengembangkan pembangunan ekonomi Indonesia yakni pertumbuhan ekonomi tinggi, menyeluruh dan berkepanjangan.

Pertama, mengembangkan koridor pembangunan ekonomi Indonesia dengan cara membangun pusat-pusat perekonomian di setiap pulau. Selain mengembangkan klaster industri berbasis sumber-sumber superior. Baik komoditas maupun sektor.

Koridor pembangunan ekonomi Indonesia terbagi dalam empat tahap. Mengindentifikasikan pusat-pusat perekonomian, misalnya ibukota provinsi. Menentukan kebutuhan pengubung antara pusat ekonomi tersebut, seperti trafik barang.

Kemudian validasi untuk memastikan sejalan dengan pembangunan nasional, yakni pengaturan area tempat tinggal dengan sistem infrastruktur serta fasilitas. Juga menentukan hubungan lokasi sektor fokus, guna menunjang fasilitas. Misal menghubungkan area pertambangan dengan kawasan pemrosesnya.

Kedua, memperkuat hubungan nasional baik secara lokal maupun internasional. Hal ini bisa mengurangi biaya transaksi, menciptakan sinergi antara pusat-pusat pertumbuhan dan menydari perlunya akses-akses ke sejumlah layanan. Seperti intra dan inter-konektivitas antara pusat pertumbuhan serta pintu perdagangan dan pariwisata internasional.

Integrasi ekonomi merupakan hal terbaik untuk mencapai keuntungan langsung dari konsentrasi produksi. Serta dalam jangka panjang, meningkatkan standar kehidupan. Saat ini, aktivitas ekonomi Indonesia terpusat di kota-kota, khususnya Jawa dan Sumatra. Fasilitas transportasi yang terbasa menyebabkan area industri tak menjangkau pelosok.

Pada jangka pendek, proyek-proyek yang perlu dibangun di Jawa adalah TransJawa, TransJabodetabek, kereta jalur dua, Tanjung Priok. Pembangunan tersebut diharapkan bisa berdampak langsung mengurangi kemiskinan di Jawa yang melebihi 20 juta jiwa, dua kali populasi miskin Sumatra yang sekitar tujuh juta jiwa. Pembangunan infrastruktur di Jawa bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, mempercepat kapabilitas teknologi dan ilmu pengetahuan nasional atau Iptek. Selain tiga strategi utama ini, juga ada beberapa strategi pendukung seperti kebijakan investasi, perdagangan dan finansial.

Beberapa elemen utama di sektor Iptek adalah meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan kejuruan tinggi serta pelatihannya. Meningkatkan level kompetensi teknologi dan sumber daya ahli. Peningkatan aktivitas riset dan pengembangan, baik pemerintah maupun swasta, dengan memberikan insentif serta menaikkan anggaran.

Kemudian mengembangkan sistem inovasi nasional, termasuk pembiayaannya. Saat ini, masalah utama yang dihadapi adalah kemampuan riset dan pengembangan yang digunakan untuk mencari solusi teknologi. Kemampuan pengguna untuk menyerap teknologi yang ada. Serta transaksi antara riset dan pengembangan sebagai pemasok solusi teknologi dengan penggunanya tak terbangun dengan baik.

“Selain tiga koridor, terdapat tiga tahap dalam visi ekonomi Indonesia. Pada 2011-2014, persiapan dan pembangunan konsensus untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Pada 2015-2025, implementasi program-program percepatan ekonomi. Kemudian 2025-2045, mempertahankan pembangunan yang berdasarkan ekonomi tersebut,” jelasnya.

 

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Ekonomi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s