PNPM Peduli

Mengulurkan Tangan untuk Kelompok Pinggiran

Sujana Royat selaku Deputi VII Menko Kesra Bidang mengatakan, ketika ada anggota masyarakat termarginalkan, disinilah seharusnya peran intervensi negara.

Tiga tahun belakangan ini angka kemiskinan Indonesia terus menurun. Namun masih ada 37 juta jiwa rakyat Indonesia yang bertaruh hidup setiap harinya. Diantara 37 juta jiwa itu, masih sekelompok orang yang miskin secara sosial dan ekonomi. Itulah kelompok pinggiran.

 

Pagi hari pukul 08.00 WIB, situasi Galeri Nasional mendadak ramai. Berbagai kelompok memang sengaja mendatangi Galeri yang berlokasi dekat Stasiun Gambir Jakarta Pusat. Mereka yang hadir berasal dari beragam usia dan kalangan. Ada birokrat, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, perwakilan negara donor, namun teristimewa adalah mereka dari kelompok pinggiran. Ada yang mewakili anak jalanan, kelompok adat yang terpinggirkan oleh arus globalisasi, pekerja seks, pecandu narkoba dan kelompok transgender, korban traficcking dan banyak lagi.

Hari itu istimewa bagi kelompok yang terpinggirkan. Tanggal 23 Maret 2011 pemerintah meluncurkan PNPM Peduli, program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mengangkat derajat kelompok marjinal. Memang benar, marjinalisasi ada dalam masyarakat. Tanpa sadar manusia menyingkirkan manusia lain karena alasan khusus. Ketakutan tertular virus HIV misalnya mengakibatkan masyarakat menghindari kontak fisik dengan mereka.

Padahal ada sekitar 25 persen penderita HIV/AIDS yang merupakan ibu rumah tangga. Sementara masih ada stigmatisasi masyarakat yang menyatakan penderita HIV/AIDS adalah dampak dari perilaku seks bebas. Belum tentu mereka melakukan seperti yang masyarakat tuduhkan. Namun karena anggapan itu sudah umum, sulitlah bagi para penderita HIV/AIDS mengubah pandangan tersbeut. Akhirnya mereka hidup dengan menerima pandangan yang mencemooh seperti demikian.

Lebih bahaya lagi lanjutan dari semuanya. Karena anggapan umum masyarakat itu maka penderita HIV/AIDS ditolak masyarakat. Ambil contoh yang sederhana, masyarakat enggan berjabat tangan dengan mereka. Alasannya bisa beragam dari yang sederhana sampai serius. Sebagian besar mengatakan takut tertular. Namun tidak sedikit yang berpandangan mereka kotor bergumul dosa.

Penolakan itu berarti pengucilan. Yang berbahaya adalah bila pengucilan itu berlanjut dengan menutup hak mereka untuk mendapatkan layanan publik. Sementara Penderita HIV/AIDS membutuhkan layanan kesehatan lebih baik dibanding lainnya. Maklum saja, kekebalan tubuh mereka yang terserang virus membuat mereka rentan penyakit.

Masyarakat pinggiran lain yang perlu mendapat pertolongan adalah pekerja seks komersial (PSK). Tidak ada perempuan yang ingin masuk dalam dunia itu. Tetapi beragam alasan satu diantaranya karena kesulitan ekonomi bisa menjadi pendorong. Endang Supriyati, seorang aktivis Bandungwangi, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang melakukan pendampingan pada pekerja seks komersial adalah contohnya. Ia mengakui bahwa masa lalunya kelam. Keluarganya mendorong Endang menjadi pekerja seks ketika berumur 12 tahun. Beruntung ia bisa bebas dari pekerjaan itu. Kini, sebagai aktivis ia mencoba memberi dukungan kepada mereka yang memiliki nasib serupa dengan dirinya.

Dalam pengalamannya, ia bercerita, betapa susahnya menjadi pekerja seks. “Saya mengalami kekerasan,” demikian Endang dengan keberanian menceritakan masa lalunya. Kekerasan fisik masih diterima tubuh. Namun perasaan sakit hati bagaimana menolongnya? Masyarakat melihat Endang dengan pandangan yang menghakimi begitu tahu pekerjaan dia dulu. “Bersalaman mereka tidak mau,” katanya menceritakan bagaimana kelompok wanita enggan menjabat tangannya.

Masih banyak lagi orang-orang yang sebenarnya “antara ada dan tiada” dalam masyarakat. Ada secara fisik namun termarginalisasi karena keterbatasannya. Mereka adalah orang-orang dengan cacat fisik, yang terkena kusta sehingga dijauhi masyarakat, para perempuan sekaligus kepala rumah tangga dan banyak lagi. Semuanya membutuhkan uluran tangan.

Peran Negara

Sujana Royat selaku Deputi VII Menko Kesra Bidang mengatakan, ketika ada anggota masyarakat termarginalkan, disinilah seharusnya peran intervensi negara. Pak Jana, demikian pria itu biasa akrab dipanggil, seperti mengukuhkan gejala yang terjadi belakangan ini baik di negara maju maupun berkembang yaitu semakin kukuhnya peran negara dalam kehidupan masyarakat.

Menko Kesra Agung Laksono menjelaskan peran negara untuk menjembatani kelompok pinggiran sangatlah penting. Lewat PNPM Peduli inilah pengembangan karakter dan pembangunan masyarakat kecil disentuh. Sujana Royat menambahkan PNPM peduli menjawab peran negara untuk kepentingan rakyat kecil. “Ketika mereka yang terpinggirkan tidak mendapatkan akses dalam pembangunan, maka negara wajib berada dibelakang mereka. Menuntun mimpi mereka,” ujarnya.

Lanjut pria yang yang hadir dengan busana batik itu, PNPM Peduli tidak menangani kemiskinan berdasarkan status administratif, bukan pula sekedar angka statistic. Namun filosofi dasar PNPM Pedulu adalah membantu masyarakat miskin dalam area abu-abu. Mereka yang ada namun tidaklah tercatat. Mereka berada diluar sistem, sulit masuk dalam standar masyarakat. Sebut saja kelompok waria. Mereka ditolak oleh masyarakat.Secara administratif institusi mereka sebenarnya sudah tertolak. Dalam pembuatan KTP kelompok waria disuruh untuk mengisi gender mereka, yang tentunya membuat kebingungan untuk mereka.

Setali tiga uang dengan kelompok transgender, para pekerja seks komersial, ketika harus mengisi riwayat pekerjaan tentu waswas. Bila jujur pasti ajur, nyata ada dalam masyarakat. Maka, lebih baiklah mereka untuk berbohong saja. Demikianlah masyarakat dan negara sebenarnya sudah “memaksa” mereka untuk berstatus sebagai si abu-abu. “Masih ada orang-orang yang tidak tersentih dari program formal, karena program formal yang ada saat ini mengharuskan mereka tercatat misalnya memiliki KTP. Masyarakat kajang dan di ambon juga sebagian tidak mendapat KTP. Apakah mereka didiamkan saja?” kata Sujana Royat.

Donor

Rencananya program ini akan berjalan efektif mulai Juni 2011. Anggaran untuk menjalankan PNPM Peduli untuk tahap pertama berjumlah US$ 5 juta. “Dana berasal dari lembaga donor. Saya berharap ada ketertarikan pihak-pihak di tanah air untuk melakukan yang serupa. Bayangkan saja, negeri asing saja mau membantu, lalu mengapa dari tanah air tidak?” ungkap Agung seperti mengajak kelompok-kelompok di tanah air semakin peduli pada program penanggulangan kemiskinan. Lanjutnya, CSR bisa ikut serta dalam program PNPM Peduli.

Menurut Menko Kesra, beberapa donatur yang telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam program ini adalah pemerintah Australia, Denmark, Belanda, Kerajaan Inggris Raya, Amerika Serikat, serta Uni Eropa. Dana hibah ini dikelola oleh Bank Dunia melalui PSF. Jika pengelolaan PNPM Peduli ini baik maka dana akan ditambahkan lagi. Jadi perlu akuntabilitas dan transparansi. “Kami tidak pegang uangnya, tapi kami yang menentukan siapa yang membutuhkan,” kata Menko Kesra.

Lanjutnya, seperti program PNPM lainnya bantuan akan diberikan untuk tiap kelompok-kelompok yang terdiri dari 20-40 orang. “Penyaluran akan diawasi oleh lembaga independent,” tandas Agung.

Perbedaan PNPM Peduli dengan PNPM lainnya terletakp pada fokusnya, tambah Menko Kesra. Bila PNPM yang selama ini kita kenal adalah terkait dengan penanganan keterbatasan aspek fisik atau infrastruktur serta bergulirnya ekonomi kawasan pedesaan dan perkotaan.  Targetnya akan ada 40.000 orang terpinggirkan yang menjadi saasaran. Mereka adalah korban trafficking, nelayan tanpa perahu, orang dengan keterbatasan, landless farmer (peasant), pekerja migrant, yatim piatu, penderita HIV/AIDS, kelompok minoritas adat, petani miskin, kepala rumah tangga perempuan namun miskin, masyarakat suku miskin, anak jalanan, gelandangan, pemulung, korban konflik, transgender dan banyak lagi.

Melalui PNPM Peduli, dana hibah akan disalurkan melalui fasilitas pendukung PNPM Mandiri (PSF) kepada tiga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ketiga LSM itu adalah Kemitraan, Pengembangan Sumber Daya Manysua Nadhatul Ulama, dan ACE (Association for Community Empowerment).

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Fokus Utama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s