Festival Legu Gam, Pesta Rakyat Khas Ternate

 

Pesta rakyat yang diselenggarakan bertepatan dengan hari lahir Sultan Ternate ini biasa disebut Festival Legu Gam. Keberadaan kesultanan yang sekarang dipimpin oleh Sultan Mudaffar Sjah (sultan ke-48) ini hingga sekarang tidak bisa dipisahkan dari dukungan masyarakat Ternate.

Sebagai penghargaan atas kesetiaan masyarakat terhadap kerajaan tersebut, maka diadakanlah Festival Legu Gam atau pesta rakyat yang dilangsungkan bertepatan dengan momen ulang tahun Sultan Mudaffar Sjah, setiap tanggal 13 April.

Penyelenggaraan Festival Legu Gam ini mulanya digagas oleh Permaisuri Kesultanan Ternate, Ratu Nita Budhi Susanti (istri Sultan Mudaffar Sjah). Gagasan ini lahir sebagai upaya menerjemahkan keteguhan masyarakat dan pihak kesultanan dalam menghadapi berbagai cobaan, terutama kerusuhan yang melanda Maluku utara di akhir tahun 1990-an.

Wujud bala kusu sekano-kano atau kecintaan rakyat kepada sultanlah yang menjadi pegangan bagi permaisuri sultan untuk menggagas pesta tersebut sebagai apresiasi dari pihak kesultanan terhadap rakyat. Agar pesta rakyat yang diselenggarakan tersebut berjalan dengan meriah, maka dipilihlah hari kelahiran sultan sebagai puncak kegiatan. Dengan harapan, pesta mampu membangkitkan rasa saling memiliki antara raja dan rakyat, begitu pula sebaliknya.

Setiap tahun sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2002, Festival Legu Gam tetap diadakan hingga sekarang. Bahkan oleh Pemda setempat, festival ini dijadikan sebagai salah satu agenda tahunan kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan budaya setempat serta sebagai apresiasi dari pemerintah daerah terhadap keberadaan kesultanan Ternate yang sudah berusia 800 tahun lebih. Di samping itu, Pemda setempat juga menjadikan ajang ini sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Provinsi Maluku Utara khususnya Kota Ternate.

Berbagai Budaya Ditampilkan

Untuk tahun ini, Festival Legu Gam digelar mulai 1 hingga 16 April. Menurut Ketua Panitia Festival Legu Gam Arifin Djafar, ada berbagai acara budaya yang ditampilkan, seperti kirab budaya pesona adat, pawai obor gamma cahaya, festival soya soya,  ritual selai jin, serta ritual keloli kie. Sekitar seribu masyarakat adat Kesultanan Ternate dilibatkan secara penuh,” ujar Arifin.

Festival Legu Gam 2011, lanjut Arifin, merupakan pesta rakyat yang hanya ada di Kesultanan Ternate di Maluku Utara. Penyelenggaraannya pun dikhususkan untuk memperingati hari ulang tahun Sultan Ternate. “Tahun ini, Festival Legu Gam sudah yang ketujuh kalinya, dan di tahun ini pula kami mengusung tema pesona moluku kieraha pesona nusantara,” jelasnya.

Permaisuri Sultan Ternate Boki Nitha Budhi Susanti, mengatakan festival ini sesungguhnya merupakan festival yang sudah menjadi agenda tahunan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. “Meski secara historis Legu Gam dilaksanakan untuk memperingati hari ulang tahun sultan, namun kini festival tersebut sudah menjadi milik masyarakat secara keseluruhan, tujuannya pun kini untuk menarik wisatawan Ternate,” jelas Boki Nitha.

Boki Nitha yang juga merupakan anggota DPR RI ini  menjelaskan kegiatan dalam Festival Legu Gam merupakan kegiatan budaya yang berasal dari Kesultanan Ternate. Bahkan tarian dan ritual budaya yang sebelumnya hanya dilakukan di lingkungan internal kesultanan, ditampilkan dalam festival tersebut. “Ini artinya Festival Legu Gam sudah milik semua orang, dan bisa dinikmati bersama. Oleh karenanya, pihak kesultanan mengharapkan masyarakat juga ikut berpartisipasi,” jelas Boki Nitha.

Beberapa tari-tarian khas dari keempat kesultanan di Bumi Kie Raha pun disuguhkan dalam festival ini. Seperti tari Marabose, tari Barakati, tari Legu Kadato dan tari Dadansa. Tari Marabose adalah tarian sakral dan hanya dimainkan di dalam istana Kesultanan bacan sebagai penghibur Sultan setelah balesa (makan), bersantai atau menjelang tidur. Syair yang mengiringi para penari ini bertema kesedihan.

Sementara, tari Barakati yang berasal dari Kesultanan Tidore, merupakan ungkapan permohonan berkah kepada Sang Kuasa dan menggambarkan keharmonisan antara rakyat dan pemimpinnya yang selaras dengan falsafah kuno Tidore. Sedangkan Legit Kadato, milik kesultanan Ternate, merupakan tarian yang diiringi oleh syair-syair berisi nasehat kepada Sultan. Tarian ini khusus dibawakan oleh para wanita dari kalangan soa ngare (bangsawan).

Tarian kesultanan Ternate lainnya adalah tari Dadansa. Namanya memang terkesan romantis, namun sesungguhnya tarian ini menggambarkan para prajurit Ternate yang dinamis dan simbol dalam menentang segala bentuk kolonialisme di muka bumi. Dulu, kostum yang dikenalkan para penari Dadansa berasal dari daun, pelepah dan batang pisang. Tapi, sejak masuknya pengaruh Eropa di Ternate, kostum para penari dibuat mirip dengan seragam tentara. Tarian ini memiliki makna yang sama dengan tarian Soya-Soya yang terinspirasi dari peristiwa penyerangan pasukan Ternate saat mengambil jenazah Sultan Khairun, yang telah dibunuh secara licik oleh tentara Portugis di Benteng Kastela.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s