Ogoh-Ogoh yang Harus Diusir dari Lingkungan

Ogoh-ogoh merupakan karya seni 3D yang berbentuk patung yang dapat dipindah atau diusung secara bersama dan ditarikan secara ogah-ogah. Ogoh-ogoh ini biasanya dibuat dengan ukuran besar, kemudian diarak pada malam pengrupukan atau sehari menjelang Hari Raya Nyepi.

Ogoh-ogoh dipercaya mengandung suatu kekuatan yang sangat besar dan keghaiban. Ogoh-ogoh menjadi representasi Bhuta Kala, tampaknya akan semakin beraneka dengan rancangan yang semakin artistik dan rumit.

Persiapan menuju hari sakral umat Hindu Bali itu sudah dilakukan sejak beberapa pekan sebelum perayaan. Di seluruh banjar (setingkat dusun dalam tatanan pemerintahan formal, namun lebih bermakna pada kepentingan adat) di Bali, pembuatan ogoh-ogoh itu dilakukan bergotong-royong.

Menurut orang-orang tua di Bali, pada masa lalu Ogoh-ogoh dibuat cuma memakai rangka bambu, kayu, dan sedikit kawat untuk menguatkan sambungan atau menjadi komponen di bagian-bagian yang sulit dibuat. Ogoh-ogoh diusung sampai ratusan orang karena memang berat selain karena beban Ogoh-ogohnya sendiri, juga karena rangka pengusungnya.

Bambu sampai puluhan batang diperlukan untuk mengangkat Ogoh-ogoh dan konstruksinya harus kuat karena ogoh-ogoh akan diputar-putar di tiap perempatan. Belum lagi kalau di jalan dan perempatan berjumpa dengan kontingen serupa dari banjar-banjar serupa.

Suasana riuh dan ramai ini didukung oleh gamelan (ble ganjur) yang ditabuh puluhan orang. Belum lagi “supporter” dari masing-masing banjar dan penonton yang menyemangati tiap kontingen pada siang sampai menjelang malam sehari sebelum pelaksanaan “catur brata” penyepian diamalkan.

Itulah Bali masa lalu dan kini dengan agama Hindu Bali-nya, yang memiliki filosofi religi dengan menempatkan seni budaya dan produk kesenian sebagai sarana inheren untuk menyembah Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan begitu, mudah dipahami mengapa seni dan kesenian tradisional Bali dalam kerangka budayanya tetap hidup, dipelihara, dan dikembangkan sampai masa depan.

Imajinasi Bhuta Kala

Zaman sudah berubah dan menempatkan manusia pada aneka pilihan untuk mempermudah hidup. Ogoh-ogoh juga demikian, sekarang sudah tidak ada lagi yang memakai rangka bambu atau kayu sepenuhnya karena sudah ada “sterofoam” yang bisa mewujudkan semua imajinasi personifikasi Bhuta Kala itu.

Misalnya sosok raksasa mirip Rahwana berkulit merah dan mata mendelik berkombinasi gigi taring dalam wajah sangat menyeramkan yang tergeletak di tanah. Di dadanya tertancap trisula dari tiga dewa yang seolah melayang dari diri raksasa itu, lengkap dengan kelebak kain sayap serta busur panah yang sangat halus pembuatannya.

Ada lagi seorang dewi yang cantik luar biasa dan ketakutan dalam genggaman raksasa, namun berusaha dibebaskan oleh seorang dewa dengan cara menerjang Bhuta Kala itu memakai tumit kanan sekaligus membidik kepala raksasa itu dengan gadanya. Terlalu banyak contoh yang bisa diberikan karena imajinasi dan cara mewujudkan hal itu bisa tanpa batas.

Waktu teroris sedang menjadi trend di mana-mana dan Bali menjadi sasaran, sosok teroris dijadikan model ogoh-ogoh dan hal ini bukan hal tabu. Juga bagi yang akrab dengan motor besar, maka Bhuta Kala menunggangi “chopper” Harley-Davidson juga sah saja dijadikan Ogoh-ogoh, lengkap dengan tata lampu dari generator yang juga digotong.

Yang membatasi cuma satu: pakem dalam tataran agama Hindu Bali bahwa Ogoh-ogoh haruslah representasi dan personifikasi Bhuta Kala yang harus diusir dari lingkungan secara bersama-sama oleh warga. Itu sebabnya banyak sekali orang terlibat dan kegaduhan artistik diperlukan karena Bhuta Kala tidak menghendaki keadaan itu.

Bicara Bali maka bicara pariwisata nasional dan dunia karena seolah eksistensi faktual Bali untuk pariwisata. Pemerintah Bali juga menumbuhkembangkan seni pembuatan ogoh-ogoh ini sehingga lomba rancangan ogoh-ogoh antar banjar selalu diadakan saban tahun; pemenangnya diberi piala yang prestisius.

Bahkan, subsidi pembuatan Ogoh-ogoh juga diberikan Pemerintah Kota Denpasar kepada masing-masing banjar di wilayahnya; tahun lalu jumlahnya Rp3.000.000. Jumlah itu sebetulnya masih sangat kurang karena biaya pembuatan ogoh-ogoh terhitung cukup mahal, bisa puluhan juta rupiah yang ditanggulangi secara patungan atau sponsor dari banyak pihak, termasuk perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah banjar-banjar itu.

Setahun lalu, dana sebanyak Rp27 juta harus dikeluarkan untuk membuat ogoh-ogoh bertajuk “Candra Baewara” dari Banjar Tainsiat, Desa Dangin Puri Kaja, Kota Denpasar.

Dana sebanyak itu dianggap wajar karena material ogoh-ogohnya cukup mewah, mulai bulu merak, rambut kuda, bulu kasuari dari Irian, sampai kain beludru kualitas prima.

Bahkan bambu hitam untuk dijadikan usungan ogoh-ogoh itu didatangkan langsung dari Kalimantan, sehingga berat total ogoh-ogoh itu mencapai 800 kilogram! Tentu saja ukurannya juga besar dan “sesuai” denga uang yang dirogoh dari kocek banjar.

Tahun ini subsidi seperti itu jauh panggang dari api. Namun itu tidak menyurutkan anak-anak muda Bali untuk membuat ogoh-ogoh, karena membuat dan mengarak ogoh-ogoh sudah menjadi satu kewajiban beragama. Jika ada yang mengaitkan pembuatan ogoh-ogoh itu dengan prestise satu banjar maka hal itu jadi gugur karena alasan religi dan budaya itu.

Peminat Ogoh-ogoh ini bukan saja dari kalangan tertentu saja melainkan diminati dari semua kalangan , mulai dari anak kecil, tua muda juga wisatawan dari mancanegara. Ogoh-ogoh juga memang bukan milik pemuda atau yang berbadan kuat saja untuk mengarak dia. Kini anak-anak juga bisa melakukan hal itu karena sudah ada yang membuat dan menjual ogoh-ogoh berukuran mini yang dibuat secara rumahan belaka.

Satu pembuatnya, Mangku Ketut Wirana, di Denpasar Timur, mengaku ogoh-ogoh buatannya berukuran satu meter itu cukup laku. Sejak beberapa pekan lalu, tidak kurang tiga ogoh-ogoh perhari bisa dilepas kepada pembeli yang datang.

“Saya menjual ogoh-ogoh mini ini sejak tahun lalu. Tujuannya untuk anak-anak yang ingin ikut mengarak, khan mereka tidak kuat mengarak ogoh-ogoh ukuran besar. Sekarang malah cukup diminati dan ada juga yang memborong,” katanya. Akan cukup unik jika ogoh-ogoh mini ini ikut diarak bersanding dengan “kakak-kakak”-nya yang berukuran maksi.

 

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s