Belajar Mencintai dari Habibie

 

BJ Habibie memang pernah menulis buku fenomenal berjudul ‘Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.’ Namun buku Habibie dan Ainun yang diterbitkannya pada November 2010 lalu justru saya anggap lebih fenomenal, sebab hingga kini buku itu masih dianggap hangat masyarakat


Semenjak istrinya, Hasri Ainun Habibie, berpulang ke Rahmatullah pada 23 Mei 2010, Habibie mengaku sangat terpukul. Karena itu Habibie harus menjalani perawatan psikologi yang salah satu caranya dengan terapi menulis. Hasil tulisan inilah yang dibukukan dan berjudul Habibie dan Ainun. Untuk menulis buku setebal 335 halaman, Habibie membutuhkan waktu sekitar 4 bulan. Buku yang dimaksudkan untuk mengenang Ibu Ainun ini bagi Habibie merupakan anugerah yang luar biasa dari Sang Pencipta. Ia mengakui ketidakmampuannya dalam menorehkan kata-katanya di atas kertas tanpa kekuatan cinta dan anugerah dari Sang Kholiq.

“Saya bukan pujangga, tapi pernah menulis kata-kata yang menurut orang memiliki pesan-pesan cinta yang luar biasa pada saat kami berada di Tanah Suci bersama almarhum istri saya. Dalam waktu lima menit saya bisa menulis kata-kata yang sangat luar biasa. Dan itu mustahil tanpa kekuatan dan anugerah dari Alloh SWT,” ujar Habibie pada peluncuran bukunya medio November lalu di Jakarta. Mantan Presiden RI ketiga ini menyebut lahirnya buku ini akibat sampingan saja. Namun karena tulisannya perlu diketahui masyarakat, maka lahirlah buku ini.

Membaca buku Habibie dan Ainun, sama saja mengikuti penuturan Habibie. Didalamnya, pembaca akan mendapatkan cerita – cerita yang begitu indah dan romantis dari kejadian – kejadian yang luar biasa. Terkadang malah terasa seperti reportase sebab semuanya didasarkan pada fakta. Misalnya, kisah pertemuan ia dengan Ainun. Dalam buku itu, dijelaskan sepulang studi di Jerman barat selama tujuh tahun, Habibie memberanikan diri mendekati Ainun yang notabene mantan adik di SMA Kristen, Bandung.

Ketika itu, Habibie tak menyangka Ainun sudah menjadi dokter berparas cantik. Padahal, dahulu sewaktu SMA, Habibie sering mengolok Ainun yang gemuk dan hitam. “Saya tak menyangka bertemu dengan Ainun, reaksi spontan saya, ‘Ainun kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!” ungkapnya seperti dalam buku. Alumnus teknik mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengakui, ejekan yang kerap dilontarkannya kepada Ainun saat SMA dikarenakan guru – guru di SMA mereka seringkali menjodohkan keduanya. Keduanya memang dikenal sebagai murid yang pandai.

“Yang menyinggung perasaan saya adalah terlalu sering diucapkan oleh guru di dalam kelas Ainun dan kelas saya bahwa saya dan Ainun pantas kelak menjadi suami isteri, sehingga keturunan kami menjadi pintar-pintar. Reaksi kami malu dan kawan-kawan saya sering membuat komentar tambahan yang menyinggung perasaan,” terangnya.

Namun waktu yang merubah penampilan seseorang juga. Ainun telah menjadi sosok wanita ayu dan terpelajar. Itulah yang ‘ditangkap’ Habibie saat pertemuan mereka, sepulang dari Jerman Barat. Sayangnya ketika itu, kawan-kawannya malah mengatakan bahwa Habibie tak akan mampu bersaing dengan lelaki yang sudah lebih dahulu mengincar Ainun, seorang anak dari tokoh terkemuka, berpendidikan lebih tinggi, tampan dan berada. Berkaitan dengan itu, Habibie mengucap, “Jikalau memang Ainun ditakdirkan untuk saya dan saya untuk Ainun, maka Insya Allah Ainun akan menjadi isteri saya dan saya menjadi suami Ainun.”

Begitulah, akhirnya Ainun dipersunting Habibie. Dan tak terasa pula, dirinya dan Ainun telah menghabiskan waktu selama 48 tahun 10 hari dalam ikatan pernikahan. Sebuah angka juga dimana ia dan Ainun harus berpisah. Tepat 10 hari menjelang ulang tahun perkawinan mereka, Ibu Ainun menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Ludwig Maximilian University (LMU) Muenchen, Jerman. Habibie ada disamping almarhumah, baik ketika sakit hingga akhir hayatnya. “Saya yakin revolusi kehidupan itu telah diatur oleh Allah. Ainun selalu ada di hati saya,” urai Habibie dalam peluncuran bukunya.

Kecintaan Habibie pada almarhumah istrinya inilah yang menyihir banyak orang di Indonesia. Umumnya mereka terinspirasi dari kisah Habibie – Ainun, khususnya dalam hal bagaimana menjadi suami atau isteri yang baik serta bagaimana membangun keluarga ideal terbaik. Perihal kecintaan Habibie pada istrinya, Komaruddin Hidayat menyatakan, ‘Habibie bukan hanya professor engineering, tapi juga professor cinta.’ Ia juga menyebut Habibie mencintai Ainun dengan sepenuh hati, diantaranya karena Habibie hafal betul hari – hari dan tanggal kebersamaannya dengan Ainun.

Bahkan menurut penyair Taufiq Ismail, buku Habibie dan Ainun merupakan karya yang terlahir dari kejujuran dan ketulusan cinta. “Ini merupakan karya beliau yang tidak mudah untuk dituangkan dalam sebuah karya. Tidak mudah itu,” ucapnya sesaat peluncuran buku tersebut. Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Budaya Jero Wacik mengatakan, buku Habibie dan Ainun merupakan karya yang patut dibanggakan dan diwariskan kepada generasi muda di Indonesia. “Ini karya yang sangat indah, faktual, dan penuh dengan romantisme yang sangat indah,” jelasnya. Hal yang sama pun diungkapkan mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif. Menurutnya, buku ini adalah sebuah karya yang ditenun dan dibingkai dengan perasaan cinta suci yang mendalam, tulus dan sarat nilai.

Apalagi buku ini juga tak hanya berisikan kisah cinta mereka berdua saja. Lebih dari itu, ada pula kisah dibalik pendirian Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) hingga dibalik layar pemunculan dan terbang perdana pesawat buatan anak bangsa N250 Gatotkoco. Maka jangan heran, jika setelah 4 bulan peluncurannya, buku ini masih diburu masyarakat. Seperti yang terlihat di toko Gunung Agung Margo City, Depok, Jawa Barat pada akhir Februari lalu dimana masyarakat berebut membeli buku Habibie dan Ainun yang disediakan penjual sebanyak 500 buku. Hebatnya, dua jam sebelum acara launching buku di Depok itu, antrean sudah mengular. Dan dalam dua jam saja buku tersebut laku terjual sampai 300 buku. Antusias ini terjadi setelah Habibie bersedia meluangkan waktu untuk menandatangani 500 buku yang disediakan. dbs

 

 

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Pustaka. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s