Dunia Bersatu Atasi Gejolak Pangan

Dunia bersatu untuk mengatasi gejolak pangan. Jepang memimpin negara-negara untuk mengelola dana kelompok guna menstabilisasi pangan. Pada tataran lokal pemerintah membuat berbagai kebijakan yang mendorong pertumbuhan produksi.

Penduduk La Paz Bolivia bergandengan tangan mempriotes pemerintah karena kenaikan harga pangan. Mereka melakukan longmarch di Ibu kota Bolivia, bahkan rela melakukan aksi meskipun hujan turun deras. Tuntutan mereka adalah harga pangan lebih murah dan bisa dinikmati rakyat.  Berbeda dengan demontrasi yang berlangsung di Libya, unnjuk rasa berlangsung aman. Tidak ada korban jiwa dalam ujnjuk rasa, aparat keamananpun mudah menghalau demonstran.

Rakyat Bolivia memprotes kenaikan harga bahan pokok khususnya gula. Bulan sebelumnya Presiden Eva Morales juga diprotes karena menghapus subsidi BBM dan berdampak pada naiknya biaya transportasi distrubusi pangan.

Sebelumnya, banyak lembaga dunia sudah memberikan peringatan atas gejolak harga pangan. Kenaikan harga pangan memungkinkan gejolak politik bahkan berujung pada hancurnya sebuah rezim. Ini adalah tren global yang harus diwaspadai oleh pemerintah dari belahan dunia manapun.

Bersatu

Tren global ini nampaknya menimbulkan kekhawatiran untuk pemimpin negara. Pertemuan negara-negara yang tergabung dalam G-20 akhirnya sepakat untuk menunjuk Jepang sebagai koordinator kajian penghimpunan dana dalam bentuk pooling fund. Dana yang dihimpun tersebut akan digunakan untuk melakukan stabilisasi harga pangan dunia.

“Kemarin dipelajari kemungkinan adanya kerjasama untuk menghimpun dana untuk financing terkait inisiatif-inisiatif untuk meningkatkan dan menstabilitasi pangan. Pemerintah Jepang ditunjuk sebagai koordinator untuk menindaklanjuti kajian tersebut dan kajian terhadap komoditi ataupun pangan yang nantinya akan dilaporkan pada pertemuan yang akan datang,” ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo.

Dalam pertemuan itu, masih kata Agus, tema sentral yang terus dibicarakan adalah soal ancaman harga pangan dunia. Ancaman kenaikan harga pangan kemudian dikaitkan dengan ancaman lainnya seperti masalah kelangkaan energi. Masih teringat beberapa waktu lalu, sesaat harga minyak mentah sempat meninggi. Suhu politik kawasan ditenggarai sebagai penyebabnya.

“Dan ini yang dilihat adalah bagaimana secara internasional kita bisa mengatasi itu, atau pun secara nasional kita bisa mengatasi itu,” ungkap Agus.  Dikatakan Agus, di tingkat internasional, proses untuk mekanisme untuk menurunkan harga pangan itu dicari sebuah jalan agar bisa dijaga dan dikelola dengan prinsip-prinsip yang sehat. Justru yang sangat dikhawaitrkan, sambung Agus adalah apabila ada unsur-unsur spekulatif yang dilaksanakan secara global, yang bisa memengaruhi harga pangan ataupun energi.

Bahaya Spekulasi

Negara-negara dunia patut mengkhawatirkan kegiatan spekulasi. Maklum saja, para pengejar margin tersebut mampu membuat pasar kalang kabut dengan kekuatan modal mereka. Dalam situasi penuh ketidakmenentuan seperti sekarang ini, tingkah polah spekulan patut diwaspadai.

Saat ini, ketika terjadi kelangakaan pangan dan energi, karena berbagai tekanan social, ekonomi mauoun faktor lain yang bersifat endogen, ekspektasi pemain pasar pada harga komoditi naik dimasa mendatang. Membeli saat ini dipasar spot dan menjualnya di lagi beberapa saat kemudian tentu menguntungkan.

Terkait dengan kemungkinan ada pemain yang mencoba mengacaukan pasar, Agus Martowardojo menekannkan akan berbicara di forum G20 agar tidak ada kegiatan spekulasi yang memberikan tekanan pada harga pangan.  “Ini termasuk kegiatan-kegiatan future trading. Biasanya perusahaan keuangan maupun non keuangan bisa melakukan forward buy, forward sell, dan dia juga bisa masuk ke transaksi future yang tidak ada underlying transaksinya. Ini bisa menciptakan demand yang tinggi dan bisa membuat harga-harga bergerak,” tutur Agus di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (16/2/2011).

Masih ungkap Agus, mencegah kegiatan spekulasi adalah cara jangka pendek untuk mencegah terjadinya kenaikan harga pangan. “Nah G20 sebagai negara-negara yang memengaruhi ekonomi dunia menyampaikan bahwa industri-industri keuangan dan non keuangan global jangan berspekulasi di pangan ataupun di komoditi,” imbuh Agus.

Tingkatkan Produksi

Indonesia pantas khawatir dengan ketahanan pangannya. Dari sisi produksi, pertumbuhan pangan nasional belum terlalu hebat. Pertumbuhan produksi padi sebetulnya meningkat. Pada periode 2006-2007, pertumbuhan produksi padi naik mencapai 4,9 persen. Periode berikutnyapun naik menjadi 5,5 persen bahkan 6,75 persen. Sayangnya pertumbuhannya turun pada periode 2009-2010.

Sementara, jumlah penduduk yang besar mencapai 237 juta penduduk serta  laju pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,5 persen per tahun menjadi tantangan pemerintah untuk menyediakan pangan yang sehat dan bergizi. Adalah tantangan pemerintah juga untuk membebaskan masyarakat yang besar dari ketergantungan beras sekaligus memupuk kemandirian pangan setiap wilayah.

Beberapa cara dlakukan baik oleh pemerintah daerah maupun pusat. Pemda misalnya memanfaatkan lahan tidur untuk meningkatkan produksi pangan khususnya padi demi menekan ketrgantungan impor. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara rencananya akan mengelola 379.000 hektar lahan tidur tersebut.  Adapun fokus pengembangan tanaman pangan itu lebih diutamakan di kawasan pantai barat yang masih tertinggal dibandingkan dengan daerah di kawasan pantai timur, dan luasan lahan yang lebih banyak belum termanfaatkan.

Tetapi untuk bisa memanfaatkan lahan tidur itu, perlu dulu investasi awal semisal membangun saluran irigasi, pemberian benih gratis, pengadaan pupuk yang memadai hingga upaya mengantisipasi anomali cuaca. Investasi sector public seperti yang dilakukan Pemprov Sumut penting untuk menciptakan multiplier yang besar. Akan sangat baik bila Pemprov menyerap lapang kerja yang besar untuk sector pertanian.

Sementara kebijakan pusat yang tidak kalah pentingnya adalah seperti yang dilakukan Kementrian Pertanian untuk mengirim tenaga pendamping bagi provinsi yang mengalami gagal panen.  “Kita siagakan penuh para penyuluh di dinas-dinas pertanian, supaya mekanisme laporan dari petani itu sampai. Artinya masalah yang ada di daerah, bisa segera diatasi. Kami yang ada di pusat ini siap untuk terjun ke lapangan,” kata Suswono.

Suswono optimis dengan terkirimnya tenaga pendamping tersebut produksi beras naik 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tambah Suswono, kementrian juga akan mengirimkan masing-masing satu peneliti untuk mendampingi 193 kabupaten yang menjadi sentra padi. Fungsi mereka selain sebagai pendamping adalah mencoba menangkap persoalan yang terjadi di lapangan.  “Laporan yang mengandalkan Bupati atau dinasnya itu masih kurang. Mereka kurang tanggap terhadap kasus hama penyakit. Karena itu kita sudah siapkan beberapa langkah antisipasi,” katanya.

Kementerian juga berencana untuk menyiapkan benih super yang  tahan genangan, tahan kekeringan dan antisipasi serangan hama wereng. Diharapkan, saat panen raya pada Maret-April mendatang benih-benih para petani masih siap dipanen. Program lain yang disiapkan adalah membuka sekolah lapangan pengelolaan tanaman terpadu agar petani bisa berkomunikasi langsung dengan para peneliti pertanian.

Semua cara nampak bagus dan punya potensi untuk meningkatkan produksi. Rakyat menunggu realisasi pemerintah.

 

 

“Disiapkan sekolah lapangan perihal iklim untuk memberikan petani informasi yang tepat. Termasuk memilih komoditas yang bisa ditanam di wilayah dengan iklim berbeda. Inpres bantuan langsung pupuk dan benih unggul bagi petani, saat ini juga sudah ada di meja Presiden. Dalam waktu dekat akan turun,” ucap Suswono.(afz/jpnn)

 

 

Box

 

Sosialisasikan Pangan Non Beras

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat Indonesia untuk mengolah, memakan dan melestarikan pangan non beras. Pangan non beras tidak kalah gengsi dan bergizi dibandingkan beras.  “Rata-rata tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai sekitar 120 kilogram per orang per tahun. Kecenderungannya meningkat. Kita, utamanya pers, perlu menyosialisasikan agar ada diversifikasi pangan non-beras,” kata Kepala Negara saat menerima masyarakat pers nasional di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat.

Harus diakui sejumlah daerah Indonesia memiliki panganan khas yang berasal dari produk non beras. Selain beras, jagung, kentang, sagu, umbi-umbian bisa tumbuh subur di bumi Indonesia. SBY mengaku bahagia karena sejumlah daerah mulai mengembangkan panganan khas mereka. “Saya gembira masyarakat di sejumlah provinsi kembali mengembangkan tanaman jagung, seperti Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur,” ungkap Kepala Negara.

Diversifikasi pangan penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap beras. Indonesia, boleh jadi adalah salah satu negara dengan konsumsi beras terbesar didunia. Bila Indonesia sanggup diversifikasi tentu bisa menyimpan 90 kilogram perkapita sampai 100 kilogram perkapita setiap tahunnya. Indonesia bisa mencontoh Thailand, mereka Putih mampu memproduksi 70 juta ton berasp tahunnya, namun konsumsi beras hanya 70 kilogram per kapita per tahun.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Fokus Utama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s