Padat Karya dari Lereng Merapi

 

Program cash for work tahap pertama baru berakhir. Bagaimana ceritanya ?

Ketika kita merenungkan, seperti apakah sifat dan corak manusia Indonesia itu, dari berbagai media terekamlah sebuah sikap brutal dan malas. Namun tidak semuanya. Karena Mbah Marjo warga desa Tlogolele Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali yang berusia 70 tahun, justru masih ingin kerja. “Tasih kuat, kudu melu kerjo (masih kuat harus ikut kerja),” katanya kepada Komite. Mbah Marjo seolah ingin menghapus stigma usia menaklukkan produktivitas.

Tidak mau kalah dengan Mbah Marjo, Sarjuki seorang petani dari desa yang sama dengan Mbah Marjo mengaku lebih senang bekerja dibanding menerima bantuan. “Lebih baik kerja seperti ini daripada menunggu bantuan,” katanya.

Mbah Marjo dan Sarduki adalah dua orang dari banyak penduduk yang mengikuti program cash for work, atau bisa disebut program padat karya yang pemerintah operasionalkan di empat kabupaten (Sleman, Boyolali, Magelang dan Klaten), 10 Kecamatan dan 48 desa. Empat Kabupaten ini ikut hancur dalam erupsi Gunung Merapi beberapa waktu lalu. Akibat letusan itu sangat dahsyat. Warga kehilangan mata pencaharian dan asset produktifnya. Sapi mereka tewas, sawah ladang rusak. Tak ketinggalan semua infrastruktur desa seperti jalan tertutup pasir. Belum lagi pepohonan yang dulunya hijau mengering karena awan panas, sehingga berpotensi menimbulkan bahaya kala musim hujan mengingat tidak ada lagi tanaman yang mengikat tanah dan air.

Ambillah contoh dari desa Tegal Randu Kecamatan Srumbung. Wilayah Srumbung merupakan salah satu wilayah yang paling berat terkena dampak Bencana erupsi Gunung Merapi, khususnya pada areal perkebunan salak yang merupakan produk utama wilayah ini. Sebagian besar perkebunan salak khas Kabupaten Magelang, yaitu Salak Lumut, mengalami kerusakan berat tertimbun pasir vulkanik. Sarana dan prasarana fisik juga tak luput mengalami kerusakan. Saluran irigasi dan air bersih yang berasal dari sungai di wilayah sekitar Dusun Pule Desa Tegal Randu tidak berfungsi diakibatkan oleh tumpukan pasir dan batu.

Sesuai dengan tujuannya, program padat karya bertujuan memberikan bantuan kepada penduduk yang terkena bencana. Mereka adalah pengungsi dan penduduk lokal yang kehilangan usaha dan pekerjaan. Selain itu padat karya bermanfaat untuk memfungsikan kembali secara minimal sarana prasarana yang rusak karena bencana, sekaligus mendukung dimulainya kembali kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Program padat karya juga membantu masyarakat yang harus menunggu selama proses pendataan kerugian berlangsung, mereka bisa beraktivitas sosial ekonomi.

Ketua Tim Pemulihan Kegiatan Ekonomi Masyarakat di Lokasi Bencana Sujana Royat mengatakan tujuan dari cash for work adalah memberikan tambahan penghasilan kepada masyarakat terdampak letusan Gunung Merapi agar bisa dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan lainnya.

Seperti yang Komite kutip dari Antara, besar anggaran yang untuk program cash for work adalah Rp 551,769 miliar. Anggaran itu diperoleh dari sejumlah kementrian. Kementerian Pendidikan Nasional telah merealokasikan dana sebesar Rp299,646 miliar, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar Rp 6,9 miliar, Kementerian Perumahan Rakyat menyiapkan dana Rp 2,616 miliar untuk penanggulangan bencana, dan Rp177,4 miliar untuk keperluan perumahan. Khusus untuk program padat karya di Kabupaten Sleman, Klaten, Magelang dan Boyolali yang berakhir 31 Desember lalu menghabiskan dana Rp 8 miliar.

Semangat Kebersamaan

Ide padat karya adalah briliyan bila ditengok dari sudut pandang manusia. Sebagai mahluk yang memiliki segudang potensi, manusia sanggup secara bersama-sama mengatasi hambatan di lingkungannya. Rumah yang rusak diperbaiki, jalan yang kotor dibersihkan, tanah yang gersang ditanami kembali. Dalam kebersamaannya manusia menemukan identitasnya sebagai mahluk sosial.

Dari program padat karya tahap pertama, yang dilakukan 13 Desember 2010 -31 Desember 2010, nampak warga sangat antusias. Misalnya saja  penyelenggaraan padat karya infrastruktur di Desa Jrakah Kecamatan Selo. Sebelum terjun ke lapangan, masyarakat berkumpul untuk mendengarkan sosialisasi dari Perangkat Desa. Mereka menjelaskan seputar pelaksanaan kegiatan Penyelenggaraan Padat Karya Infrastruktur. Selanjutnya kegiatan lapangan bisa dimulai dengan mengukur dan memasang tali patok guna memperbaiki jalan lingkungan desa dan jalan poros desa. Setelah itu barulah perbaikan jalan bisa dilakukan.

Setali tiga uang, Dusun Pule Desa Tegal Randu Kecamatan Srumbung melalui proses yang sama. Hasilnya, sumber air yang berasal dari sungai berhasil dibuat, sayangnya banjir lahar dingin pada 3 Januari 2011 menghancurkan kembali.

Yang menarik, selain gotong royong warga, ternyata ada juga selain pemerintah yang memberikan bantuan. Misalnya bantuan pipa dan semen yang berasal dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ini adalah bentuk kerjasama postif antara warga dusun dan kelembagaan.

Tetapi manfaat padat karya tidak berhenti sampai disitu. Yang lebih penting adalah munculnya harapan warga bahwa ada harapan lebih baik di masa depan. Selain tentunya adanya tambahan pendapatan selama mereka tidak bisa berproduksi. Sekedar info, bagi masyarakat yang ikut program padat karya, mereka menerima  Rp30.000 per hari untuk pekerja yang tidak memiliki keahlian dan Rp50.000 – Rp70.000 per hari untuk pekerja dengan keahlian. Upah itu harus dibayarkan per hari karena belum tentu masyarakat yang ikut program bisa mengikuti program tersebut terus menerus setiap hari.

Dari program padat karya di empat kabupaten itu terserap 18,294 tenaga kerja. Meskipun bersifat informal dan sementara namun manfaatnya terasa bagi penduduk.  Tentunya kita berharap makin banyak program yang bersifat padat karya. Semoga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Testimoni

Box

Kegembiraan Zainuddin

Bapak Zainuddin, seorang petani, ikut padat karya selama 18 hari. Kebun cabai seluas 2 petak yang seharusnya akan dipanen rusak total akibat debu vulkanik, sehingga kehilangan potensi pendapatan yang cukup besar. Penghasilan dari keikutsertaan padat karya membersihkan lingkungan dusun Ngentak, dapat telah membangkitkan kehidupan ekonomi keluarganya sepulang dari tempat pengungsian. Selain dapat digunakan oleh Ibu Zainuddin untuk belanja untuk makan seharinya, penghasilan tersebut dapat disisihkan untuk cukup membeli bibit kacang tanah untuk ditanam di kebunnya menggantikan cabai yang telah rusak. Kini keluarga tersebut sudah mulai bersemangat dan termotivasi untuk bekerja dan berproduksi kembali membangun ekonomi keluarga yang sempat terganggu akibat dampak bencana erupsi Gunung Merapi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pekerja sedang membersihkan Jalan lingkungan desa yang juga merupakan jalan jalur menuju areal pertanian di Desa Jrakah Kecamatan Selo.

 

 

 

 

 

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Fokus Utama. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Padat Karya dari Lereng Merapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s