Menelusuri Sejarah Batak

Pendiri museum Batak mengklaim pendirian museum itu sebagai contoh dan untuk memberikan motivasi bagi generasi muda untuk belajar tentang kebudayaannya.

Pendirian fasilitas umum itu bukan karena kekayaan harta, namun seperti filosofi Jawa yakni Sugih Tanpo Bondo.
Sebagai museum termodern di Sumatera Utara, desain interior gedung itu sangat menarik. Lokasi museum yang berada persis di samping Museum TB. Silalahi Centre, kira-kira 1,5 km dari kota Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Memasuki gerbang TB. Silalahi Center kita sudah bisa langsung menuju lokasi museum. Di pelataran gedung terdapat patung seekor kerbau ditunggangi seorang anak bertelanjang dada sedang membaca buku.

Di sebelah kiri gedung berdiri patung identifikasi Siraja Batak dengan tongkat Tunggal Panaluan dan Piso Halasan. Dekat pijakannya dua prasasti bertuliskan tiga falsafah (kekayaan, kebahagiaan, kehormatan) dan lima nasehat (bersihkan hatimu, tubuhmu, pakaianmu, rumahmu, pekaranganmu) dengan menggunakan aksara varian Toba. Kesannya Siraja Batak berdiri di atas Gunung Pusuk Buhit dengan lanskap Danau Toba.
Tembok setinggi 2,5 meter menjadi latar pertama pelataran sebelum menaiki tangga menuju gedung museum. Di antara tembok itu terdapat diorama enam puak secara terpisah dan dimulai dari sebelah kanan tembok dengan diorama Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Angkola, dan Pakpak. Itulah salah satu yang menarik dalam eksterior museum selain dapat menelusuri bagian belakang yang menghadapkan kita dengan pemandangan sawah dan Danau Toba yang indah.
“Museum Batak” berada di Balige dengan konstruksi megah dan modern. Berdiri di atas lahan sekitar lima hektar. Konstruksi gedung seluas 3.356 meter persegi dengan empat level, memiliki fungsi masing-masing untuk kegiatan pertunjukan, kantor, penyimpanan artefak dan mini kafe.
Ornamen bangunan gedung “Museum Batak” dari bahan logam composite dengan motif ukiran yang dibentuk dengan 4.500-an lubang. Museum itu dibangun untuk menyimpan artefak dan benda-benda bersejarah yang pernah ada dalam peradaban Batak. Ada sekitar 1.000 artefak dijadikan bahan pameran sebagai langkah awal publikasi untuk masyarakat luas dan bahan evaluasi untuk persiapan grand opening yang akan dilaksanakan pada 18 Januari 2011 ini.
Enam Puak
Batak dikenal secara antropologis terdiri dari lima puak, yakni: Angkola/Mandailing, Toba, Pakpak/Dairi, Simalungun dan Karo. Pijakan antropologis yang sudah ada ini dapat berkembang dalam pertarungan lain, seperti kepentingan sejarah, politik tradisional, ideologi, dan komersialisasi kebudayaan.
Contoh terkait dalam kepentingan sejarah seperti dilansir dari harian analisa, Batak menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ikhwan Azhari dan kelompok Pusat Studi Ilmu Sejarah (Pussis) Unimed Negeri Medan baru-baru ini dikonstruksi oleh Jerman dan Belanda. Istilah Batak itu dianggap bukan hasil pengakuan orang-orang Batak sendiri; namun dari pihak lain seperti Jerman dan Belanda. Penelitian Ikhwan Azhari didasarkan kepada sumber-sumber sekunder yang ada di Jerman, meskipun perdebatannya belum masuk ke level akademis.
Dalam politik tradisional juga Batak tidak selalu diakui dalam kesatuan kelima puak, karena perbedaan kecenderungan kepemimpinan. Misalnya di Simalungun dan Mandailing sempat terjadi kecenderungan feodal. Di Toba, Pakpak dan Karo ada kecenderungan komunal. Dalam konteks perkebunan dan kolonial, identifikasi Batak bagi orang Karo, lebih awal melekat dibandingkan dari orang Toba. Orang Mandailing karena pengaruh ideologi Islam Paderi menyebut dirinya bukan Batak.
Penelitian antropologis yang dilakukan oleh Z. Pangaduan Lubis, selalu ingin menegaskan Mandailing bukan Batak; namun suku tersendiri yang punya muasal tersendiri. Mitos Siraja Batak juga tidak sepenuhnya dapat dipahami kelima puak yang tergabung dalam kesatuan antropologi itu.
Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Batak juga menjadi kesatuan gerakan pemuda bersamaan dengan Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera. Dari satu sumber yang ditemukan, Jong Batak dirintis oleh seorang dari marga Sinaga di Tanah Jawa, Simalungun.
Pihak TB. Silalahi Center berperan penting dalam pembangunan museum. Lokasi museum berada persis di samping Museum TB. Silalahi Centre, kira-kira 1,5 km dari kota Balige. Mengikuti informasi enam puak yang dilibatkan dalam acara itu diperkirakan 16 kabupaten akan mengisi stand yang tersedia. Standar display sudah sangat mencukupi dan daya tampung ruang pameran mencapai 500 pengunjung dengan 25 titik kamera di dalam bangunan. Ke depan, gedung akan dilengkapi lagi dengan fasilitas wi-fi dan proyektor.
Semua artefak yang dipamerkan pada kesempatan yang dihadiri berbagai pejabat nasional, lokal, pengusaha, para bupati dan tokoh adat, masih merupakan milik Museum TB. Silalahi Centre dan pinjaman dari pemerintah lokal lainnya serta masyarakat. Ke depan ada harapan benda-benda yang ada di Jerman dan Belanda dapat diboyong kembali ke sana melalui prinsip kerjasama negara.
Koordinasi pendirian museum itu memang sudah dilakukan dengan pemerintah Republik Indonesia dan pihak Museum Sumatera Utara. Kehadiran Barbara Brouwer (dari Belanda) mengisyaratkan adanya harapan itu bagi Letjen TB. Silalahi dua hari sebelum acara.
Menurut Letjen TB. Silalahi, pendirian museum ini merupakan contoh saja dan untuk memberikan motivasi bagi generasi muda untuk belajar tentang kebudayaannya. Ia sebelumnya telah mendirikan Museum TB. Silalahi Center. Pendirian fasilitas umum itu bukan karena kekayaan harta; namun sesuai dengan filosofi Jawa: Sugih Tanpo Bondo.
Sebagai “Museum Batak”, fasilitas umum belum menjadi nama yang sudah final. Nama museum itu masih terbuka namanya untuk diajukan. Dalam kesempatan memberikan sambutan saat itu, para bupati yang hadir sempat mengiyakan nama museum dengan: Museum Batak Bonapasogit. Semoga tidak tergantung para bupati.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s