RSCM Berhasil Transplantasi Hati Pada Orang Dewasa

Transplantasi hati pada orang dewasa sudah dapat dilakukan di negeri ini. Jadi, tak ada lagi kamus ke luar negeri untuk sekadar transplantasi hati.


Indonesia memang sudah bisa melakukan operasi transplantasi hati dengan sukses selama ini. Namun hal itu hanya dilakukan kepada pasien anak yang umumnya menderita atresia bilier. Torehan sejarah itu dilakukan sekitar tiga tahun lalu di Semarang dan Surabaya. Di dunia, transplantasi hati pada manusia pertama kali dilakukan pada 1963 oleh Thomas Starzl di University of Colorado. Tetapi kala itu angka ketahanan hidup dalam satu tahun pertama masih rendah sekitar 25 persen.

Lantas di awal tahun 1980 diketahui berbagai kemajuan di bidang transplantasi hati sudah dicapai seperti teknik operasi, tata laksana pascaoperasi, serta donor mengakibatkan terjadinya peningkatan angka ketahanan hidup yang tingga yaitu 85 persen. Kemudian pada 1985, National Institutes of Health Concensus Development Conference menyatakan bahwa transplantasi hati bukan lagi tindakan uji coba melainkan tindakan terapeutik yang akan dipergunakan luas. Bahkan sejak dilakukan di China pada 1989, keberhasilan cangkok hati dengan melibatkan donor hidup berpeluang lebih besar menyelamatkan pasien 80 hingga 90 persen

Dari situ, transplantasi hati dikenal sebagai salah satu penemuan besar di bidang kedokteran modern dan menjadi suatu pilihan terapeutik yang dapat menyelamatkan jiwa pasien penyakit hati kronik serta gagal hati akut. Operasi transplantasi hati dilakukan dengan mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat dari donor cadaver atau mayat maupun donor living atau hidup.

Di Indonesia, masalah penyakit hati kronik merupakan masalah kesehatan yang besar dengan jumlah mencapai 20 juta jiwa.  Sebagai contoh, jumlah kasus kelainan hati anak atau atresia bilier cukup tinggi yakni sekitar 25 sampai 30 bayi per tahun di Jakarta Presiden Direktur RS Cipto Mangunkusumo Jakarta Akmal Taher mengatakan, operasi transplantasi hati di Indonesia masih sangat terbatas baik teknik operasi maupun obat-obatan oleh karena itu dibutuhkan tenaga ahli untuk alih teknologi.

Selama ini, penderita penyakit hati kronik selalu menuju ke luar negeri untuk mengobati penyakitnya. Untuk melakukan hal itu dibutuhkan biaya yang sangat besar. Pada beberapa negara operasi tranplantasi hati membutuhkan biaya yang cukup besar dan berbeda-beda. Di Tiongkok biayanya diperkirakan ada pada kisaran Rp 500-550 juta, di Jepang sekitar Rp900 juta- Rp1 miliar, di Singapura sekitar Rp1,1 miliar-2 miliar.

Medio Desember lalu upaya untuk melakukan transplantasi hati di Indonesia berjalan dengan sukses. Untuk pertama kalinya Tim Transplantasi Hati FKUI-RSCM bekerjasama dengan Tim Transplantasi Hati Hepatobiliary and Pancreatic Diseases First Affliated Hospital Zhejiang University School of Medicine, China melakukan transplantasi hati bagi pasien dewasa pada 13 Desember 2010 lalu. Transfer pengetahuan di bidang pendidikan dan penelitian dilakukan agar selanjutnya Indonesia bisa melakukan operasi dengan mandiri dan tidak perlu operasi ke luar negeri.

Transplantasi hati itu dilakukan kepada empat pasien yakni satu pasien dewasa dan satu pasien anak di RSCM dan dua pasien dewasa di RS Puri Indah Jakarta. Pasien pertama dalam transplantasi hati ini adalah seorang berusia 44 tahun dengan donor anaknya sendiri yang berusia 18 tahun. Pasien menjalani transplantasi hati karena mengalami sirosis (pengerasan hati) akibat penyakit hepatitis B kronis. Keluhan pasien dimulai 2004 dengan gejala mual, muntah, nyeri ulu hati dan mata menguning. Tahun 2010 diketahui ia mengalami sirosis hati tahap lanjut. Setelah mendapat persetujuan, akhirnya operasi transplantasi dilakukan pada 13 Desember lalu. Dalam operasi itu seluruh hati pasien diangkat dan digantikan dengan hati di sisi sebelah kanan donor yang berusia lebih muda.

Sementara, operasi transplantasi kedua dilaksanakan pada anak berusia 6 tahun dengan donor sang ayah yang berusia 33 tahun. Keluhan awal pasien adalah lemas serta mata kuning. Pasien lantas didiagnosa mengalami penyakit hepatitis autoimun dan  mencapai gagal hati tahap akhir. Pasien sudah mengalami perawatan beberapa kali dan juga telah diketahui mengalami sirosis hati. Setelah persetujuan didapat, operasi dilakukan pada 15 Desember. Seluruh hati pasien diangkat dan diganti dengan sebagian hati lobus kiri sang ayah. Hingga berita ini diturunkan pasien dan donor dalam kondisi stabil dan dirawat ICU RSCM untuk menjalani evaluasi post-operasi. “Saat ini para pasien dan donor dalam kondisi stabil dan dirawat ICU RSCM untuk menjalani evaluasi post-operasi dan kita kontaminasi total,” ujar Prof Shu-sen Zheng dari The First Affiliated Hospital, College of Medicine, Zheijang University, China yang memimpin jalannya operasi. Diperkirakan dalam waktu 5 hingga 2 minggu kondisi pasien akan pulih kembali.

Operasi pencangkokan hati yang dilakukan tersebut dikatakan Zheng cukup istimewa, mengingat donor hati disumbangkan dari pendonor yang masih hidup dan kerabat dekat penerima. Padahal, secara lazim transplantasi serupa dilakukan dengan organ dari jenazah. “Jadi, ini kasus spesial, dengan pendonor dan penerima masih hidup dan ada hubungan keluarga,” tandasnya. Dalam dunia medis, donor hati sangat sulit dicari sebab mesti memenuhi beberapa syarat. Salah satu syarat ialah masih mempunyai hubungan keluarga. Zheng juga menerangkan, operasi transplantasi hati merupakan transplantasi organ paling sulit bagi pasien yang menderita kerusakan hati yang tidak mungkin diobati, gagal akut, hepatitis B dan C hingga kanker hati atau sirosis.

Kepemimpinan Zheng pada operasi transplantasi itu bukanlah tanpa alasan. Zheng hadir di Indonesia dalam rangka menerima gelar Adjunct Professor dari FKUI. Gelar tersebut diberikan karena Zheng dianggap memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya pengembangan kemampuan dari staf FKUI-RSCM. Zheng sendiri sudah menyelesaikan pendidikan postdoctor dari Queen Mary Hospital of Hongkong University pada tahun 1992. Sekarang ia menjadi spesialis bedah terkenal dalam bidang transplantasi organ dan operasi Hepato-pancreato-biliary. Prof Shu-sen Zheng mengawali karirnya dengan berhasil mentransplantasikan hati di Queen Mary Hospital of Hongkong University pada Obtober 1991. Penganugerahan gelar Adjunct Professor dilaksanakan dalam upacara yang dipimpin oleh Dekan FKUI, Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K). Dengan diangkatnya Prof Shu-sen Zheng sebagai Adjunct Professor FKUI, diharapkan dapat terjalin kerjasama yang lebih berkembang di bidang pendidikan, penelitian dan pelayanan pasien penyakit hepatobilier dan pankreas.

Tentu transfer ilmu yang dilakukan Zheng sangat bermanfaat bagi dunia medis Indonesia pada umumnya dan pengobatan penyakit hati kronik pada khususnya. Bagaimana tidak, ratusan hingga 2 milyar rupiah harus dikeluarkan seseorang dari kantongnya untuk transplantasi hati di luar negeri. Beda halnya kalau operasi sudah dapat dilakukan secara mandiri di Indonesia yang hanya menghabiskan biasa sekitar Rp 600-700 juta. Sementara di bidang anastesi masih terdapat hambatan untuk melakukan operasi transplantasi hati karena ada beberapa obat yg tidak terdapat di Indonesia.

RSCM sendiri dikatakan Akmal Taher, siap melakukan transplantasi hati. “Biasanya mendapatkan bimbingan sampai 2-3 kali operasi transplantasi, baru setelah itu dilepas sendiri. Untuk peralatan sendiri RSCM sudah siap untuk melakukan transplantasi hati,” urainya. Akmal melanjutkan, saat ini FKUI-RSCM telah memiliki tim transplantasi hati. Tim antara lain beranggotakan dokter bedah digestive, dokter bedah vaskuler, dokter bedah anak, dokter gastro-hepatologi anak, dokter hepatologi penyakit dalam, dan dokter gastroenterologi penyakit dalam. Tim pun dilengkapi dengan dokter PICU, dokter anestesi dan intensif care, dokter radiologi, dokter ahli patologi anatomi, dokter ahli patologi klinis, dokter farmakologgi, dokter spesialis kejiwaan, dan dokter gizi klinis serta perawat.

Tentang biayanya yang masih mahal, Akmal menjelaskan, kedepannya pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan Jamkesmas, LSM dan juga beberapa perusahaan dalam hal program CSR. Sehingga diharapkan biayanya bisa menjadi lebih murah bagi masyarakat miskin. Tapi, biaya untuk pasien yang mampu akan diatur dengan komponen tersendiri. dbs

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s