Giliran La Galigo Diusulkan Jadi Warisan Dunia

Warisan budaya Bugis-Makasssar, I La Galigo, diusulkan untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia. Karya sastra kebanggaan orang Bugis ini terdiri dari 31.500 halaman bahkan lebih panjang daripada Mahabharata.

Ahli Budaya Sulawesi Selatan, Dr Mukhlis Paeni, di Makassar, mengatakan, sastra I La Galigo memiliki banyak nilai budaya dan layak untuk mendapatkan penghargaan secara internasional. Penghargaan sebagai warisan budaya dunia ini, kata dia, menunjukkan bahwa I La Galigo tidak hanya menjadi milik masyarakat Sulsel, melainkan juga masyarakat internasional.

“Tidak ada yang bisa membantah bahwa I La Galigo merupakan warisan sejarah yang sangat besar, baik dalam konteks budaya, sejarah, sastra, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Menurut dia, pengusulan I La Galigo untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia menjadi sangat penting di era ekonomi kreatif dan juga industri budaya yang semakin berkembang. Ia menambahkan, budaya harus juga bisa dikelola sebagai mata tambang yang bisa menambah khasanah kehidupan masyarakat.

“Apalagi, I La Galigo sendiri bisa dikatakan sebagai produk budaya yang bisa menjadi sarana pengembangan nilai serta karakter bangsa,” terangnya.

Proses pengusulan I La Galigo ini, kata dia, sudah mulai dilakukan sejak dua tahun lalu, dan diajukan melalui dialog ilmiah dengan Memory of the Word (MOW) Unesco. Hasil dialog ilmiah tersebut diajukan ke tingkat nasional dan kemudian diajukan lagi hingga ke tingkat internasional.

“I La Galigo sendiri merupakan salah satu warisan budaya yang diusukan bersama dengan dua warisan budaya yaitu, Babad Diponegoro dari Pulau Jawa dan juga Mak Yong dari Kepulauan Riau,” tandasnya.

Menurut dia, perlu pengawalan serius untuk bisa mewujudkan I La Galigo menjadi salah satu warisan budaya dunia, mengingat sangat banyak warisan budaya dari negara lain yang juga diusulkan.

Sawerigading

Pengamat budaya dari Universitas Negeri Makassar, Prof Dr Muhammad Rapi Tang, menilai bahwa kisah mengenai pelayaran Sawerigading yang tertuang dalam sastra I La Galigo menjadi cermin nilai-nilai budaya masyarakat Bugis.

“Banyak nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kisah pelayaran Sawerigading ke negeri China untuk mencapai tujuan hidupnya,” ungkapnya di Makassar.

Menurut dia, kisah pelayaran Sawerigading tersebut merupakan cerita rakyat Bugis yang secara khusus bertema kekerabatan. Artinya, inti persoalan dalam kisah ini adalah hal ikhwal kekerabatan dengan berbagai macam norma atau tata nilai serta persoalan yang melingkupinya.

“Salah satu simbol yang tercermin dalam kisah ini adalah usaha dan kerja keras guna mewujudkan hasrat yang menjadi tujuan hidup, yakni kebahagiaan lahir dan batin,” tuturnya.

Dalam kisah tersebut dituliskan bahwa pelayaran Sawerigading dipenuhi hambatan serta tantangan, dan bahkan hampir tidak ditemukan ketenangan hingga ia sampai di negeri China. Tantangan dan hambatan tersebut tidak bisa menggoyahkan semangat untuk bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

“Secara umum, cerita ini juga menjelaskan bahwa laut adalah simbol kehidupan bagi masyarakat Bugis, dan perahu adalah sarana yang dapat mengantarkan dalam meraih tujuan hidup,” katanya menambahkan.

Tidak hanya itu, berbagai peristiwa hidup yang dikisahkan juga mencerminkan budaya penegakan hukum, dimana pelanggaran terhadap hukum dianggap sebagai suatu kezaliman.

Budaya perdagangan yang juga disampaikan dalam cerita ini tidak semata-mata bermakna usaha untuk mencari keuntungan materi semata, melainkan juga menjadi sarana untuk berinteraksi dengan masyarakat lain.

“Hal fundamental dari tema kekerabatan pada kisah ini adalah mengenai norma dan tata nilai yang dianut dan dipatuhi, meskipun dalam implementasinya mengandung konsekuensi moril dan materiil dengan segala kompleksitasnya,” jelasnya.

Agar tidak punah didirikanlah Museum Negeri La Galigo yang menyimpan pernak pernik dari Tana Toraja. Museum Negeri La Galigo sendiri dibangun pada 24 Februari 1974. La Galigo konon diambil dari sebuah epos yang berjudul I La Galigo. Kabarnya karya ini merupakan karya sastra kebanggaan orang Bugis dengan naskah sepanjang 31.500 halaman dan lebih panjang daripada Mahabharata.

Nama I La Galigo sendiri merupakan nama salah satu satu tokoh didalamnya yang merupakan ahli sastra. Legenda mitos asal usul orang Bugis yang berada di kerajaan Luwu dan Wajo pada abad 14 sebelum pindah ke Gowa dan Bone ini sering dipentaskan di beberapa negara baik di Asia, Eropa maupun Amerika.

 

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Giliran La Galigo Diusulkan Jadi Warisan Dunia

  1. Agung Rangga berkata:

    patut dilestarikan…
    Semoga pemerintah mau mengelolanya…

    http://popnote.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s