Batik, Penyumbang Kesejahteraan Masyarakat

Batik Indonesia merupakan salah satu ikon budaya hasil kearifan bangsa Indonesia. Sebagai salah satu industri kreatif berbasis budaya, Batik telah menjelma menjadi sumbermata pencaharian masyarakat. Tak kurang dari 800 ribu pengrajin dan pengusaha batik yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia menggantungkan hidupnya dari industri ini.


Batik juga telah ikut melambungkan nama Indonesia di kanca dunia internasional. Sebagaimana telah terinskripsi pada Daftar Representatif sebagai Budaya Takbenda Warisan Manusia pada 4th Session of the Intergovernmental Committee on Safeguarding Intangible Cultural Heritage UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab tahun 2009 yang lalu.

Dengan dikukuhkannya Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, dapat meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia di forum internasional serta dapat menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia. Selain itu, pengukuhan batik oleh UNESCO tersebut dapat memberikan dampak positif pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan Batik Indonesia, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Untuk itu Indonesia berkomitmen untuk ikut melindungi aset bangsa berupa warisan budaya takbenda. Semua pihak baik dari jajaran pemerintah, masyarakat dan perguruan tinggi diharapakan melaksanakan komitmennya dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Batik Indonesia. Masyarakat diminta untuk tetap membudayakan produk tradisional batik, dengan berkomitmen memakai busana batik setidaknya seminggu sekali.

“Marilah kita semua mendukung upaya pelestarian dan pengembangan warisan budaya bangsa kita.Marilah kita dengan bangga membeli dan memakai produk hasil industri kreatif bangsa kita. Kalau bukan kita sendiri yang menjaga warisan budaya batik, siapa lagi. Jangan sampai ada teknologi modern di luar sana yang membuat desain dan motif seperti batik. Ini bisa menjadi ancaman atas kelanggengan batik nantinya,” kata Menko Kesra Agung Laksono, pada acara Seminar Internasional ”Dinamika Batik Indonesia Dan Pameran Batik Ikon Budaya Bangsa” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok (6/10).

Lebih lanjut Menko Kesra mengaskan bahwa sebagai salah satu salah satu industri kreatif berbasis budaya, batik yang memberi pencaharian langsung kepada sedikitnya 800.000 pengrajin dan pengusaha batik yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Industri batik nasional  juga  telah  menyumbangkan devisa besar buat kas negara masih bisa digenjot empat kali lipat dari sekarang.

“Industri tekstil kita menyumbangkan devisa mencapai Rp50 triliun ke kas negara. Batik adalah bagian dari industri tekstil kapasitasnya bisa digenjot empat kali lipat,” terangnya.

Besarnya manfaat batik juga diungkapkan Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat. Menurutnya batik bukan hanya warisan budaya Indonesia yang sudah dikenal di dunia internasional, akan tetapi batik juga menjadi komoditas yang bisa menghasilkan devisa bagi negara.

Untuk melestarikan budaya bangsa dengan mengembangkan batik Indonesia hingga bisa menguasai pasar batik di dunia harus dilakukan berbagai upaya, antara lain mengembangkan Industri kecil dan menengah dan meningkatkan keterampilan sumber daya manusia. Sebab untuk mengembangkan batik di mancanegara, perajin batik berani bersaing dengan negara lain yang juga memasarkan batik di pasar internasional seperti  seperti India. China, Thailand, Kanada, Bangladesh, dan Polandia.

“Batik Indonesia kaya motif dan mengandung filosofi, desain menarik dengan pewarnaan alam dari Indonesia menjadi ciri khas batik Indonesia.” tutur Hidayat.

Lebih lanjut, Hidayat menyebutkan sentra penghasil batik dalam bentuk Industri kecil menengah (IKM) mencapai 48.300 unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak 792.300 orang dengan nilai ekspor sebesar 110 juta dolar AS. Untuk mengembangkan batik Indonesia itu, perlu memperluas sentra batik, seperti di Bengkulu, Jambi, Riau. Papua, dan Bali.

Dalam perkembanganya batik yang semulah berupa selembar kain kini telah merambah ke berbagai bentuk seperti produk pakaian, upholstery (sarung bantal, Urai), dan produk sepatu. Namun sebagai produk yang telah mendunia batik juga harus memperhatikan eco efisiensi dengan proses produk yang bersih dan ramah lingkungan agar dapat bersaing dan memperluas penetrasi ke pasar dunia. Sebab tren permintaan dunia mengarah pada produk yang ramah lingkungan.

“Pengakuan dunia atas batik Indonesia berpengaruh positif terhadap pasar. Hal ini memberi indikasi bahwa eco-product batik dapat menjadi bagian utama dari busana dunia,” tutur Hidayat.

Di sisi lain, untuk mengantisipasi semakin maraknya batik cetak dari Cina Kementerian Perindustrian mengusulkan penerapan mekanisme “safeguard” atau pengamanan pasar dalam negeri. Hal itu patut dilakukan mengingat semakin maraknya batik “printing” (cetak) dari China mengisi pasar domestik seperti pusat grosir tekstil Tanah Abang, Jakarta.

“Kalau pergi ke (pusat grosir tekstil) Tanah Abang, itu banyak produk (batik `printing`) dari China. Mudah-mudahan itu (masuk secara) legal,” ujar Hidayat.

Keberdaan batik “printing” tersebut memberi pengaruh terhadap harga di pasaran mengingat harganya lebih murah dibandingkan buatan Indonesia, yang sebagian besar merupakan batik cap dan tulis. Karena itu, lanjutnya, harus ada mekanisme yang menghambat masuknya batik China ke pasar domestik.

Meski demikian dirinya mengakui tidak bisa memaksa masyarakat yang daya belinya terbatas untuk tidak membeli produk tersebut. Untuk itu, di era pasar bebas, industri kecil dan menengah (IKM) batik pun harus berupaya meningkatkan daya saing dengan melakukan `eco efficiency`,”antara lain dengan mengurangi pembuangan limbah dan menggunakan mekanisme produksi bersih.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s