Baca Dahulu, Tonton Kemudian

Bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1431 H, film Sang Pencerah diputar di bioskop nasional untuk kali pertama. Sebelum film ini diputar, novelnya yang berjudul Sang Pencerah lebih dahulu hadir. Baik film maupun novel Sang Pencerah, sengaja dibuat bertepatan dengan momentum Muktamar ke 46 dan Milad satu abad Muhammadiyah.

Film dan novel adalah dua media yang berbeda. Di film, kita dapat melihat visualisasi bergerak dan audio. Sementara pada novel, kita diajak berimajinasi, menerka – nerka bagaimana sosok seorang ataupun lingkungan digambarkan dengan kata – kata. Pengalaman saya, sebelum film ditonton, asyiknya membaca novel berkisah yang sama terlebih dahulu. Alasannya agar kita mempunyai ‘modal’ saat menontonnya. Namun bukan untuk membandingkan apa yang kita ‘tangkap’ dalam novel dengan apa yang kita saksikan dari filmnya. Tapi untuk melihat ‘kepintaran’ sutradara menampilkan intisari dari novel yang menjadi referensinya. Kebetulan, sutradara film yang berjudul Sang Pencerah adalah Hanung Bramantyo. Hanung sudah terbiasa menterjemahkan bahasa novel ke dalam layar lebar. Lihat saja sukses film Ayat – ayat Cinta yang notabene berasal dari novel karya Habiburrahman El Sharazi.

Sang Pencerah adalah sebuah novel biografi yang berisikan tentang kehidupan K.H Ahmad Dahlan dan perjuangannya mendirikan Muhammadiyah. Mulai dari masa kecilnya yang tumbuh dari keluarga ulama, bahkan mempunyai garis keturunan Sunan Gresik. Proses pergantian nama yang semula bernama Muhammad Darwis kemudian diberi nama baru, Ahmad Dahlan, selepas pulang dari Mekkah. Pola pikirnya yang dipengaruhi Muhammad Abduh dan Al Afghani benar – benar membawa perubahan jelas pribadinya di tengah masyarakat. Pertentangan di tengah imam masjid Gedhe, dibakarnya langgar miliknya, sampai keputusannya keluar dari majelis khatib masjid agung Gedhe mewarnai kisah perjuangannya. Kisah lainnya ialah persahabatan dan kedekatannya dengan Boedi Oetomo yang sempat membuatnya semakin santer dianggap sebagai kiai kafir. Juga cerita perempuan tegar di balik perjuangannya, Walidah, Istrinya yang sudah dijodohkannya semenjak kecil. Walau tak dieksplorasi secara mendalam, hubungan keduanya nampak pas sebagai pasangan yang saling menguatkan. Dan kita juga harus maklum, mengingat dalam novel ini kisah Ahmad Dahlan hanya sampai pada 1812. Sedangkan, cerita lain sejak tahun tersebut sampai dirinya meninggal belum dapat terkover di novel ini. Tetapi, Akmal Nasery Basral, penulisnya, berharap kisah lain Ahmad Dahlan dapat diungkap dalam novel kedua.

Meski demikian kita patut mengapresiasi kehadiran Sang Pencerah, mengingat novel biografi ini juga bagian sejarah perjuangan bangsa. Pun ceritera seorang pahlawan nasional yang kita jarang mendengar sepak terjangnya. Setiap kejadian yang berpengaruh dalam hidup KH Ahmad Dahlan diteliti secara saksama dan menyeluruh, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang asyik untuk dibaca. Dikisahkan dengan cerdas dan begitu nyata oleh penulis sehingga seolah-olah kita diajak langsung mengenal sosoknya. Sejarah tidak pernah sama jika dikisahkan dari sudut pandang novelis, namun tidak keluar dari konteks sejarah.

K.H Ahmad Dahlan adalah sosok pemuda yang mendobrak tradisi, yang bermaksud agar Islam kembali menjadi rahmat bagi semesta, bukan Islam yang menyulitkan pemeluknya sendiri. Tengok saja, tatkala para kiai lebih memilih memakai pakaian adat Jawa atau bahkan ketimuran, Ahmad Dahlan berani memakai setelan jas  beserta sepatu kulit. Padahal saat itu zaman penjajahan Belanda, pakaian khas kolonial yang digunakannya dicap sebagai pakaian kafir. Lain waktu, saat alat musik dianggap sebagai warisan budaya barat pada masa itu, Ahmad Dahlan malah sering memainkan biola. Bahkan ia termasuk orang yang mahir dalam memainkan biola.

Ahmad Dahlan adalah sosok yang open minded sekaligus memiliki sikap humanis. Sikap manusiawinya itu ditunjukkan saat langgar yang didirikannya dirobohkan sekelompok orang karena ia dicap kiai kafir. Banyak yang mengasumsikan bahwa tindakan – tindakan yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan dipengaruhi Boedi Oetomo, sahabatnya. Padahal, tindakan itu murni hasil ideologinya. Meski berkesan pembangkang, dalam mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan tak hanya memiliki misi syiar Islam saja, namun juga dalam bentuk amal usaha sosial. Terbukti, sampai sekarang jutaan kaum telah merasakan hasil perjuangan Ahmad Dahlan lewat berbagai amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah. Mulai dari Taman Kanak – kanak sampai Perguruan Tinggi, Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Amal Usaha Ekonomi, Perbankan dan masih banyak lagi. Dan, beberapa orang yang berpikiran terbuka serta banyak anak – anak muda yang kritis menyukai caranya itu. Maka jangan heran pula jika novel ini memang dikhususkan untuk anak muda. Menurut Public Relation Hikmah Publishing House Mizan, penerbit novel ini, Putri Nimitha, novel ini sebenarnya ditujukan semua kalangan, tetapi dikhususkan untuk remaja. Karena itu, sebisa mungkin, novel ini disajikan agar menarik minat kawula muda. ’’Itulah alasannya kami memilih cover yang menampilkan sosok K.H. Ahmad Dahlan semasa muda dengan biolanya. Bukan sosoknya yang tua dan renta. Dengan langkah ini diharapkan ia pun menjadi salah satu tokoh panutan anak muda,” ungkap Putri. Pihaknya pun bekerjasama dengan Muhammadiyah dalam pemasarannya, semisal melakukan roadshow ke sekolah – sekolah dan universitas Muhammadiyah di Indonesia.

Upayanya ternyata berhasil. Untuk cetakan pertama di awal Juli 2010, stok buku tersebut di pasaran habis di akhir bulan. Di awal Agustus penerbit kembali melakukan cetakan kedua sebanyak lima ribu eksemplar. Padahal, pihak penerbit awalnya hanya menargetkan tiga ribu eksemplar. Sukses Sang Pencerah juga dilatar belakangi oleh penulisnya. Sang Pencerah yang diambil dari inspirasi matahari yang bisa mencerahkan masyarakat ditulis oleh Akmal Nasery Basral, wartawan dan sastrawan Indonesia. Sebagai wartawan ia sudah malang melintang di berbagai media nasional. Sedangkan sebagai sastrawan, ia telah menerbitkan karyanya, Imperia (2005), Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007). PS/ dbs

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Pustaka. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s