Tanpa Kesejahteraan, Hanya ada Frustasi Sosial

Akhir-akhir ini muncul  gerakan-gerakan yang meresahkan masyarakat. Yang paling gress adalah maraknya perampokan belakangan ini. Polisipun seolah tidak berdaya dibuatnya. Seorang anggota Polri tewas dalam aksi perampokan, seperti dalam aksi perampokan terhadap Bank CIMB Niaga di Medan.

Untungnya Polri berusaha menebus ”kegagalannya” menghentikan perampok dengan sigap membongkar aksi perampokan. Sampai berita ini ditulis, Kepolisian berhasil menangkap pemasok senjata Perampok di Medan. Kepolisian Resor Kota Medan, Sumatera Utara, menangkap MRA, buron pelaku kasus beberapa perampokan di Aceh Timur. Polisi menduga pria 27 tahun itu adalah pemasok senjata api yang dipakai kelompok perampok di Medan.

Namun mengapa aksi perampokan muncul? Bahkan kejadiannya di bulan Ramadhan, bulan yang suci. Apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat Indonesia? Pertanyaan itu wajar menggelayuti benak pemikiran dan hati seluruh rakyat.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif, yang Komite kutip dari Kompas menyatakan ada persoalan dalam masyarakat, yaitu hilangnya Pancasila dari pandangan hidup bangsa. ”Pancasila sepertinya sudah tidak ada lagi,” katanya. Pancasila sudah berganti dengan isme-isme yang lainnya. Pancasila sudah tereduksi sehingga kesejahteraan susah terwujud di negeri ini.

”Dari hulunya kita sudah salah dengan mengganti sikap kekeluargaan dengan dengan individualisme dan liberalisme. Jika bangsa ini mementingkan individualisme maka sila ke lima Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia  tak akan pernah terwujud,” kata Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat kepada Kompas.

Masih menurut Kiki, ketidakmampuan bangsa ini menyejahterakan rakyat, maka perilaku kekerasan dalam masyarakat menjadi keniscayaan. Ketika negara gagal mewujudkan kesejahteraan, yang muncul adalah frustasi sosial. Tidak mengherankan bila berbagai tindak kekerasan terus bermunculan dalam masyarakat.

Hanya dengan sikap kepemimpinan yang pro terhadap kesejahteraan rakyat, dan bukan sekedar dalam tumpukan kertas, maka frustasi sosial berkurang. Kritik Syafii kepada pemerintah adalah SBY perlu memimpin sendiri perubahan dalam masyarakat. ”Jangan  tidak bertindak,” kata Syafii.

Diam hanya akan menimbulkan persoalan. Tetapi bekerja tergesa-gesa jelas tidak efektif. Lepas dari persoalan antara diam versus bergerak cepat, nampaknya perampokan yang terjadi akhir-akhir ini, nampaknya buah dari problem sosial. Bila tidak segera diatasi, khawatirnya problem sosial akan meluas.

Hanya dengan meningkatkan kesejahteraan problem sosial bisa teratasi. Sejauh ini, masyarakat merasa worse- off. Mungkin, dengan pemerintahan yang bertindak efektif, cepat dan tepat, pemerintah akan bisa membuktikan bahwa ekspektasi masyarakat selama ini keliru. Ternyata pemerintah bisa diandalkan (BS)

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Editorial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s