Ngabuburit ala Ikon Surabaya

Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Surabaya-Madura kini ramai dikunjungi masyarakat. Khususnya anak muda yang menghabiskan waktunya menunggu beduk berbuka puasa.

Sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Juni 2009 lalu, keberadaan Jembatan Surabaya – Madura (Suramadu) menjadi ikon tersendiri bagi warga Surabaya dan Jatim khususnya.

Bahkan, Suramadu sudah menjadi tempat favorit masyarakat setempat, sebelum berbuka puasa. Selain tempatnya enak, juga cocok untuk menikmati pemandangan laut sambil menikmati udara sore.

Bahkan, tidak sedikit mereka yang datang sambil berfoto-foto, di jembatan sepanjang 5,4 km tersebut.Dari jembatan ini, warga bisa menikmati kerlipan lampu warna-warni Dermaga Ujung, Komplek Armatim, Pantai Wisata Kenjeran dan temaran lampu rumah warga yang berada di Pulau Madura.

Salah seorang pengunjung bernama Nahrowi, pegawai perusahaan pelayaran, mengaku senang mengunjungi Suramadu terlebih dahulu, sebelum berbuka, bersama teman-teman satu kantor.

Menurutnya, Suramadu adalah tempat yang cocok unttuk menunggu waktu berbuka puasa. Sebelumnya banyak pemuda yang menuggu berbuka di halaman Balaikota, kini beralih ke Suramadu. “Pemandangan disini lebih enak, luas, langsung ke laut, anginnya juga sejuk,” ujarnya.

Sejak berbuka puasa pertama di bulan suci, tampak puluhan orang berjajar memadati jembatan. Bahkan tidak sedikit yang memarkir kendaraan dan langsung menyantap makanan di atas kendaraannya.

Jembatan Terpanjang

Berdirinya Jembatan Suramadu merupakan tonggak sejarah baru dalam pembangunan konstruksi prasarana perhubungan di Indonesia. Jembatan antarpulau sepanjang 5.438 meter itu bukan hanya yang terpanjang di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara.

Sebagai jembatan yang menghubungkan dua pulau, sesungguhnya Suramadu (Surabaya-Madura) merupakan jembatan kedua setelah rangkaian jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) yang selesai dibangun tahun 1997. Enam jembatan dengan berbagai tipe yang menghubungkan tujuh pulau kecil di Provinsi Kepulauan Riau ini merupakan landmark keberhasilan dan kemandirian anak bangsa dalam membangun jembatan antarpulau.

Karena menghubungkan dua pulau, teknologi pembangunan Jembatan Suramadu didesain agar memungkinkan kapal-kapal dapat melintas dibawah jembatan. Itulah sebabnya, di bagian bentang tengah Suramadu disediakan ruang selebar 400 meter secara horizontal dengan tinggi sekitar 35 meter.

Untuk menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kapal-kapal, di bagian bentang tengah Suramadu dibangun dua tower (pylon) setinggi masing-masing 140 meter dari atas air. Kedua tower ini ditopang sebanyak 144 buah kabel penopang (stayed cable) serta ditanam dengan fondasi sedalam 100 meter hingga 105 meter.

”Total panjang tower sekitar 240 meter. Ini sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Hermanto Dardak.

Kuat 100 tahun
Secara keseluruhan, pembangunan Suramadu menghabiskan sekitar 650.000 ton beton dan lebih kurang 50.000 ton besi baja. Tak heran, dinas pekerjaan umum mengklaim Suramadu sebagai megaproyek yang menghabiskan dana total mencapai Rp 4,5 triliun. Jembatan ini dirancang kuat bertahan hingga 100 tahun atau hampir menyamai standar Inggris yang mencapai 120 tahun.

Karena berada di tengah lautan, Suramadu berpotensi terkendala faktor angin besar yang potensial terjadi di tengah lautan. Untuk memastikan keamanan kendaraan yang melintas di atas Suramadu, Departemen Pekerjaan Umum membangun pusat monitoring kondisi cuaca, khususnya angin.

Jika kecepatan angin bertambah hingga 18 meter per detik atau sekitar 65 kilometer per jam, jalur untuk kendaraan roda empat akan ditutup. Langkah ini semata-mata untuk keselamatan dan kenyamanan pengendara. Adapun konstruksi jembatan akan tetap aman karena Jembatan Suramadu dirancang tetap kokoh meski ditempa angin berkecepatan lebih dari 200 kilometer per jam.

Bukan cuma kuat dari terpaan angin, Jembatan Suramadu juga didesain mampu menopang kendaraan sesuai standar as atau axle di daratan. Dengan demikian, Suramadu diperkirakan mampu menahan beban dengan berat satu as kendaraan sekitar 10 ton.

jembatan ini pun sangat membantu masyarakat karena waktu tempuh Surabaya-Madura bisa dipersingkat. Jika sebelumnya menggunakan feri dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, sekarang dengan menggunakan Suramadu cukup ditempuh lima menit.

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s