2020 Indonesia Jadi Fesyen Muslim Dunia

Menjadikan Indonesia kiblat mode busana muslim dunia pada 2020, bisa dipastikan akan berdampak positif dalam pengembangan industri kreatif nasional.

Sekitar 40 busana muslim karya para perancang Indonesia memukau para pengunjung “World Expo” di Shanghai, China, sehingga tidak berlebihan jika Indonesia ingin menjadi kiblat mode busana muslim dunia.

Direktur Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC), Jetty R. Hadi, dalam keterangan pers yang diterima ANTARA, Minggu, mengatakan bahwa sambutan positif masyarakat internasional kepada busana muslim Indonesia selama ini memang tinggi dalam setiap peragaan busana.

“Keunikan ragam dan warna busana muslim buatan Indonesia mampu memadukan unsur etnik, elegan, dan modernitas, dalam satu garis rancang. Hal itu membuat busana muslim dapat tampil universal dan menarik siapa saja yang melihatnya,” kata Jetti R. Hadi yang juga pemimpin redaksi Majalah Noor itu.

Pada ajang World Expo di Shanghai, China, itu IIFC bersama delapan perancang busana muslim tanah air yaitu Dian Pelangi, Nunik Mawardi, Merry Pramono, Jeny Tjahyawati, Irna Mutiara, Malik Moestaram, Shafira dan Hanny Hananto, melakukan pagelaran mode dan pameran di Paviliun Indonesia, pada 17 – 20 Agustus 2010.

Busana yang dipamerkan, kata dia, mampu memikat para pengunjung yang sebagian besar tidak berasal dari negara muslim. Kenyataan itu, menjadi kebanggaan tersendiri bagi delegasi IIFC yang aktif mengkampanyekan pentingnya Indonesia menjadi kiblat mode busana muslim di dunia.

“Upaya menjadikan Indonesia sebagai kiblat mode busana muslim dunia akan memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Selain memberi nilai tambah bagi kualitas daya saing industri kreatif dan tekstil, serta akan mengurangi angka pengangguran dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia,” kata Jetti.

Di samping itu, lanjut dia, dari sisi sosial dan budaya, Indonesia pun akan ikut terangkat di pentas dunia.

Penyelenggaran serangkaian acara fashion show dan pameran di Paviliun Indonesia ini bertepatan  memperingati hari kemerdekaan RI ke 65, juga dirayakan 60 tahun hubungan diplomatic Indonesia dan China. Pada acara yang dihadiri oleh 192 negara perwakilan peserta World Expo Duta Besar Indonesia untuk China, Imron Cotan, memperkenalkan Indonesia sebagai kiblat mode muslim dunia, yang telah dicanangkan secara nasional di Jakarta pada 13 Agustus 2010.

Pada kegiatan itu pula Indonesia memberi penghargaan dan hadiah kepada kepada pengunjung paviliun Indonesia yang ke 5.081.745. Angka tersebut diambil dari angka hari kemerdekaan RI yang menandai kesuksesan pavilion bertema Indonesia Biodersity. Sejak tampil di World Expo pada Mei lalu, Paviliun Indonesia dikunjungi rata-rata satu juta orang per bulan.

Pada pagelaran itu, sekitar 40 busana muslim dari delapan desainer berhasil memukau penonton yang tidak semua dari negara muslim. Kenyataan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi delegasi IIFC yang aktif mengkampanyekan pentingnya Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia. Upaya tersebut jelas bertujuan agar memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawadi berharap pencanangan Indonesia menjadi fesyen muslim dunia maka ketika orang mendengar Indonesia, teringat baju muslim yang trendi.

Selain itu, lanjut Edy, akan banyak dampak ikutan dalam mewujudkan  Indonesia menjadi kiblat mode dunia. Dengan menjadi kiblat Islamic fashion, maka kunjungan wisata dan penjualan baju muslim meningkat. Indonesia juga akan terkenal dengan nilai-nilai kebaikan melalui pakaiannya.

Edy mengatakan salah satu langkah nyata untuk mewujudkan Indonesia menjadi kiblat busana muslim dunia yaitu dengan membentuk Indonesia Islamic Fashion Consorsium. Ini merupakan prakarsa bersama antara Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Perindustrian, asosiasi pengusaha, dan lainnya.

Edy sendiri meyakini bahwa produk busana Indonesia mampu bersaing di era pasar global (perdagangan bebas). Sebab, Indonesia bermodal besar untuk menghadapi era perdagangan bebas dengan konsumen yang setia, sumber daya manusia kreatif, serta produk bernilai tambah tinggi dan unik.

Dikatakan Edy, produk busana muslim Indonesia selalu mempunyai karakter dengan didukung sumber daya alam dan manusia terampil, sehingga berbeda dengan produk yang dibuat secara massal. “Karena itu, mulai saat ini kita akan promosi, memperbaiki mutu produk, dan meningkatkan produksi. Indonesia berpeluang untuk berkembang menjadi pusat mode dunia, karena sudah punya nama untuk bridal dan tenun,” ujarnya.

IIFF Jakarta
Sementara itu, pada Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) di Plaza Indonesia, Jakarta, animo masyarakat terhadap busana muslim juga sangat positif.

Sejak IIFF dibuka pada 13 Agustus hingga 17 Agustus 2010, transaksi dari 32 gerai desainer yang mengikuti pameran, telah mencapai Rp162.616.300, dengan tingkat kunjungan rata-rata 200 orang per hari.

“Pembeli selain berasal dari dalam negeri, juga ada dari Malaysia dan Singapura. Para desainer mengeluarkan koleksi terbaru yang mudah dipakai, sehingga tidak ada lagi kesan rumit ketika seseorang memakai busana muslim,” kata Jetti.

Salah satu desain yang terlaris adalah milik desainer Irna Mutiara. yang banyak dicari para artis karena menjadi “trend setter.”

About majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Pos ini dipublikasikan di Ekonomi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s