Gelap Pasti Sirna

 

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang).

Demikian cungkilan buku karangan Armin Pane yang terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku yang begitu penuh dengan pemikiran Kartini tentang berbagai persoalan sosial budaya Indonesia pada zamannya. Kartini membuka cakrawala melalui kunci yang sederhana yakni kemampuan baca tulis. Lewat kemampuannya itu, ia bisa berbagi pemikiran dengan Rosa Abendanon, sahabat penanya, dimana mereka saling bertukar pikiran lewat surat-suratnya. Surat-surat yang sarat pemikiran itulah hasil refleksi dan diskusi Kartini, yang sampai saat ini masih dibaca dan terus menanamkan kesadaran pembacanya.

Sayangnya saat ini belum semua penduduk memiliki kesadaran seperti Kartini. Bahkan setelah puluhan tahun Kartini tiada, masih ada juga anggota masyarakat Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis. Padahal kemampuan membaca dan menulis merupakan prasyarat untuk bisa bertahan hidup dalam era modern.

Sekedar informasi, tahun 2011 ini,  8,5 juta penduduk Indonesia masih terjebak dalam kebutaaksaraan. Yang memprihatinkan 60 persen dari jumlah tersebut didominasi kelompok perempuan.

Masalahnya adalah kebutaaksaraan lekat dengan kemiskinan. Bayangkan saja, semua sistem sosial, ekonomi dan kebudayaan berangkat dari huruf dan angka. Untuk mendapatkan kartu penduduk, seseorang harus mengisi formulir di Kelurahan. Tanpa mendapatkan bantuan, pastilah sulit mereka tercatat secara administrasi negara. Buta huruf dan angka adalah salah satu persoalan kemiskinan dan kesejahteraan.

Boleh jadi ilustrasi paling menarik adalah apa yang dialami oleh Adang, pria berusia 68 tahun asal Tasikmalaya yang hidup bersama keluarganya. Adang hidup bersama istrinya Anah (70) dan anaknya Icah (30) beserta suami Dede Zahidi (35). Adang telah memiliki dua cucu. Mereka tinggal terpencil ditengah kebun jauh dari pemukiman penduduk. Dirumahnya gelap karena tidak ada aliran listrik.

Yang memprihatinkan adalah Adang sekeluarga tidak mampu membaca huruf. Mereka memang tidak bersekolah karena keterbatasan biaya. Cucunya, Rendi (8) tidak bersekolah meski sudah seharusnya masuk sekolah dasar. Orang tuanya tidak mendorong Rendi bersekolah, toh mereka juga tidak bersekolah sebelumnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Adang mencari kayu bakar di hutan. Ia menjual kepada warga dengan harga  Rp 10 ribu per ikatnya, uang tersebut hanya mampu membeli beras 1 kilogram  di warung, dengan harga Rp 7 ribu per kilogramnya. Bila tidak mampu membeli beras ia menggantinya dengan singkong. Adang mengaku hanya sanggip membeli beras seminggu tiga kali.

Tetapi bukankah ada raskin dan berbagai tunjangan untuk orang miskin? Adang tidak mendapat beras raskin. Mungkin persoalan kebutaan huruf secara tidak langsung menjadi penyebabnya. Ia tidak memiliki informasi bahwa pemerintah memberikan bantuan untuk masyarakat miskin. Bukan hanya beras, namun juga untuk jaminan kesehatan, pendidikan dan pinjaman lunak.

 

HDI

Sejak Amartya Send an Mahbub Ul Haq secara bersama-sama mendorong penghitungan nilai-nilai pembangunan yang berkeadilan, dunia semakin dituntut untuk lebih semakin memperhatikan aspek pembangunan dibanding sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi belaka. Semua aspek yang mendorong tumbuhnya kemanusiaan dimasukkan dalam satu indeks yang kemudian biasa kita kenal dengan sebutan Human Development Report (HDR).

Tahun 2007, posisi Indonesia dalam HDR tidaklah bagus.  Sebagai negara demokrasi besar yang terus mengejar cita-cita reformasi, Indonesia hanya berada pada peringkat 107 dari 177 negara. Posisi Indonesia itu tidak bisa dibilang prestasi yang baik karena masih ada pekerjaan rumah yang besar yakni tingginya angka buta aksara. Ketika itu baru 90 % penduduk Indonesia berusia 15 tahun keatas yang terbebas dari masalah buta aksara. Sisanya, tentu masih terjebak pada kebingungan akan huruf dan angka. Yang lebih parah, mereka terjebak dalam kemiskinan, seperti  kasus Adang.

Tiga tahun selanjutnya, meski peringkat HDI Indonesia masihlah sama tetapi adult literacy rate sudah naik menjadi 92%. Memang berkesan terlalu sedikit yakni dalam tiga tahun mampu menaikkan masyarakat yang melek huruf sebesar dua persen, tetapi bila ditinjau dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa, tentu jumlahnya menjadi sangat besar. 8,5 juta penduduk diperkirakan masing termasuk dalam kelompok buta aksara dan 5,1 juta jiwa diantaranya adalah perempuan. Bila menilik dari sisi sebarannya, maka daerah-daerah yang tergolong jauh dari pusat dan memiliki pembangunan terbelakang memiliki tingkat buta huruf yang tinggi. Provinsi Papua, NTT, NTB dan Sulawesi Selatan adalah contohnya. Pengecualian adalah daerah Jawa Barat yang terhitung cukup tinggi juga.

Pentingnya kemampuan membaca dan menulis dalam masyarakat modern tidak terelakkan lagi. Semua simbol-simbol kebudayaan masyarakat saat ini dikembangkan dalam bentuk tulisan dan aksara. Kemampuan membaca simbol-simbol masyarakat itulah yang membawa masyarakat terbebas dari jebakan kemiskinan. Yakni lingkaran kemiskinan ala F.Nuscheler. Sekedar mengingatkan, berbeda dengan lingkaran setan kemiskinan ala Nurske, Nuscheler membangun tesis kemiskinan dalam tiga sumbu yakni kesehatan, pendidikan dan modal.

Lingkaran pertama berpangkal dari gejala kurangnya konsumsi yang menyebabkan sakit kurang gizi, yang selanjutnya menimbulkan penyakit, dampak dari sakit adalah menurunnya dan terbatasnya kapasitas manusia. Lingkaran kedua bertolak dari tingkat pendapatan yang rendah dan menimbulkan tabungan rendah, dan berdampak pada investasi yang rendah. Artinya lingkaran kedua mirip dengan lingkaran kemiskinan ala Nurske. Lingkaran ketiga dimulai dari tingkat pendapatan yang rendah. Namun pendapatan yang rendah berdampak pada tingkat pendidikan yang rendah, efeknya adalah produktivitas rendah dan berlanjut pada produksi serta pendapatan yang rendah.

Menurut Hans H Munker, seorang ahli pembangunan internasional dari Universitas Marburg Jerman, setiap anggota masyarakat perlu mengetahui informasi lingkaran kemiskinan tersebut. Dengan menyadari adanya lingkaran kemiskinan yang ada dalam masyarakat maka mereka akan mencari cara untuk untuk memutus mata rantai lingkaran kemiskinan.

Sayangnya, tidak semua orang mengenal dan sadar realitas masyarakat yang menjebak tersebut. Beberapa fakta yang terungkap media massa cukup menyentak kesadaran kita. Seperti yang terungkap Kompas, beberapa siswa yang mengikuti ujian kelas VI sekolah dasar tidak bisa baca tulis. Tentunya kondisi ini patut menjadi perhatian serius pengambil kebijakan. Terungkap, kejadian di SDN 026 Kamande, Desa Pullewani, Kecamatan Tutar, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Orang tua siswa mengklaim sebagian siswa belum melek huruf karena persoalan sarana pendidikan, selain factor lainnya yakni guru yang tidak rajin mengajar. Kerap kali para siswa datang ke sekolah, tetapi tak ada guru yang mengajar.

Menurut sejumlah orangtua siswa, setiap hari para siswa terlambat masuk sekolah, tetapi mereka pulang lebih awal. Bahkan, banyak yang mengganti nama sekolah itu dengan istilah “SD Sembilan Sepuluh”, yang artinya masuk pukul 09.00 wita dan pulang pukul 10.00 wita.

Beberapa guru dari sekolah ini bahkan berani mengakui bahwa dari 18 murid  SDN 026 Kamande yang akan mengikuti ujian nasional besok, dua orang di antaranya belum mampu baca tulis. Sementara di kelas V terdapat empat murid yang mengalami hal serupa. Di kelas III dan IV juga terdapat belasan siswa belum bisa membaca. Salah seorang guru, Molli, mengakui hal tersebut, Senin (9/5/2011). Molli mengatakan, untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, pihaknya sudah mencoba menggalakkan belajar malam dan membentuk kelompok belajar. Metode tersebut telah diterapkan sejak beberapa bulan lalu terkait kinerja beberapa guru PNS yang malas masuk sekolah. Guru-guru tersebut kadang masuk mengajar sepekan dan libur sepekan.

Bila fakta itu benar, tentu perlu ditelaah lebih lanjut mengapa ada guru yang jarang mengajar. Apalagi guru PNS yang jarang mengajar.  Selama ini pemerintah sudah menganggarkan dana yang begitu besar untuk kesejahteraan guru. Pengeluaran pemerintah untuk belanja sektor pendidikan mencapai 20 % dari APBN. Tahun 2011, persentasenya naik sebesar 0,2 %. Kenaikan itu diprioritaskan untuk anggaran pendidikan di daerah.  Menurut data APBN tahun 2010, anggaran pendidikan di daerah hanya sebesar Rp 127,749 Miliar. Sementara berdasarkan UU APBN 2011, anggaran pendidikan daerah bertambah menjadi Rp 158.234 Miliar. Bila penambahan 30 miliar untuk anggaran pendidikan daerah masih menghasilkan siswa yang tidak bisa baca dan tulis, maka perlu dievaluasi apakah pemerintah sudah mengambil kebijakan dengan tepat.

 

Tekan Buta Huruf

Sekedar informasi, tahun 2008 Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan UNESCO melakukan sebuah tes dan survey dari siswa yang melakukan program penuntasan buta aksara. Kesimpulan yang diperoleh adalahhanya 2 orang dari 7 orang saja yang mampu membaca dan menulis. Sementara 5 lainnya tidak mampu baca tulis, padahal mereka telah mengikuti program penuntasan buta aksara sebelumnya.

Dari sisi pemerintah, menurut Fasli Jalal selaku Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), sesuai Instruksi Presiden (Inpres) nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara menunjukkan bahwa gerakan nasional pemberantasan buta aksara merupakan bagian yang sangat penting dan strategis dalam kerangka pembangunan pendidikan nasional.

“Hal ini karena buta aksara berkaitan dengan penduduk dewasa terutama yang tinggal di desa, miskin dan tidak berdaya. Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya melaksanakan program peningkatan keaksaraan bagi semua penduduk dewasa sebagai bentuk komitmen dalam memajukan dan memberdayakan masyarakat,” kata Fasli dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (8/9/2011). Tanggal 8 September merupakan Hari Literacy Internasional. Penetapan tanggal 8 September sebagai hari literasi internasional merupakan sebuah cara untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya baca tulis bagi penduduk dunia.

Menurut Fasli Jalal, ada tiga cara untuk membebaskan masyarakat dari buta aksara. Pertama adalah pendekatan regional yakni berfokus pada daerah yang memiliki kepadatan jumlah buta aksara yang tinggi. Setiap provinsi, kabupaten, dan kota perlu memiliki data penduduk buta aksara sesuai nama dan alamat peserta didik agar bisa segera diselesaikan. Yang kedua dengan cara mengintegrasikan program pemberantasan buta aksara dengan pendidikan kecakapan hidup atau life skill, sehingga seseorang tidak hanya diajari dapat membaca, tetapi juga keterampilan yang dapat meningkatkan taraf hidupnya.

“Dan terakhir adalah keberaksaraan perempuan harus lebih ditingkatkan, khususnya dalam hal inklusi, partisipasi dan pemberdayaan mereka agar dapat berperan dalam pembangunan dan mendukung keberlanjutan dari keaksaraan itu sendiri,” imbuhnya.

Setali tiga uang dengan Fasli,   Kepala Sub Direktorat Pendidikan Keaksaraan Kementerian Pendidikan Nasional, Hurip Danu Ismadi menyatakan Kementerian Pendidikan nasional bertekad akan menekan angka buta huruf di Indonesia. Sampai dengan tahun 2015, diharapkan pihaknya kata Danu dapat menekan buta huruf sebanyak satu sampai dua persen. Menurutnya upaya menuntaskan buta huruf merupakan investasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Danu mengatakan, dalam proses belajar, para tutor menggunakan berbagai tema yang disukai para penyandang buta aksara.  “Jadi prinsipnya harus menggunakan pendekatan pembelajaran tematik sesuai dengan tema-tema pembelajaran apa yang digemari oleh para penyandang buta huruf. Contohnya kalau dia di lingkungan keagamaan kita mengembangkan tema-tema agama tapi kalau basisnya di lingkungan pertanian kita mengembangkan materi pembelajaran dengan pertanian,” ujar Danu.

Sebetulnya pemerintah sudah melaksanakan berbagai upaya untuk mengentaskan penduduk yang masih mengalami buta aksara. Seperti dengan menjalankan kegiatan belajar secara berkelompok. Disana bukan hanya diajarkan bagaimana cara membaca, menulis dan berhitung, namun juga dipelajari berbagai skill yang berguna dalam kehidupan.

Ada yang menarik dalam fakta tentang kebutaaksaraan nasional. Menurut penelitian dari       Institut Pertanian Bogor (IPB) di Pusat Studi Pendidikan di Jawa Barat (PSP) terdapat 30 persen masyarakat yang sudah terbebas buta aksara tetapi kembali menjadi buta aksara karena kurangnya pembinaan. Untuk itu pemerintah perlu memikirkan bagaimana cara merawat kelompok yang sudah terbebas dari buta aksara namun rentan terjebak dalam kebutaan kembali. Bisa membaca dan menulis, tetapi tidak dimanfaatkan sehari-hari tentu menjadi persoalan tersendiri.

Pemerintah berencana memberikan bantuan sebanyak  Rp 460 ribu per orang untuk pembinaan penguatan seperti baca, tulis dan kegiatan membaca, serta wirausaha lainnya. Bantuan itu diberikan dalam bentuk block grant yang dilaksanakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dan organisasi masyarakat lainnya.

Bantuan itu bisa dimanfaatkan untuk membangun taman bacaan masyarakat (TBM). Memang, kemampuan pemerintah untuk membangun TBM masih terbatas. Akibatnya pemerintah harus menerapkan skala prioritas untuk daerah tertentu yang dinilai dari tingkat kebutaaksaraannya. Bila masih dinilai tinggi pembentukan TBM menjadi prioritas.  Setiap tahun hanya 500 TBM yang dibentuk di daerah-daerah. Jumlah anggaran yang tersedia untuk TBM mandiri Rp 15 juta dan untuk pembinaan Rp 25 juta. Bukan hanya untuk buku, tetapi sarana penunjang lainnya, seperti dana operasional dan penyediaan bahan ajar.

Direktur Pembinaan Kursus dan Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional (Ditjen PAUDNI Kemdiknas), Wartanto, mengatakan, mereka yang sudah bebas buta aksara tetapi kemudian kembali menjadi buta aksara karena kurangnya tindak lanjut pembinaan. Ia menjelaskan, misalnya mereka yang baru kenal aksara dasar tetapi karena di lingkungannya tidak dibimbing dengan baik, maka penggunaan bahasa Indonesianya menjadi menurun.

“Kembali menjadi buta aksara karena mereka lebih suka menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerahnya. Sama seperti kita yang mahir bahasa Inggris, jika tidak sering digunakan maka akan kembali lupa,” kata Wartanto.  elain itu, sambungnya, penyebab kembalinya menjadi buta aksara adalah karena terbatasnya sarana dan prasarana pembinaan. Karena pada umumnya mereka yang baru terbebas dari buta aksara sangat ingin melakukan kegiatan membaca dan menulis, tapi karena terbatasnya anggaran untuk memobilisasi itu semua pada akhirnya pembinaan jadi terbengkalai.

Untuk itu, lanjut Wartanto, pihaknya telah membuat berbagai program untuk menyiasati hal tersebut, seperti membuat buku atau buletin supaya masyarakat mempunyai bahan bacaan untuk meningkatkan dan mengenal aksara. Memberikan bantuan untuk membuat taman bacaan masyarakat (TBM) yang diharapkan agar masyarakat bisa meningkatkan kemampuan dasarnya. “Orang yang baru bisa membaca biasanya ingin membaca terus, tapi menjadi masalah karena sarananya terbatas, terlebih di daerah-daerah yang tergolong sulit. Itulah kenapa kami perlu dukungan masyarakat dan pemerintah daerah. Ini penting karena bebas dari buta aksara dapat berpengaruh untuk membangun lingkungan dan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Membangun masyarakat agar terbebas dari butaaksara tentu butuh perhatian khusus. Indonesia dengan negara kepulauan yang minim sarana pendidikan formal, tentu menjadi persoalan tersendiri. Pemerintah memang perlu, membebaskan masyarakat dari buta baca tulis, namun tidak lepas dari interfensi pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan serta memperluas kesejahteraan. Lewat berbagai kebijakan itu, diharapkan pemerintah menabur harapan bahwa Habis Gelap, (Pasti) Terbitlah Terang.

Dipublikasi di Fokus Utama | Tinggalkan komentar

Seniman ala Kampung Seni Nitiprayan

 

Kampung Seni Nitiprayan tumbuh subur di tengah-tengah tradisi berkesenian yang sangat kental di Yogyakarta. Kampung ini bisa dikatakan sebagai kampungnya para seniman. Anggapan ini tak berlebihan mengingat ada anekdot yang berlaku di Yogyakarta bahwa seseorang belum dikatakan seniman jika belum pernah tinggal di Kampung Nitiprayan.

Menurut seorang pengamat budaya Jawa, Raden Pangeran Adipati (RPA) Suryanto Sastroatmojo, asal-usul kampung Nitiprayan diduga berasal dari nama Ngabehi Nitipraya, seorang abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan sekaligus pimpinan sebuah pasukan kecil yang kemudian dipercaya sebagai “lurah” di daerah yang kini dikenal dengan Nitiprayan. Jabatan ini disandang oleh Ngabehi Nitipraya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang memerintah pada tahun 1877 – 1921.

Pada awalnya, kampung Nitiprayan tak ubahnya seperti kampung-kampung di wilayah Bantul, Yogyakarta. Hanya satu pembeda yang dimiliki oleh kampung Nitiprayan, yaitu banyaknya seniman yang tinggal di kampung ini. Perubahan itu terjadi ketika seorang perupa bernama Ong Hari Wahyu, yang telah tinggal di kampung Nitiprayan sejak tahun 1979, mempunyai gagasan untuk membuat kampung Nitiprayan sebagai panggung seni. Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang akrab disapa Ong ini, mencoba membuat sebuah terobosan baru dengan mempolarisasikan sebuah kampung yang sarat nuansa seni, mulai dari penduduk, lingkungan sekitar, sampai kegiatan keseharian.

Ong menilai bahwa kampung Nitiprayan memang cocok dijadikan sebagai panggung seni karena sejak zaman dulu kampung ini memang telah dikenal sebagai permukiman para seniman di Yogyakarta, baik yang indekost, mencari rumah, bahkan memperistri penduduk setempat. Beberapa seniman yang pernah bermukim di kampung ini antara lain seniman kethoprak seperti Karto Togen, Ngadimin Hadi Prabowo alias Darso, juga Atmo Sanyoto atau yang lebih dikenal sebagai Atmo Sipun (semua telah almarhum), almarhum pelawak Pak Bendhot Srimulat, beberapa perupa seperti Dadang Christanto, Entang Wiharso, Made Sukadana, Faisal, Budi Ubrux, Djoko Pekik, Made Sukadana, Kuss Indarto, Putu Sutawijaya, Ong Hari Wahyu, Hedi Hariyanto, Teguh Wiyatno, Gusti Ngurah Udiantara, Yogie Setyawan, praktisi multimedia Bambang J.P., teaterawan Heru Kesawamurti, Whani Darmawan, koreografer Lies Apriani, komunitas Rumah Panggung, aktivis LSM Toto Rahardjo, dan sederet nama lainnya.

Nuansa seni yang telah terlanjur melekat di kampung Nitiprayan coba diangkat oleh Ong dan kawan-kawan untuk membuat semacam panggung seni. Langkah awal yang dilakukan Ong dan beberapa seniman lainnya adalah mengajak para penduduk asli dan pendatang untuk membuat beberapa wadah kesenian, di antaranya Terbangklung (Terbang dan Angklung) dan karawitan.

Berkat kerja keras inilah, gagasan Ong untuk membuat panggung seni dengan media kampung akhirnya terealisasi. Kampung yang semula biasa saja kemudian disulap menjadi museum seni dengan dukungan para penduduk sekitarnya. Meminjam bahasa Kuss Indarto, seorang kurator seni rupa dan pemerhati sosial budaya, Ong dan kawan-kawan mencoba mengubah kampung Nitriprayan menjadi panggung, galeri sekaligus laboratorium kreatif. Jadilah nama Kampung Seni Nitriprayan sebagai sebuah panggung seni yang khas di Kabupaten Bantul.

Semangat kemandirian dalam mendirikan sebuah kampung seni terlihat sangat menonjol di Nitiprayan. Para seniman ini senantiasa mengajarkan kepada para penduduk sekitar untuk memanfaatkan barang-barang yang ada sebagai medium seni. Barang-barang tersebut misalnya daun atau barang bekas. Hal ini membentuk jiwa kemandirian dalam berkesenian yang mengikis sifat konsumtif.

Lewat kemandirian inilah Kampung Seni Nitiprayan justru mempunyai nilai khas tersendiri. Hal ini terbukti ketika menggelar acara Bambu Art tahun 2000-an yang dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Duta Besar Kanada. Para tamu penting ini tak disambut dengan karpet merah, kursi yang berukir ataupun minuman dalam botol. Mereka disambut dengan pakaian seadanya, makanan kampung seperti umbi-umbian atau kacang. Minuman pun hanya disajikan dalam bungkus plastik. Bahkan Dubes Kanada ini mengaku kaget, lantas melepas baju dan hanya memakai kaos dan ikut terjun ke sawah.

Pertahankan Tradisi

Meskipun berada tak jauh dari jantung Kota Yogyakarta (hanya berjarak sekitar 3 km arah barat daya Keraton Yogyakarta), Kampung Seni Nitripayan masih mempertahankan nilai-nilai tradisional meskipun semakin dihimpit oleh suasana modernitas dan nuansa kota besar. Nilai-nilai tradisional yang masih kental adalah rumah-rumah tradisional Jawa, terutama berjenis limasan yang bersahaja dengan berbagai variasinya, gotong-royong, dan unggah-ungguh/ tepo seliro (sopan-santun atau budaya saling menghormati), dan etika bertetangga.

Lewat semangat unggah-ungguh/ tepo seliro inilah beberapa kebiasaan yang dekat dengannya juga turut serta terbawa. Sebut saja budaya gotong-royong yang tetap bisa eksis dan dipertahankan oleh para penduduk di kampung ini.

Anggapan kampung seni bukan semata sebagai suatu jargon tetapi merupakan bukti nyata yang absah. Selain karena Nitriprayan terkenal dengan permukiman para seniman, julukan tersebut juga datang karena penduduk kampung Nitiprayan yang semula adalah penduduk biasa, diubah 180 derajat menjadi sebuah komunitas seniman. Segala lapisan masyarakat, baik penduduk asli maupun pendatang yang semula buta akan seni kini menjadi pelaku dan penggiat seni di Bantul, Yogyakarta. Beragam acara seperti festival seni dan gelaran kebudayaan kerapkali diadakan di kampung ini.

Kampung seni Nitiprayan tidak hanya menyuguhkan para seniman yang memang benar-benar mengabdikan diri di jalur seni, melainkan juga menampilkan kreatifitas berkesenian dari para penduduk biasa yang sebelumnya sangat buta akan seni. Mereka inilah yang kemudian diarahkan dan dibimbing oleh para seniman untuk masuk menjadi bagian dari sebuah masyarakat seni. Hal inilah yang menjadi nilai khas tersendiri di kampung Seni Nitiprayan, yaitu para penduduk yang ikut terlibat dalam dunia seni, meskipun mereka pada dasarnya bukan seniman.

Hasilnya adalah sebuah suguhan berkesenian secara jujur dari penduduk. Dengan memanfaatkan peralatan di sekitar permukiman, mereka ini mengekspresikan jiwa seni yang mereka punya.

Dipublikasi di Budaya | Tinggalkan komentar

Bangkit, Bersatu, dan Berhasil A la Kabupaten Donggala

 

Dengan kondisi geografis yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir, Kabupaten Donggala terus berbenah menuju pusat perniagaan yang maju.

Medio Agustus lalu, Kabupaten Donggala merayakan hari jadinya yang ke-59. Harapan dan do’a untuk kebaikan serta kemajuan kabupaten yang amat dicintai masyarakatnya ini pun bergulir. Begitu juga dengan serangkaian prestasi yang berhasil diraih kembali diingat-ingat.

Salah satunya adalah penghargaan Piala Adipura yang telah dua tahun berturut-turut diberikan pemerintah kepada Kabupaten yang dalam lambangnya bermotto: Roso, Risi, Rasa ini. Keberhasilan ini juga mencatatkan Donggala sebagai satu-satunya daerah di Provinsi Sulawesi Tengah yang sukses menggondol Adipura ke daerahnya sekaligus jadi kebanggaan semua masyarakatnya.

Torehan keberhasilan ini tentu tidak lepas dari peran serta masyarakat seperti yang diakui oleh orang nomor satu di Kabupaten Donggala yaitu Habir Ponulele. “Piala Adipura kami raih semua karena bantuan masyarakat juga. Kesadaran mereka akan budaya bersih sangat luar biasa,” demikian penuturan Habir kepada Komite di ruang kerjanya baru-baru ini.

Tumbuh suburnya budaya bersih dan kesadaran menjaga lingkungan nyatanya dimulai dari sekelompok masyarakat yang terhimpun dalam Pelopor Pemerhati Lingkungan Hidup (PPLH) “Nagaya.” Anggota kelompok ini—yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan pelopor—menyatukan visi dan misinya untuk mewujudkan Donggala sebagai daerah bersih dan hijau.

Semangat  kelompok “Pelopor” itu lalu menular hingga ke tingkatan rumah tangga. Para ibu yang sudah terbangun kesadaran akan kebersihan ini juga mencatat prestasi tersendiri. Program ‘komposting’ yang berasal dari sampah rumah tangga kemudian turut andil yang akhirnya meraih Adipura untuk kedua kalinya tahun 2010 lalu.

 

Pekerjaan Besar

 

Bupati Habir Ponulele dalam wawancaranya dengan Komite menyatakan, masih banyak prioritas pembangunan yang harus tercapai selama masa kepemimpinannya. Tekad menjadikan Donggala sebagai Kota Niaga diakuinya tidak hanya menjadi simbol tetapi juga wujud nyata untuk menarik para investor.

“Kami juga terus berusaha memberdayakan masyarakat di wilayah kami yang ada di kawasan pesisir. Angka kemiskinan yang ada di Donggala berhasil kami turunkan dari 30 persen kini hanya tinggal 17 persen saja,” kata Habir.

Dalam dua periode kepemimpinannya, Habir kerap meminta jajarannya untuk sadar berbagi dengan mereka yang tidak mampu lewat program zakat yang disisihkan dari gaji para PNS Kabupaten Donggala yang jumlahnya mencapai lima ribu orang itu.

Lebih jauh, prioritas pembangunan Kabupaten Donggala masih terus gencar diupayakan. Menurut Asisten II bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Donggala, Ma’mun Ledo, secara infrastruktur, pembangunan sudah berjalan dengan baik.

“Hanya memang listrik untuk masyarakat yang kami akui masih sangat kurang terutama mereka yang ada di kawasan pesisir,” kata Ma’mun. “Ke depan kami sudah berencana untuk memanfaatkan energi matahari sebagai tenaga listrik,” kata Ma’mun lagi.

Mengenai potensi sumber daya alam yang dimiliki Donggala, Ma’mun Ledo mengungkapkan bahwa daerahnya banyak menyimpan bahan galian jenis C. Kekayaan alam ini menjadikan Kabupaten Donggala sebagai pemasok utama bijih besi dan bebatuan lainnya ke pasaran di Pulau Kalimantan.

“Masyarakat daerah lain hanya tahu kalau batu atau bijih besi dijual di Kalimantan tentu digali di Kalimantan juga, padahal sebenarnya, bahan-bahan itu digali di Donggala ini,” kata Ma’mun lagi.

Selain itu, pembangunan bidang kesehatan juga dilaksanakan tidak kalah gencarnya. Prestasi bidang kesehatan yang paling menonjol adalah pelayanan Puskesmas Kabupaten Donggala meraih ISO 9001 mulai tahun 2008 dan sukses dipertahankan hingga kini.

“Tujuan ISO itu untuk melakukan pengembangan profesional yang up to date sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat pelayanan kesehatan yang lebih bermutu,” demikian penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Anita B Nurdin.

Pembinaan Total Quality Management (TQM), kata Anita, dijalankan menggunakan prinsip Gugus Kendali Mutu di beberapa Puskesmas yang ada. “Namun belum ada satupun Puskesmas yang dijadikan percontohan sehingga saat ini kami membangun Puskesmas Donggala untuk dijadikan percontohan Puskesmas yang melaksanakan pelayanan bermutu,”  kata Anita dalam siaran pers-nya.

Kesuksesan mempertahankan ISO 9001 itu akhirnya berujung pada penilaian dengan hasil ‘Amat Sangat Memuaskan’ untuk Puskesmas Donggala. Dengan penilaian ini Kabupaten Donggala berhak menerima Piala Citra Pelayanan Prima tahun 2010 lalu dari Presiden RI.

Kalau bidang kesehatan terus berbenah diri memperbaiki mutu layanannya, begitu juga dengan dinas pendidikan Kabupaten Donggala. Saat berbicara dengan Komite, Kadis Pendidikan Kabupaten Donggala, Taufik mengemukakan, layanan pendidikan dasar sembilan tahun akan dilaksanakan dalam ‘satu atap.’

“Kami akan membangun Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang berlokasi dalam satu kompleks. Jadi, kalau seorang siswa telah lulus SD, dia tidak perlu lagi mendaftar di sekolah lain karena memang SMP-nya sudah ada,” kata Taufik.

Taufik juga mengungkapkan kalau selama ini penyerapan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sudah diserap dengan baik di Kabupaten Donggala. Namun, Taufik mengakui juga kalau salah satu persoalan besar sekolah-sekolah di Kabupaten Donggala adalah masih kurangnya tenaga guru.

“Dinas pendidikan sejauh ini berupaya menarik minat para putra daerah terutama yang ada di kawasan terpencil atau pedalaman untuk direkrut menjadi guru. Kami juga memberikan beasiswa kepada para guru untuk belajar lagi demi meningkatkan mutu pendidikannya,” kata Taufik lagi.

Ada satu hal yang menjadi permintaan dinas pendidikan Kabupaten Donggala kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Nasional yaitu agar pusat tidak memukul rata batas belanja anggaran pendidikan antara daerah yang satu dengan yang lain. “Karena memang kondisi antara daerah yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Kalau sudah ada ketetapan baku dari pusat, kami yang di daerah tentu kesulitan membagi-bagi anggarannya,” kata Taufik.

Dipublikasi di Advertorial | Tinggalkan komentar

Liburan Seru di WBL

 

Ada kesan tersendiri jika berkunjung ke Wisata Bahari Lamongan. Hamparan pasir putih yang luas, rerimbunan pohon aren dan pohon kelapa di sepanjang bibir pantainya, membuat obyek wisata andalan lamongan ini cocok sebagai tempat berlibur dan melepas penat bersama keluarga.

Tanjung Kodok kini telah berubah wajah. Tempat yang dulunya boleh dibilang sepi dikunjungi wisatawan, sekarang telah berubah menjadi salah satu objek wisata andalan Jawa Timur. Sebuah kawasan wisata tahap awal seluas 17 hektar telah dibangun guna memenuhi kebutuhan sarana hiburan bagi keluarga Jawa Timur maupun dari seluruh wilayah Indonesia.

Kawasan wisata itu dikenal dengan nama Wisata Bahari Lamongan atau Jatim (Jawa Timur) Park II, yang merupakan “saudara kandung” dari Jatim Park I yang berlokasi di kota administratif Batu – Malang.

Wisatawan yang berkunjung ke lokasi WBL akan disuguhi panorama pepohonan rindang yang akan menambah suasana sejuk dan tenang ketika memasukinya. Pintu masuk WBL dibuat mirip benteng zaman kerajaan kuno. Benteng-benteng tersebut dibuat setinggi 10 meter sehingga tampak mengesankan. Agar tidak terlihat terlalu angker di depaa pintu masuk dibuat sebuah bangunan modern. Saat masuk pengunjung akan disambut dengan patung-patung kodok yang seolah-olah sedang memainkan alat musik. Keistimewaan WBL lainnya adalah potensi alamnya yang indah, hamparan pasir pantainya yang putih, gua, dan batu karangnya yang alami.

Kawasan wisata ini sepintas memiliki konsep tak jauh beda dengan Pantai Ancol – Jakarta. Berbagai sarana hiburan atau permainan tersedia dan bertebaran dilokasi ini. Aneka wisata yang tersedia diantaranya adalah: Banana Boat, Jetski, Permainan Air, Sarang Bajak Laut, Playground, Circuit Go Kart, Bumpers Boat,

Planet Kaca, Space Shuttle, Rumah Sakit Hantu, Goa Insectarium, Rumah Kucing, Galeri Kapal & Keong. Sebuah kolam renang yang cukup luas lengkap dengan permainan air tersedia juga disini siap menghibur pengunjung untuk berenang maupun sekedar bermain air. Pasir pantai yang berbutir halus dan berwarna putih kecoklatan juga bisa digunakan untuk berbagai permainan maupun olahraga pantai. Hal yang sangat beda dibandingkan Pantai Ancol – Jakarta adalah warna lautnya yang lebih biru, sungguh enak dipandang dan dinikmati.dari tepian pantai.

Hotel bintang tiga dengan kapasitas 50-60 kamar sudah tegak berdiri. Disamping itu, sebuah hotel dengan kapasitas 500 pengunjung dengan bentuk  barak penginapan dimana pengunjung bisa menginap lima sampai 15 orang sekaligus dalam satu kamar. Rata-rata pengunjung berasal dari daerah-daerah yang ada di Jawa Timur seperti Tulungagung, Nganjuk, Kediri dan Blitar. Pengunjung yang datang semakin berkembang dengan trend terakhir kunjungan wisatawan domestik berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakartasemakin meningkat. Tak sedikit kendaraan dengan plat nomor kendaaran mobil daerah Jawa Barat, (Jakarta, Bandung, Bogor) ikut memenuhi area parkir kawasan ini. Suatu hal yang membuktikan bahwa kawasan wisata ini telah semakin dikenal oleh pengunjung dari berbagai tempat di Indonesia.

Kurang lebih 200 meter dari objek Wisata Bahari Lamongan, terdapat pula objek gua alam yang cukup terkenal di Indonesia, yakni Gua Maharani. Rencananya objek wisata ini kelak akan disatukan dan menjadi bagian dari satu paket wisata bahari. Sebuah jaringan kereta gantung kelak akan menjadi sarana penghubung antar keduanya. Tentunya hal ini akan semakin menambah daya tarik dan keuntungan sendiri bagi pemerintah daerah setempat baik berupa pemasukan dalam bentuk uang, maupun lapangan kerja. Mengingat dari 380 pekerja yang ada 60 persen diantaranya adalah pemuda Lamongan lulusan SLTA dan perguruan tinggi.

Tanjung Kodok memang telah berubah, lokasi yang dulunya terkenal sebagai salah satu tempat melihat kemunculan bulan baru (hilal) sebagai penanda awal bulan Syawal – Lebaran Idul Fitri, kini telah bertambah lagi menjadi suatu kawasan yang memiliki berbagai fasilitas wisata. Sebuah tulisan dekat pintu masuk terpampang jelas berisi “Setiap tahun, kami menambah tiga fasilitas wisata baru”, nampaknya semakin menunjukkan bahwa objek wisata ini akan terus berkembang. Dan itu berarti karang batu yang meyerupai kodok (dasar penamaan lokasi ini – Tanjung Kodok), tidak lagi sendirian duduk ditepi pantai menghadap lautan lepas, karena tepat dibelakangnya, telah berdiri objek wisata terkemuka di Jawa Timur, Wisata Bahari Lamongan.

Daya tarik wisata bahari lamongan tidak hanya terletak pada fasilitas wisata yang lengkap dengan pemandangan lepas pantai Laut Jawa, namun juga pada nilai sejarahnya. Pada tahun 1936, tidak jauh dari lokasi, terdapat kapal penumpang Van Der Wijk tenggelam pada kedalaman sekitar 45 meter di pantai utara.

Dipublikasi di Jalan-jalan | Tinggalkan komentar

Manfaat Mengetahui Golongan Darah


 

Ketika orang bertanya, “Golongan darahnya apa?” Kemudian jawabannya bisa golongan darah A, B, AB atau O. Sebenarnya apa sih golongan darah dan perlunya kita mengetahui golongan darah kita?

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah.

 

Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai.

 

Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen.

 

Sistem ABO

 

Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor.

 

Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O.

 

Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi.

 

Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda.

 

Rhesus Faktor

 

Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan Cina.

 

Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D).

 

Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+).

 

Penting Untuk Transfusi

 

Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah.

 

Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner, pada 1907 sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York.

 

Berkat keahlian Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan. Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

 

Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor.

 

Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit.

 

Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas.

 

Penting untuk Suami Istri

 

Selain hemolisis, ada kelainan genetik lain yang juga mengintai ibu (serta bayi yang tengah dikandung, bila kasus terjadi pada wanita atau ibu hamil). Terutama jika ibu berdarah rhesus negatif sedangkan suami berdarah rhesus positif. Masalah ini biasanya terjadi pada perkawinan antar bangsa.

 

Secara genetik, rhesus positif dominan terhadap rhesus negatif. Anak dari pasangan beda rhesus punya kemungkinan 50-100% berrhesus positif. Kemungkinan berrhesus negatif hanya 0-50%. Artinya rhesus si anak lebih mungkin berbeda dengan si ibu.

 

Jika tidak cepat ditangani, perbedaan rhesus antara calon bayi dengan ibu ini akan menimbulkan masalah. Lewat plasenta, rhesus darah janin akan masuk ke peredaran darah si ibu. Selanjutnya ini akan menyebabkan tubuh si ibu memproduksi antirhesus. Lewat plasenta juga, antirhesus ini akan melakukan serangan balik ke dalam peredaran darah si calon bayi. Sel-sel darah merah si calon bayi akan dihancurkan.

 

Pada kehamilan permata, antirhesus mungkin hanya akan menyebabkan si bayi lahir kuning (karena proses pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan warna kuning pada kulit).

 

Tapi pada kehamilan kedua, problemnya bisa menjadi fatal jika anak kedua juga memiliki rhesus positif. Saat itu, kadar antirhesus ibu sedemikian tinggi, sehingga daya rusaknya terhadap sel darah merah bayi juga hebat. Ini bisa menyebabkan janin mengalami keguguran.

 

Jika sebelum hamil si ibu sudah mengetahui rhesus darahnya, masalah keguguran ini bisa dihindari. Sesudah melahirkan anak pertama, dan selama kehamilan berikutnya, dokter akan memberikan obat khusus untuk menetralkan antirhesus darah si ibu. Dengan terapi ini, anak kedua bisa diselamatkan.

 

Untuk alasan tersebut maka dianjurkan bagi pasangan yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah (premarital health checkup) dan bagi ibu yang ingin memiliki bayi dan atau yang telah dinyatakan positif hamil untuk segera memeriksa kesehatannya.

 

Namun, satu masalah yang tersisa adalah test laboratorium saat ini belum memungkinkan untuk melihat perbedaan dengan lebih jelas antara genotip (Rh+/Rh-) dan (Rh+/Rh+), karena keduanya menghasilkan Rhesus faktor yang sama yaitu Rh+.

 

Jadi, sudah tahu kan, bahwa golongan darah itu sangat penting untuk diketahui dan berguna untuk kehidupan. Ketahui golongan darah anda sekarang juga.

Dipublikasi di Iptek | 1 Komentar

Budaya Erau Kaya Warisan Budaya

 

Pesta adat Erau Kabupaten Kutai Kartanegara  sebagai momentum bagi kebangkitan dan kemajuan pariwisata, serta untuk kejayaan masyarakat Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.

“Festival Adat Erau memiliki makna yang sangat penting, tidak saja bagi masyarakat Kutai Kartanegara, tetapi Kalimantan Timur bahkan  Indonesia. Karena Erau berdimensi sangat luas, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan kebudayaan, adat istiadat, dan pariwisata di Kaltim,” kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, pada Pembukaan Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai 2011 di Stadion Madya Aji Imbut Tenggarong Seberang.

Oleh karenanya, pesta adat Erau Tepong Tawar sebagai suatu acara tradisi di Tanah Kutai harus dilestarikan dan  tetap menjadi adat yang  dipelihara  Keraton dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura serta dijalankan mayarakakat  dan  generasi sekarang hingga di masa yang akan datang.

Di era globalisasi ini, telah terjadi perubahan yang sangat berarti dalam kehidupan dalam bermasyarakat. Salah satunya, terganggunya tatanan adat dan budaya, terkikisnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang dapat menimbulkan ancaman desintegrasi bermasyarakat.

Maka, pesta adat  Erau ini memiliki arti yang penting  yang dapat merajut kepincangan menjadi keseimbangan, keterasingan menjadi kebersamaan, keretakan menjadi persatuan dan kesatuan, pergesekan dan pertikaian menjadi kerharmonisan dan kedamaian.

Selain itu, upacara Tepong Tawar dalam adat Kutai mengadung makna tolak bala, menghindarkan dari gangguan dengan doa-doa dan pengaharapan penuh kepada Tuhan, sehingga  menjauhkan dari segala yang merusak, menawar segala yang berbisa, menolak segala yang menganiaya, menepis segala yang berbahaya, menciptakan keteduhan, kedamaian dan kesejahteraan.

“Dengan Tepong Tawar terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpatri segala harap dan teruang segala kasih sayang. Semoga dengan Tepong Tawar ini, Tanah Kutai, Kaltim bahkan Indonesia  akan tertolak dari bala bencana, sehingga marwah atau kehormatan, jatidiri dan keagungan senantiasa kekal terjaga,” harap Awang Faroek.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur bersama Poetra Mahkota Kesultanan Kutai Ing Martadipura serta Bupati Rita Widyasari, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kaltim H Mukmin Faisal, Staf Ahli Presiden Felix V Wanggai dan Ketua Umum Panitia Erau Tepong Tawar Tanah Kutai 2011 untuk menyalakan Brong (obor terbuat dari batang pohon kelapa sebanyak tujuh batang).

Sebelumnya, Gubernur bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Aji Mohammad Salehuddin II mendirikan Ayu di Museum Kutai sebagai tanda di mulainya pesta adat Erau, disaksikan Poetra Mahkota dan para Raja-raja dan Sultan di Kaltim serta Nusantara.

Pembukaan Pesta Adat Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai 2011 dihadiri Staf Ahli Presiden Felix V Wanggai, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Pangeran Soeryo Adipati Adiningrat, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari dan jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kaltim, Raja-raja dan Sultan Bulungan, Paser dan Berau serta Raja Banjar Kalimantan Selatan dan Wakil Walikota Surabaya.

Erau tahun ini dirangkai dengan upacara Beluluh, Bepelas, Pertunjukan Seni Budaya, Ekspo dan Pasar Rakyat, Pameran Benda Pusaka, lomba Olahraga Tradisional, gelar Saprah, Fastival Kuliner 18 Kecamatan, upacara adat berbagai Etnis, Seminar Budaya hingga Upacara Mengulur Naga dan Belimbur.

Saat penutupan, Wakil Gubernur Kaltim H Farid Wadjdy mengatakan   Erau hendaknya dimaknai sebagai dimensi positif terkait pelestarian dan pengembangan kebudayaan, adat istiadat dan pariwisata.

“Erau harus dipandang sebagai dimensi yang luas terkait pelestarian dan pengembangan kebudayaan, adat istiadat dan pariwisata. Erau merupakan bagian khasanah kebudayaan Kaltim yang memberi andil sangat besar terhadap keragaman budaya nasional,” kata Farid Wadjdy.

Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai tidak saja menyajikan berbagai atraksi kesenian keratin, kesenian tradisional dan pertunjukan rakyat, tetapi hendaknya juga bisa dipakai sebagai media pengerat kebersamaan diantara keberagaman adat istiadat dan kebudayaan di sekitarnya.

Wagub berharap agar Erau bisa menjadi peredam dampak negatif globalisasi yang potensial menganggu tatanan adat dan budaya, yang juga mungkin akan berakibat pada pengikisan nilai persatuan dan kesatuan sehingga memunculkan ancaman disintegrasi bangsa.

“Erau harus mampu merajut kepincangan menjadi keseimbangan, keterasingan menjadi kebersamaan, keretakan menjadi persatuan dan kesatuan, pergesekan dan pertikaian menjadi keharmonisan dan kedamaian,” harap Farid Wadjdy yang dari kesultanan ini dianugerahi Gelar Raden Surya Natapraja.

Terkait pelaksanaan Erau dan dalam tujuan mendukung Tahun Kunjungan Wisata Kaltim, Farid Wadjdy mengatakan Pemprov meminta agar  evaluasi perlu dilakukan untuk mengkaji kendala selama pelaksanaan dan sejauh mana target yang diinginkan, sukses dicapai. Pemprov juga meminta agar Pemkab Kutai Kartanegara memberi perhatian serius bagi pengembangan sektor kepariwisataan di kabupaten ini.

Dipublikasi di Budaya | Tinggalkan komentar

Lawang Sewu, Ikon Jateng

 

Setelah lama ditutup untuk umum, Gedung Lawang Sewu yang berlokasi di bunderan Tugu Muda Semarang diresmikan sebagai ikon baru Jawa Tengah. Salah satu cagar budaya yang dibangun pada 1 Juni 1907 itu akan menjadi daerah tujuan wisata di jantung ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Gedung Lawang Sewu yang diresmikan Ibu Negara, Ani Bambang Yudhoyono, Selasa (5/7) lalu, menjadi pusat kerajinan Indonesia di Jateng. Bangunan yang sudah berusia satu abad ini, ke depannya juga akan menjadi obyek wisata.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, mengatakan usai dipugar cagar budaya ini harus mempunyai manfaat bagi kesejahteraan rakyat.

“Bangunan ini harus bermanfaat, selain manfaat kebangaan atas nilai sejarah yang tinggi,” ujarnya kepada wartawan.

Ia melanjutkan, selama ini sudah banyak turis yang datang ke Jateng dan masuk ke Semarang dengan menggunakan kapal pesiar. “Kami akan promosikan ke dunia Lawang Sewu sebagai destinasi baru,” jelasnya.

 

Di tempat serupa, Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api (Persero) Ella Ubaidi,  mengatakan pemilihan gedung Lawang Sewu sebagai pusat kriya (kerajinan) di Indonesia dan terutama di Jateng sangat tepat.

 

“Bangunan ini, pada saat pembangunannya sangat memperhatikan unsur kriya yang berdasarkan budaya Jawa dan perpaduan barat,” katanya.

 

Menurutnya, tiap sudut dan bagian Lawang Sewu merupakan hasil karya seni yang luar biasa indah. “Arsitek gedung ini mampu mengalturasikan budaya Jawa dan Barat, seperti bentuk atap kubah yang diadopsi dari barat dikombinasikan dengan limasan khas Jawa,” jelasnya sembari menunjukkan atap gedung.

 

“Selain kubah masih banyak lagi, ornamen-ornamen di gedung ini yang memadukan kedua budaya. Kaca patri yang di pasang di atas tangga lobi, di mana terdapat gambar dewi Fortuna dan Venus yang menggambarkan cinta dan keberuntungan ditambah dengan lukisan yang menggambarkan kemakmuran tanah Jawa dengan segala tanaman dan hewan, dipadukan dengan motif batik,” paparnya.

 

“Kegiatan peresmian berbarengan dengan pameran budaya dan pekan kuliner yang dilaksanakan tanggal 5-10 Juli 2011 yang dibuka Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono selaku Pembina Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas),” kata Ketua Panitia Penyelenggara, Okke Hatta Rajasa, dalam rilis yang diterima.

 

Menurut Okke, benda cagar budaya dilindungi Undang-Undang no 5 tahun 1992 direvisi UU no 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam undang-undang disebut, gedung yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini dapat dimanfaatkan selama tidak mengubah keasliannya dan sesuai fungsi awalnya.

Tujuan kegiatan ini adalah menjadikan Lawang Sewu sebagai ikon untuk mendukung pengembangan citra kota Semarang dan Indonesia. Diharapkan, gedung ini mampu membawa positif terhadap investasi, perdagangan dan pariwisata, mengoptimalkan Lawang Sewu untuk berbagai kegiatan kreatif yang bermanfaat dan sebagai daerah tujuan wisata.

 

Okke menegaskan, Lawang Sewu sebagai benda cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang ini perlu difungsikan. Maka gedung ini akan segera diresmikan agar dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat.

 

Menurutnya, gedung tua peninggalan Belanda ini bergaya art deco, penampilannya kokoh, eksotis, dan mencolok—dengan dua menara kembar menjulang, jendela tinggi dan besar yang berjajar, serta barisan pintu-pintu. Orang menyebutnya lawang sewu yang berarti seribu pintu meski nyatanya pintu yang ada tak sampai seribu.

 

Dibangun 1904 sampai 1907, awalnya gedung ini dipakai sebagai kantor jawatan kereta api Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Kemudian Jepang mengambil alih. Kemudian ruang bawah tanah gedung yang difungsikan sebagai saluran pembuangan air, sebagian diubah jadi penjara bawah tanah yang sarat cerita penyiksaan tahanan. Lawang Sewu juga jadi saksi sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang menewaskan ribuan jiwa di sekitar bangunan itu.

 

Setelah kemerdekaan ia berganti fungsi menjadi kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah militer (Kodam IV/Diponegoro) dan kantor wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah hingga tahun 1994. Setelah itu sempat beredar isu akan diubah menjadi hotel, Lawang Sewu malah kemudian dibiarkan kosong tak terurus.

 

Kemudian bukan cerita soal keindahan bangunan dan sejarahnya yang menonjol. Tapi justru keangkerannya. Kondisi gedung yang gelap, bocor di sana-sini, dan tak berpenghuni memancarkan aroma mistis.

 

Sekarang Lawang Sewu telah dibenahi, dipugar dan tak lagi dibiarkan kosong. Bahkan dijadikan pusat kerajinan Indonesia di Jawa Tengah.

Dipublikasi di Jalan-jalan | 2 Komentar