Mengatasi Masalah Limbah dengan Teknologi Plasma

 

Limbah menjadi persoalan besar negara ini. Tak terhitung lagi besarnya pencemaran lingkungan akibat limbah, baik yang berasal dari rumah tangga maupun industri. Masalah pencemaran lingkungan berupa limbah kian mengemuka dalam hidup manusia dewasa ini. Persoalan limbah akan terus menghantui kehidupan manusia jika kita tidak mampu mengolah dan mengelolanya dengan baik. 

Pesatnya pertumbuhan berbagai sektor industri di Indonesia memang meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negeri ini. Namun, industri juga membawa pengaruh buruk terhadap lingkungan. Pasalnya, industri-industri tersebut akan menghasilkan limbah dalam berbagai bentuk,  termasuk limbah cair. Limbah cair, baik yang bersumber dari  rumah tangga, rumah sakit, maupun industri, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan. Limbah cair pada umumnya mengandung biochemical oxygen demand (BOD), partikel tercampur, dan organisme patogen yang berbahaya bagi lingkungan.

 

Untunglah, peneliti seperti Anto Tri Sugiharto (37) periset LIPI mampu memberikan alternatif solusi baru dalam mengelola dan mengolah limbah, khususnya limbah cair. Lewat penemuannya tentang alat pengolah limbah berbasis teknologi plasma, masalah limbah cair kini mulai bisa diatasi. Dengan alat ini, berbagai partikel baik organik maupun kimia mampu terurai dan menghasilkan air bersih yang bisa diterima oleh lingkungan. Bahkan, air tersebut dapat digunakan sebagai air daur ulang oleh industri yang memanfaatkan alat ini.

 

Teknologi Plasma

 

Anto Tri Sugiharto bisa dibilang sebagai pelopor dari penelitian penerapan teknologi plasma cair di Indonesia. Riset mengenai penerapan teknologi plasma yang ada selama ini masih terbatas pada plasma gas dan padat. Anto melakukan riset mengenai penggunaan teknologi plasma cair sejak 1998, tepatnya ketika ia masih menuntut ilmu untuk tingkat doktor di bidang biokimia di GunmaUniversity, Jepang.

 

Saat itu, berbagai penelitian mengenai teknologi plasma untuk lingkungan, khususnya pencemaran udara, marak dilakukan di Jepang. Anto pun berinisiatif  melakukan riset mengenai plasma lingkungan untuk pencemaran air. “Kemudian kami punya ide untuk mengembangkan riset mengenai pencemaran air,” ungkap Anto. Selama kurun waktu lima tahun, Anto mengadakan riset seputar teknologi yang akan digunakan untuk mengatasi pencemaran air. Sepulangnya dari Jepang, 2003, Anto mendapatkan dana Program Insentif Kementerian Riset dan Teknologi – Katalis Teknologi sebesar Rp120 juta. Dana tersebut direalisasikan menjadi sebuah alat pengolah limbah cair berbasis plasma.

 

Konsep dasarnya adalah memanfaatkan teknologi advanced oxidation process, atau proses oksidasi lanjutan, yang mengombinasikan teknologi plasma dari radiasi sinar ultraviolet, ozon, dan plasma. Dalam reaktor plasma yang disebut reaktor ozonized water, terjadi proses pelarutan gas ozon dalam air. Gas ozon memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri serta mengurai bakteri. Hasilnya? Selain air menjadi jernih, semua polutan yang terkandung dalam air limbah akan terurai bebas endapan.

 

Cara kerjanya adalah sebagai berikut. Air limbah yang akan diolah diserap melalui pompa air yang terpasang di luar alat. Selanjutnya, air limbah tersebut akan terserap dan kemudian masuk ke dalam reaktor plasma. Dalam reaktor plasma ini terdapat dua jalur aliran, yaitu jalur aliran gas dan aliran air. Untuk proses pengolahan ini, dibutuhkan aliran gas oksigen sehingga air akan terionisasi dan akan menghasilkan radikal bebas. Ion radikal inilah yang akan menguraikan polutan yang terkandung dalam air limbah.

Untuk konsumsi rumah tangga ataupun industri skala kecil, cukup dibutuhkan alat pengolah limbah yang lebih ringkas. Untuk segmen ini, air limbah cukup diolah dengan satu tabung pengolah reaktor plasma, tanpa perlu proses pengendapan dan tanpa melalui tabung filter karbon. Adapun untuk industri besar atau industri yang menghasilkan limbah dengan kandungan polutan organik tinggi, alat pengolahnya perlu proses yang lebih panjang dan mungkin juga ukuran alat yang lebih besar. Air limbah masuk ke dalam tabung reaktor plasma dan setelah itu air akan mengalir ke tabung pengendapan. Tabung pengendapan ini berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan polutan yang berbahan logam atau non-organik. Tahap selanjutnya, apabila dalam limbah  terkandung gas tertentu, gas tersebut akan dikeluarkan melalui exhausting fan yang prinsip kerjanya mirip dengan cerobong asap. Dan, tahap terakhir adalah air masuk ke dalam tabung filter. Setelah itu, barulah hasil daur ulang air limbah tersebut bisa dibuang lagi ke sungai ataupun digunakan lagi untuk proses produksi industri tersebut selanjutnya. “Sebenarnya sangat simpel dan mudah sekali dalam pengoperasiannya,” jelas Anto.

 

Sterilisasi Sayur dan Buah

 

Aplikasi teknologi ozonized water ini bisa untuk berbagai kepentingan, tidak hanya untuk pengolah limbah cair dirumah tangga, industri, ataupun rumah sakit saja.  Teknologi ini juga bisa diaplikasikan untuk mencuci buah dan sayuran, sterilisasi peralatan medis, sterilisasi peralatan industri, dan sebagainya.

 

Kini Anto tengah mengembangkan teknologi air berozon untuk sterilisasi buah dan sayuran. Bedanya, untuk aplikasi ini digunakan metode pelarutan langsung. Teknologi ini mampu membunuh virus, bakteri, serta menghilangkan berbagai bahan kimia atau pestisida yang menempel pada buah dan sayur-sayuran. Hasilnya, sayur-mayur dan buah-buahan menjadi lebih segar dan tahan lama.

 

Saat ini beberapa korporasi besar telah menjadi klien produk pengolah limbah cair temuan Anto. Sebuah perusahaan kilang minyak asal Amerika Serikat pun menyewa peralatan pengolah limbah karya Anto. Peralatan itu ditempatkan di tiga kilang minyak milik perusahaan tersebut. Kapasitas untuk perusahaan minyak ini mencapai 1.000 barel per hari. Sayangnya, Anto enggan mengungkapkan besaran harga sewanya. “Yang pasti, perhitungannya dalam dolar AS per barel,” katanya. Beberapa pusat perbelanjaan terkenal di Indonesia juga telah memanfaatkan alat pengolah air limbah dan penghasil water re-use kreasi Anto untuk memenuhi kebutuhan air di gedungnya. Anto tidak hanya melayani korporasi besar saja, tetapi juga industri berskala UMKM, seperti industri tekstil di Bali.

 

Anto pun optimistis dengan prospek bisnis dari produknya mengingat besarnya produksi limbah baik dari rumah tangga, rumah sakit, maupun industri. Ke depan, pria kelahiran Yogyakarta ini pun telah menyiapkan sejumlah rencana. “Saya berharap dapat menemukan teknologi plasma untuk limbah logam,” tandasnya. Tepatnya, dengan memisahkan dan menguraikan limbah padat industri yang menghasilkan logam kobalt. Anto berharap upaya penemuan terbarunya ini makin mampu mengurangi limbah yang menjadi masalah besar di Indonesia.

 

( Diolah Dari Berbagai Sumber )

About these ads

Tentang majalahkomite

Menuju Masyarakat Mandiri
Tulisan ini dipublikasikan di Iptek. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengatasi Masalah Limbah dengan Teknologi Plasma

  1. Parjoko M berkata:

    Menarik teknologinya, tetapi sayang nggak ada analisis mengenai harga dan biaya operasionalnya terutama untuk membeli oksigen.

  2. aminudin berkata:

    saya ada client yang butuh teknologi plasma. DImana saya bisa beli?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s